Gerilya Kebun Sayur

Mungkin ini yang sebaiknya dilakukan oleh penggiat urban farming: Gerilya Kebun Sayur.

Ron Finley

Ron Finley berbagi dalam TED Talks mengenai gerilya yang dilakukan di Los Angeles, United States. Dia menanam sayur, pertama di halaman depan rumahnya, yang lalu menyebar ke tanah2 kosong sekitar. Tanaman ini tidak memiliki pagar, sehingga siapa saja bisa mengambil sayuran yang siap panen.

Kenapa tidak diberi tembok? “Because this is like a pay-it-forward thing! The whole purpose of it is to provide real food in a food dessert.”

Dan bagaimana Ron mendapatkan bantuan sukarela? Dengan membuat berkebun sebagai sesuatu yang cool, happening, some kind like gangster things. Watch in in his video below.

Nginep Di Sentul? Ya Lari Pagi Dong

Dengan udara pegunungan yang dingin dan bersih, Sentul memang punya daya tarik sendiri sebagai tujuan untuk sepedaan di hari minggu, atau lari pagi. Tapi, kalau disuruh nyetir dari Jakarta, rasanya kok daya tariknya jadi berkurang ya. Apalagi kalau setelah lari atau sepedaan masih harus nyetir pulang. Beban.

Beda ceritanya kalau lagi menginap di Sentul. Meskipun bangun kesiangan seperti beberapa minggu yang lalu, rasanya sayang kalau kesempatan lari pagi di pegunungan dilewatkan begitu saja.

Not at Car Free Day

Matahari sudah tinggi, namun udara masih cukup dingin pada jam 6:30, ketika saya keluar dari hotel memasuki Jalan Jend. Sudirman. Meskipun memiliki nama sama, Jalan Jend. Sudirman di Sentul tidak seramai Car Free Day di Jakarta. Terlihat beberapa orang sedang olah raga jalan kaki, lari, dan sebagian lainnya hanya bercengkrama di atas motor mereka. Di sebuah jembatan darurat, Pak Ogah dengan sigap membantu motor-motor yang lalu lalang.

Morning at the Factory

Dari Jalan Jend. Sudirman rute lari memasuki jalan raya Sentul. Lalu lintas kendaraan bermotor masih sepi. Sesekali beberapa sepeda dalam formasi peloton melewati saya sambil menyapa. Ada juga yang hanya sekedar lewat. Hanya sekali saya menyalip sebuah sepeda. Si pengendara sedang duduk di atas rumput sambil makan. “Selamat pagi”, sapa saya. Beberapa ratus meter kemudian, sepeda tersebut kembali melewati saya sambil menyapa, “Mari Pak”. Saya hanya mengangkat tangan.

Downhill

Tidak lama kemudian, Jalan Raya Sentul mulai menunjukkan tantangan di balik rute lari yang bagus: Tanjakan dan turunan. Tanjakan dan turunan menjdai momok bagi yang sedang mengejar jarak dan kecepatan, tetapi justru dicari oleh yang sedang berlatih untuk marathon atau trail. Untungnya udara yang segar dan pohon yang teduh membuat tanjakan dan turunan ini menjadi tidak terasa berat. Ditambah lagi view gunung di kejauhan, ikut membantu mengalihkan perhatian ke nafas yang semakin pendek.

Mountain View

Setelah melewati gerbang utama perumahan Sentul City, elevasi tanjakan semakin curam. Saya berhenti sejenak di dekat sebuah papan petunjuk untuk mengambil nafas dan memastikan waktu. Karena sudah cukup siang dan mulai panas, saya memutuskan untuk kembali ke hotel. Jarak menunjukkan 4.1 km, sehingga total jarak tempuh akan sekitar 8 km. Not too bad.

Through the Empty Road

Sampai di persimpangan Jalan Sudirman menuju hotel, terlihat kalau pintu masuk tol tidak terlalu jauh. Saya pun memutuskan untuk melanjutkan sedikit ke arah tol.

Can Runners Enter?

Tidak ada larangan memang untuk masuk ke jalan tol untuk pelari, asal jangan bawa gerobak. Tapi tidak ada tarif tol yang tercantum di pintu tol. Jadi ya sudah, saya kembali ke Jalan Sudirman dan hotel tempat saya menginap. Detour ke jalan tol ini menambah jarak temput total menjadi hampir 9 km. Untuk rute-nya bisa di lihat di tautan ini.

Panen Pak Choy Pertama

Kemaren siang kami baru saja panen sayur Pak Choy dari kebun sayur di teras rumah. Ini adalah panen pertama dari hidroponik di pipa PVC, menggunakan sistem DFT dan pompa tenaga surya.

Pak Choy Fresh From Garden
Panen Pak Choy tanggal 20 Agustus 2016

Tanaman Pak Choy yang di panen ini berusia kurang lebih 40 hari. Biji Pak Choy langsung di tanam di media Rockwool, dan setelah berdaun 4 baru dipindahkan ke dalam aliran Hidroponik. Selanjutnya hanya tinggal memastikan cairan hidroponik tidak kering. Apabila kering maka perlu ditambahkan air dan cairan nutrisi dengan kepekatan yang pas.

Bibit Pak Choy
Benih Pak Choy tanggal 12 July 2016, siap dipindah ke sistem hidroponik

Sistem Hidroponik tidak menggunakan tanah sebagai media tanam, sehingga terlihat lebih bersih, baik dari penampakan tanaman maupun dari proses menanam. Tidak perlu berkotor-kotor ketika menanam. Selain itu, dengan mengalirkan nutrisi yang dibutuhkan ke akar tanaman, maka tanaman tidak perlu menumbuhkan akar yang panjang. Tanaman pun memiliki nutrisi lebih banyak untuk menumbuhkan daun atau buah.

Akar Pak Choy Hidroponik Lebih Dekat
Akar lebih pendek dan bersih dengan sistem hidroponik

Setelah di panen, lalu ditimbang untuk tahu kira-kira beratnya berapa. Satu batang Pak Choy beratnya 68 gram. Satu pack sayur hidroponik yang dijual di supermarket beratnya kurang lebih 250 gram. Artinya, perlu 4 batang Pak Choy untuk 1 pack sayur Hidroponik di supermarket.

Pack Choy Hidroponik di Timbang

Tapi ya berhubung bukan untuk dijual, jadi langsung dibersihkan saja di dapur, dipotong-potong, dan ditumis. Rasanya? Lebih garing daripada sayur dari supermarket.

Selamat mencoba. Oh ya, Pak Choy ini ditanam bersama sayur-sayur lainnya di taman hidroponik yang berukuran 1×1 meter. Cukup praktis untuk diletakkan di teras rumah atau apartemen. Jadi tidak ada alasan untuk tidak mencoba bukan?

Lari di Benteng Keraton Yogyakarta

Sudah beberapa kali berkunjung ke kota Yogyakarta, setiap kali ke sini selalu berkesempatan untuk melalui daerah didalam Benteng Keraton Yogyakarta. Benteng ini memiliki nama asli Benteng Baluwerti, artinya jatuhnya peluru laksana hujan. Setiap kali melalui bagian dalam atau luar benteng selalu penasaran akan luasnya daerah dalam benteng Baluwerti. Dan akhirnya, ketika kembali ke Yogyakarta bulan Juni yang lalu, saya dapat kesempatan untuk jalan kaki didalam daerah benteng, atau lebih tepatnya lari pagi.

Through the Outer Wall
Di bawah gerbang selatan Benteng Baluwerti (Plengkung Gadhing)

Benteng Baluwerti Keraton Yogyakarta memiliki luas kurang lebih 1 kilometer persegi. Kalau dibandingkan Forbidden City, kompleks kerajaan China di Beijing, Benteng Baluwerti sedikit lebih luas. Benteng Baluwerti memiliki 5 gapura sebagai jalan keluar-masuk, dan 1 buah pintu utama di sisi utara yang berhubungan langsung ke keraton. Dari 5 gapura, hanya tinggal 2 yang utuh. Saya masuk melalui salah satu gapura yang utuh di sisi selatan, yaitu Plengkung Gadhing.

The outer wall today
Berlari di atas Benteng Baluwerti

Setelah melalui Plengkung Gadhing, ada tangga naik ke atas dinding Benteng. Dinding Selatan Benten Baluwerti, merupakan satu-satunya dinding Benteng yang masih utuh. Lebar dinding bagian atas sekitar 4 meter, cukup untuk prajurit dan kereta kuda lalu lalang untuk menghadapi serangan musuh. “Dulu para prajurit tinggal di atas dinding benteng ini, untk menghadapi musuh dari sebelah kanan”, kata seorang bapak dengan logat jawa yang kental.

Dinding benteng Baluwerti sebelah timur ini diakhiri dengan sebuah pojok pengintaian. Ada 4 pojok pengintaian, masing-masing di pjokan Benteng Baluwerti, saat ini tinggal tersisa 3. Selain digunakan untuk pengintaian sesuai namanya, di bagian bawah juga digunakan sebagai gudang.

Selesai dari pojok pengintaian timur, lari dilanjutkan melalui jalan-jalan di dalam kompleks didalam benteng. Komplek ini dulunya adalah tempat tinggal dari keluarga Sultan, Abdi Dalem, prajurit, dan karyawan-karyawan kerjaan. Saat ini daerah tersebut sudah berubah menjadi seperti perumahan biasa.

Inside the wall - Housing
Kampung Siliran, yang dulunya tempat tinggal Abdi Dalem yang bertanggungjawab atas lampu untuk penerangan Benteng Baluwerti

Di beberapa tempat, dinding-dinding yang memisahkan area dalam Benteng Baluwerti masih terlihat. Dinding ini memisahkan area dengan peruntukan yang berbeda di masa lampau. Seperti ketika saya menyusuri Jalan Taman di foto berikut, dibalik dinding sebelah kiri adalah Taman Sari, tempat rekreasi keluarga kerajaan. Dibalik dinding sebelah kanan adalah wilayah Ngadisuryan, tempat domisili Pangeran Hadi Suryo, Putra Sultan Hamengkubuwono VII. Yang menarik dari lari sepanjang dinding-dinding dalam Keraton? Tidak ada coret-coretan sama sekali.

Big Walled Road
Dinding pemisah antar kmapung dalam Benteng Baluwerti

Dari sini saya belok ke jalan yang saya sebut Jalan Dagadu. Kenapa begitu? Karena sepanjang jalan ini penuh dengan toko yang namanya pasti mengandung kata Dagadu, sebuah merk kaos terkenal dari Yogyakarta. Ada Jocker Dagadu, Jornal Dagadu, dan lain-lain. Yang mana yang asli, saya tidak tahu. Mungkin saja semuanya asli.

Dagadu Road
Jalan Dagadu

Dan diujung jalan Dagadu saya tiba ke bangunan utama dalam Benteng Baluwerti, yaitu Keraton Yogyakarta, tempat tinggal Sultan, dan pusat pemerintahan Yogyakarta. Hari masih pagi, dan pintu utama Keraton pun masih tutup. Halaman yang biasanya dipenuhi turis masih terlihat lengang.

In front of the Palace
Mendekati kompleks Keraton. Lambang di atas jam adalah lambang dinasti Hamengkubuwono, Sultan saat ini.

Selain Jalan Dagadu, ada juga yang saya sebut Jalan Gudeg. Nama asli jalan ini adalah Jalan Wijilan. Hampir setiap bangunan di jalan ini adalah rumah makan Gudeg, makanan khas Yogyakarta. Beberapa sudah terkenal, beberapa masih jarang terdengar. Yang mana yang enak ya sesuai selera.

The Gudeg Street
Jalan Wijilan, atau lebih dikenal dengan Jalan Gudeg

Tidak jauh dari Jalan Wijilan, lari pagi membawa saya sampai ke Alun-alun Utara. Imajinasi saya, Alun-alun utara ini adalah tempat Sultan melakukan pertemuan besar dengan rakyat atau tempat upacara kerajaan. Hingga saat ini Alun-alun Utara masih menjadi tempat acara Sekaten.

The North Quarter
Alun-alun Utara (Lor). bangunan beratap merah di sebelah kiri adalah Balairung Utara Keraton Yogyakarta

Matahari sudah sangat terik ketika saya mengarah balik ke Jalan Prawirotaman dan Alun-alun Utara, melewati Pintu Barat Benteng Baluwerti (Plengkung Jagabaya). Berbeda dengan Pintu Selatan, Plengkung Jagabaya sudah hancur dan dibangun ulang menjadi sebuah Gapura. Tidak ada dinding yang berdisi disekitar Plengkung Jagabaya

Jagabaya Gate
Pintu Barat Benteng Baluwerti (Plengkung Jagabaya)

Lari di dalam Benteng Baluwerti memang mengasikkan, sambil belajar sejarah Keraton Yogyakarta. Dari rencana lari sejauh 5km, saya akhirnya berlari hampir 10km, karena tenggelam dalam imajinasi. Imajinasi bagaimana suasana Benteng Baluwerti ini di masa lampau, dan transformasi menjadi ikon Kota Yogyakarta.

Foto-foto bisa dilihat di tautan Flickr ini.

TEDx Talk: Pop Up Farm in Zurich

Seorang Urban Farmers berbagi cerita di atas panggung TEDx. Kalau lihat foto-fotonya, bagus-bagus, dan kreatif. Seperti urban farm di atas Manhattan, New York atau juga ada yang bikin urban farming di truk bak terbuka.

Tapi yang terpikir selanjutnya, sepertinya apa yang dilakukan Roman Gaus bisa juga dilakukan di Jakarta. Banyak gedung-gedung kosong yang bisa disulap menjadi restoran, lalu bagian atapnya disulap menjadi urban farm untuk restoran tersebut?

Ada yang berminat untuk kolaborasi?