91 Hari Meditasi

Hari ini tepat 91 hari saya melakukan meditasi harian secara berturut-turut. Kurang lebih 3 bulan, tanpa jeda, saya melakukan meditasi setiap hari, meskipun sedang dalam perjalanan, dalam kondisi pekerjaan yang sibuk, dan ketika ada anggota keluarga yang dirawat di rumah sakit.

Photo by Peter Hershey from Unsplash

Lalu, apa manfaat yang saya dapatkan dari latihan meditasi rutin?

Beberapa hari yang lalu, Grace bercerita tentang seorang teman, yang pernah ikut latihan meditasi. Grace bercerita tentang praktisi meditasi tingkat lanjut dengan menggunakan analogi sebuah kaca. “Seperti kaca, transparan terhadap cahaya. Kalau ada sesuatu kejadian, misalnya mbilnya disalip di jalan, dia hanya menarik nafas tanpa ngomel.”

Tentu saja, dalam hanya 91 hari, saya belum mencapai tahap “seperti kaca” tersebut. Tapi jelas terasa bahwa emosi menjadi cukup stabil. Terkadang saya masih menggunakan suara tinggi dalam beberapa meeting di kantor. Tapi sebagian besar adalah nada tinggi yang terkontrol, dengan suatu tujuan. Atau di jalan, beberapa kali berhasil menarik nafas panjang saya ketika disalip dari belakang. Atau ketika anak terlambat bangun untuk sekolah, saya hanya mengambil nafas dan memnutuskan kalau dia tidak usah sekolah. Tentu, dia masih mendapat sedikit tindakan disiplin.

Untuk merayakannya, saya memulai kolom #meditasi di blog ini. Niat selanjutnya adalah untuk melanjutkan latihan meditasi harian ini hingga 1 tahun, 365 hari. Semoga suatu saat saya bisa mencapai kondisi “seperti kaca”, transparan, dan tenang.

Antrian Paspor Kantor Imigrasi BSD

Sejak system paspor online tidak bisa diakses dari awal Januari 2017 yang lalu, antrian paspor di semua kantor imigrasi jadi membludak. Menurut beberapa orang, antrian di beberapa kantor imigrasi bahkan mulai dari jam 1-2 pagi. Berhubung saya tidak tahu jam berapa antrian di kantor imigrasi BSD dimulai, saya datang jam 6:30 pagi.

BSD Immigration Office

Kantor imigrasi BSD setiap harinya memiliki kapasitas 150 paspor. Antrian paspor ditulis pada selembar kertas putih, yang ditempel di papan pengumuman kantor imigrasi. Tidak ada logo imigrasi, atau logo lainnya. Serpertinya ini memang inisiatif dari warga sekitar yang mengurus paspor di kantor imigrasi BSD. Pada jam 6:30 saya datang, antrian sudah mencapai nomor 220.

Tidak ada yang tahu jam berapa kertas tersebut ditempel. “Sektiar jam 3-4 kali ya”, salah satu pendaftar berspekulasi. Yang jelas, petugas imigrasi memanggil pendaftar sesuai dengan urutan yang tertulis di kertas. “Satu paspor satu nama ya”, kata petugas imigrasi melalui pengeras suara. Maksudnya, kalau ada yang mau mengurus 2 paspor, masing-masing harus menulis namanya di kertas tersebut.

Petugas imigrasi memanggil 40 nama pertama. Karena ada 2 nama yang dipanggil 3 kali dan tidak ada orangnya, maka petugas imigrasi melanjutkan hingga nomor 42. Apabila saya akan mendapatkan giliran hari itu, harus ada 70 orang yang namanya dipanggil dan tidak ada. Rasanya tidak mungkin. Akhirnya saya putuskan untuk pulang dan kembali besok hari dengan jam yang lebih awal.

Hari berikutnya saya datang jam 5 pagi ke kantor imigrasi BSD. Hari masih gelap, dan pintu parkir yang dibuka adalah yang dibelakang, sebelah pom bensin.

Samapi di depan kantor imigrasi, ada 2 orang yang sedang duduk-duduk di depan papan pengumuman. Kertas putih antrian sudah terpasang, dan satu orang baru saja selesai menuliskan namanya. Ketika saya menuliskan nama, saya mendapatkan urutan ke 36.

Queue Number

Saya sempat pulang dulu karena tempat tinggal yang cukup dekat. Sekitar 7:40, saya kembali, tepat ketika petugas imigrasi mulai memanggil pendaftar urutan pertama. Dan sekitar jam 8, saya sudah masuk ke dalam kantor imigrasi untuk melanjutkan proses selanjutnya.

Hari itu saya menghabiskan waktu hampir pukul 12 hingga selesai pemeriksaan berkas dan wawancara, pengambilan foto dan sidik jari. Selanjutnya hanya tinggal membayar di bank, dan paspor bisa diambil 4 hari kerja setelah pembayaran.

Untuk pengambilan paspor sendiri tidak perlu mengambil nomor antrian.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Apabila akan mengurus 2 paspor, misalnya untuk anda sendiri dan anak anda, pastikan kedua nama ditulis di kertas antrian.
  2. Pastikan semua berkas sudah di fotokopi sesuai kebutuhan kantor imigrasi, karena di sekitar kantor imigrasi BSD di pagi hari tidak ada tempat fotokopi
  3. Apabila membutuhkan materai, bisa dibeli di minimarket 24 jam di sekitar kantor imigrasi
  4. Apabila memutuskan untuk pulang dan kembali lagi, pastikan jangan sampai terlewat. Apabila terlewat, maka harus kembali lagi besok pagi untuk menulis nama di kertas putih antrian
  5. Menurut beberapa orang, ada sekitar 10-20 orang yang biasanya tidak hadir pada saat namanya dipanggil. Ini artinya apabila nomor antrian di kertas putih di 160, ada kemungkinan anda masih bisa mengurus paspor di hari tersebut

Untuk informasi atau pertanyaan bisa menghubungi:

  • Website: http://www.tangerang.imigrasi.go.id
  • Email: [email protected]
  • Twitter: @kanimtangerang
  • SMS: 08118119000
  • Hotline: 02155732581

Glamorous Camping (Glamping) di Tanakita, Situgunung, Sukabumi

Sejujurnya, saya tidak pernah suka dengan yang namanya kemping. Cukup malas rasanya dengan kerepotan mendirikan tenda, menyiapkan makanan, dan terutama, mandi dan buang hajat dengan toilet seadanya. Oleh karena itu, ketika anak kami mengajak kemping, saya masih dengan berat hati setuju dengan 1 syarat: kemping ala priyayi, atau lebih dikenal dengan Glamping.

Glamping, singkatan dari Glamorous Camping, adalah cara baru untuk menikmati kemping di alam terbuka, tapi dengan fasilitas hotel. Dalam bayangan saya, tidur tetap di dalam tenda, tapi tanpa perlu mendirikan tenda. Makanan pun sudah ada yang memasak, dan kamar mandi pun cukup bersih. Dan pengalaman itu yang ditawarkan oleh perkemahan Tanakita di Situgunung, Sukabumi.

Tanakita Campsite
Tenda-tenda perkemahan di Tanakita, Sukabumi

Ketika kami sampai sekitar jam 3 sore, tenda-tenda berwarna hijau sudah berjejer rapi di lapangan perkemahan. Terdapat 3 areal perkemahan yang berdekatan satu sama lain. Kami memilih di areal tengah, karena dekat dengan kamar mandi. Saya melihat sejenak ke dalam tenda, ke dalam ruang beralaskan palet plastik. Di sebelah kiri di dalam tenda terdapat ruang tidur yang dipisahkan oleh partisi kain. Setiap tenda juga dilengkapi lampu dan stopkontak listrik.

Tidak lama kemudian, suara lonceng berbunyi, memanggil semua peserta untuk naik ke atas, dan menikmati snack sore. Beragam snack disediakan, antara lain tahu goreng, singkong goreng, klepon, pisang goreng, combro, dll. Jumlah snack yang disediakan sangat cukup untuk semua pengunjung.

Woodfire Coffee
Kopi dan teh tersedia di area self-service, selama 24 jam. Air di dalam panci dipanaskan dengan menggunakan arang

Di antara snack terdapat sebuah tungku arang dengan pemasak air di atasnya. “Kopi dan teh tersedia selama 24 jam”, menurut staff Tanakita. Dan pemasak air tersebut menyediakan air mendidih dengan sumber panas dari arang, yang menurut Grace, panasnya lebih tahan lama.

Evening Snacks
Snack sore berupa singkong gorengdan tahu. Beberapa saat kemudian juga disediakan klepon, combro, dan pisang goreng.

Kami memutuskan untuk tidak ikut hiking sore ke Danau Situgunung. Pertama, karena anak kami Ethan lebih senang main di tenda, atau berlari di tengah lapangan terbuka bersama anak-anak lainnya yang memang banyak berkemah di Tanakita. Alasan kedua juga karena saya lebih ingin menikmati kopi di sore hari, dengan cuaca yang cukup dingin, sambil duduk-duduk di teras area kemping.

Malam Api Unggun

Di balik bangunan kantor, terlihat ada kilatan api yang menyala. Para staff Tanakita sedang mempersiapkan api unggun dengan menyalakan kayu bakar di dalam sebuah kuali besar. “Api unggun kami bisa dipindah-pindah”, kata salah satu staff Tanakita. Beberapa saat kemudian, saat hari mulai gelap, terlihat beberapa staff membawa kuali besar dengan api unggun di dalamnya, beserta kaki penyangga, ke tanah lapang depan kantor.

Pada saat hampir bersamaan, lonceng tanda makan malam telah siap berbunyi. Hidangan nasi dan ayam bakar, tempe, dan ikan gurame terasa nikmat di cuaca dingin kaki gunung Gede, meskipun kami sebenarnya baru saja menghabiskan snack sore.

Dinner is Served
Makan malam dengan ayam bakar, bakso sapi, tempe goreng dan gurame asam manis

Acara makan malam terhenti sebentar dengan ajakan untuk melihat kunang-kunang. Dengan cahaya senter dan telepon genggam, kami berjalan menuruni jalan setapak menuju sebuah lembah, yang menutupi cahaya dari lapangan perkemahan. Setelah sampai, pemandu meminta kami semua mematikan senter, sambil melihat ke arah pepohonan tinggi. Dan voila, beberapa saat kemudian terlihat kilatan cahaya kuning, bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya.

Sayang, acara mencari kunang-kunang ini harus dipersingkat, karena hujan mulai turun. Kami semua bergegas kembali ke area api unggun dan makan malam. Kuali api unggun sudah dipindahkan ke bawah atap terpal, dan bangku-bangku sudah tersusun rapi mengelilingi api unggun.

Bonfire at Night
Salah satu acara wajib dalam setiap kemping adalah api unggun

Sebagai upaya untuk mencegah para peserta kelaparan dan kedinginan, di salah satu pojok api unggun terlihat beberapa staff sedang mempersiapkan jagung bakar. Terdapat juga satu panci bandrek hangat, cocok untuk malam dingin di Situgunung.

Kemping dan api unggun belum lengkap rasanya tanpa panggang marshmallow. Paling tidak, begitu menurut Ethan. Berhubung tusuk sate lupa dibawa, saya menggunakan garpu. Ternyata cukup sulit ya, dan hasil pertama pun gosong. Ethan akhirnya mendapatkan tusuk sate dari pojok jagung bakar. Setelah memasang 3 buah marshmallow, Ethan pun melanjutkan panggang marshmallow, sesuai dengan permintaannya.

Little Boy's Marshmallow
Salah satu kegiatan wajib juga ketika kemping adalah bakar marshmallow

Saat ini, staff tanakita sudah mulai memainkan gitar dan gendang sambil bernyanyi. Beberapa anak-anak sibuk bermain, dan beberapa orang masih melanjutkan makan malam. Sekitar jam 9 kami memutuskan untuk istirahat sebagai persiapan hiking esok hari.

Hiking ke Danau Situgintung

Suhu pagi hari di Situgunung ternyata tidak sedingin yang saya bayangkan. Paling tidak, suhu pagi itu lebih hangat dibanding waktu saya ke Situgunung 22 tahun yang lalu. Saya keluar dari tenda dengan mengenakan T-Shirt lengan panjang sekitar jam 6:00. Sambil menyeruput kopi panas dan bubur kacang hijau, saya menikmati langit yang mulai terang.

Mungbean and Coffee
Kacang hijau dan kopi panas untuk memulai hari yang dingin

Mendekati jam 7, lonceng tanda makan pagi telah siap berbunyi. Jejeran makanan berupa nasi kuning, rendang, tempe orek, dan timun acar sudah rapi terhidang. Panggangan jagung bakar semalam telah berubah fungsi menjadi tempat memasak telor. Disebelahnya terdapat kelas memasak pancake, yang menjadi favorit anak-anak. Sepertinya para staff memang mempunyai misi untuk menggemukkan semua peserta dengan semua hidangan tersebut.

Breakfast is Served
Sarapan pagi dengan nasi kuning, rendang, tempe orek, acar dan buah melon.

Jam 8, setelah perut terisi kenyang, kami semua siap untuk hiking ke sekitar bumi perkemahan. Tujuan pertama adalah Danu Situgunung., sekitar 20 menit jalan kaki. Dari sini, untuk yang masih semangat, bisa melanjutkan ke Air Terjun, sekitar 1 jam jalan kaki.

Surrounding Map
Peta wisata Situgunung, terdapat di pintu masuk Danau Situgunung

Jalan menuju Danau Situgunung didominasi oleh batu kerikil, hingga kami sampai ke portal kawasan danau. Dibalik portal terlihat ada penjual batagor dengan menggunakan sepeda motor, dan tukang ojek yang siap mengantar pengunjung menuju danau, melewati jalan menurun yang didominasi batu-batu besar. “Jalan ini tadinya aspal. Tapi karena hotel yang di bawah tutup, jadinya rusak parah”, kata pemandu kami. “Katanya sih akan dibenerin lagi, karena hotel di bawah mau buka lagi.”

Batu bekas jalan tersebut cukup licin, ditambah dengan jalan yang menurun, menyebabkan saya beberapa kali hampir tergelincir. Tapi semua usaha tersebut terbayar setelah sampai di bawah, di tepi Danau Situgunung.

Lone Bamboo Raft
Rakit bambu, bisa disewa untuk mengelilingi Danau Situgunung. Rakit ini dikayuh oleh 2 orang dengan menggunakan bambu panjang

Sekelompok warga lokal menyambut dengan nyanyian Manuk Dadali. Suara penyanyi dan alunan musik yang merdu menyebabkan saya rela untuk memberikan sumbangan. Sementara, di sisi kanan pintu masuk terdapat warung-warung yang menjajakan minuman dan mie instan.

Naik rakit ditengah Danau Situgunung menjadi pengalaman tersendiri, terutama untuk Ethan. Dua orang pemandu mendayung rakit menggunakan bambu panjang, mengelilingi Danau Situgunung. Dari duduk di dalam rakit, Ethan bergeser ke ujung belakang, mengamati riak air.

At the Raft's End
Di ujung rakit, menikmati perjalanan, sambil mengamati riak air

Selesai naik rakit, kami berfoto sebentar sebelum memutuskan untuk kembali ke bumi perkemahan Tanakita. Saya memutuskan untuk melewatkan air terjun Curug Sawer, karena matahari sudah mulai terik. Untuk yang malas jalan kembali, ojek juga tersedia didepan pintu masuk Danau Situgunung.

Observasi Lainnya

Beberapa observasi dari pengalaman berkemah di Tanakita, Situgunung, Sukabumi:

  1. Kamar mandi dan toilet yang ada cukup bersih dan terawat
  2. Staff dari Tanakita, meskipun tidak terlalu banyak, tapi serba bisa. Termasuk didalamnya bisa memasak, bernyanyi, hingga menjadi pemandu perjalana sekitar
  3. Saya dan Grace juga sangat suka dengan keramahan dan kesigapan semua staff untuk membantu para pengunjung, dan memastikan tidak ada yang bosan. Bahkan, ketika Ethan masih minta nasi kuning, padahal periuk nasi sudah dibawa kembali ke dapur, staff Tanakita mengambilkan sepiring penuh nasi kuning khusus untuk Ethan.
  4. Tempat kemah Tanakita cukup ramah dengan anak-anak. Terbukti dengan banyaknya anak-anak yang ikut perkemahan. Kami membiarkan Ethan keliling naik turun areal perkemahan, bermain dengan anak-anak lainnya. Meskipun demikian, ada beberapa lokasi yang cukup rawan, sehingga anak-anak tetap perlu pengawasan

    Pancake Class
    Kelas memasak pancake untuk anak-anak
  5. Tidak perlu takut kelaparan di Tanakita
  6. Yang perlu dipersiapkan adalah lamanya perjalanan menuju Tanakita. Total perjalanan dari rumah di Tangerang Selatan adalah 7 jam, termasuk makan pagi dan makan siang.
  7. Perkemahan Tanakita bisa diakses dengan mobil sedan.

Foto-foto lainnya bisa dilihat di album Flickr. Selamat berkemah dan menikmati alam.

Green Smoothies Nanas-Vinegar

Salah satu kegunaan hasil panen hidroponik adalah untuk bahan green smoothies. Green smoothies menjadi pilihan saya untuk bekal ke kantor, sebagai snack antara sarapan dan makan siang.

Green smooties of hydroponic Pak Choy

Berikut ini salah satu resep green smoothies yang paling sering saya buat:

  1. Pak Choy/Romaine Lettuce, tergantung panen yang ada
  2. Satu sendok makan Apple Cider Vinegar/Cuka Apel
  3. Nanas yang sudah dipotong-potong, secukupnya
  4. Air matang sekitar 50-100ml

Sayur setelah dicuci lalu dipotong-potong sebelum dimasukkan ke blender. Lalu tambah Nanas, Cuka Apel dan terakhir air matang. Blender semua bahan selama 1-2 menit, lalu tuang di dalam botol vacuum. Tambahakan es batu, dan green smoothies siap di bawa dan dikonsumsi hingga 5-6 jam kemudian.

Making Use of Small Patio at Home

What else can be better to use a small patio on 2nd floor of my home, than planting green vegetables to be consumed? The widespread of Hydroponic Farming made it possible to grow your own vegetables, even in a space as small as 1×0.8 meters

Harvest Time

While by definition it is not an organic vegetables, due to artificial chemical plant nutrition, it is guaranteed to free from pesticides. Besides, the vegetables has complete nutrition, which results in more nutrition for our body compared to soil-grown plant. Especially in light of depleting soil nutrition.

Aiming to be even more greener to the environment, I’m using a green power source instead of main electricity. The pump to circulate the liquid plant nutrition runs on Solar Power. The whole system is even designed to run during the day, eliminating the need of battery to further eliminate chemical waste.

Solar Panel Pump

This post is made in response to WordPress Photo Challenge: It IS Easy Being Green!