All posts by Sunset Mojo

Making Use of Small Patio at Home

What else can be better to use a small patio on 2nd floor of my home, than planting green vegetables to be consumed? The widespread of Hydroponic Farming made it possible to grow your own vegetables, even in a space as small as 1×0.8 meters

Harvest Time

While by definition it is not an organic vegetables, due to artificial chemical plant nutrition, it is guaranteed to free from pesticides. Besides, the vegetables has complete nutrition, which results in more nutrition for our body compared to soil-grown plant. Especially in light of depleting soil nutrition.

Aiming to be even more greener to the environment, I’m using a green power source instead of main electricity. The pump to circulate the liquid plant nutrition runs on Solar Power. The whole system is even designed to run during the day, eliminating the need of battery to further eliminate chemical waste.

Solar Panel Pump

This post is made in response to WordPress Photo Challenge: It IS Easy Being Green!

Solitude

In response to WordPress Photo Challenge: Solitude

In this crowded world or people and gadget, I find my solitude in running and cycling.

Solitude in BSD

I can run with fellow friends, in a race with spectators, or cycling with friends. But for much of the time during the run, I’m always busy with my own thought. It is the time when I can think, or let the mind wander to find some ideas, or solution.

Gerilya Kebun Sayur

Mungkin ini yang sebaiknya dilakukan oleh penggiat urban farming: Gerilya Kebun Sayur. Ron Finley berbagi dalam TED Talks mengenai gerilya yang dilakukan di Los Angeles, United States. Dia menanam sayur, pertama di halaman depan rumahnya, yang lalu menyebar ke tanah2 kosong sekitar. Tanaman ini tidak memiliki pagar, sehingga siapa saja bisa mengambil sayuran yang siap panen. Kenapa tidak diberi tembok? “Because this is like a pay-it-forward thing!

Nginep Di Sentul? Ya Lari Pagi Dong

Dengan udara pegunungan yang dingin dan bersih, Sentul memang punya daya tarik sendiri sebagai tujuan untuk sepedaan di hari minggu, atau lari pagi. Tapi, kalau disuruh nyetir dari Jakarta, rasanya kok daya tariknya jadi berkurang ya. Apalagi kalau setelah lari atau sepedaan masih harus nyetir pulang. Beban.

Beda ceritanya kalau lagi menginap di Sentul. Meskipun bangun kesiangan seperti beberapa minggu yang lalu, rasanya sayang kalau kesempatan lari pagi di pegunungan dilewatkan begitu saja.

Not at Car Free Day

Matahari sudah tinggi, namun udara masih cukup dingin pada jam 6:30, ketika saya keluar dari hotel memasuki Jalan Jend. Sudirman. Meskipun memiliki nama sama, Jalan Jend. Sudirman di Sentul tidak seramai Car Free Day di Jakarta. Terlihat beberapa orang sedang olah raga jalan kaki, lari, dan sebagian lainnya hanya bercengkrama di atas motor mereka. Di sebuah jembatan darurat, Pak Ogah dengan sigap membantu motor-motor yang lalu lalang.

Morning at the Factory

Dari Jalan Jend. Sudirman rute lari memasuki jalan raya Sentul. Lalu lintas kendaraan bermotor masih sepi. Sesekali beberapa sepeda dalam formasi peloton melewati saya sambil menyapa. Ada juga yang hanya sekedar lewat. Hanya sekali saya menyalip sebuah sepeda. Si pengendara sedang duduk di atas rumput sambil makan. “Selamat pagi”, sapa saya. Beberapa ratus meter kemudian, sepeda tersebut kembali melewati saya sambil menyapa, “Mari Pak”. Saya hanya mengangkat tangan.

Downhill

Tidak lama kemudian, Jalan Raya Sentul mulai menunjukkan tantangan di balik rute lari yang bagus: Tanjakan dan turunan. Tanjakan dan turunan menjdai momok bagi yang sedang mengejar jarak dan kecepatan, tetapi justru dicari oleh yang sedang berlatih untuk marathon atau trail. Untungnya udara yang segar dan pohon yang teduh membuat tanjakan dan turunan ini menjadi tidak terasa berat. Ditambah lagi view gunung di kejauhan, ikut membantu mengalihkan perhatian ke nafas yang semakin pendek.

Mountain View

Setelah melewati gerbang utama perumahan Sentul City, elevasi tanjakan semakin curam. Saya berhenti sejenak di dekat sebuah papan petunjuk untuk mengambil nafas dan memastikan waktu. Karena sudah cukup siang dan mulai panas, saya memutuskan untuk kembali ke hotel. Jarak menunjukkan 4.1 km, sehingga total jarak tempuh akan sekitar 8 km. Not too bad.

Through the Empty Road

Sampai di persimpangan Jalan Sudirman menuju hotel, terlihat kalau pintu masuk tol tidak terlalu jauh. Saya pun memutuskan untuk melanjutkan sedikit ke arah tol.

Can Runners Enter?

Tidak ada larangan memang untuk masuk ke jalan tol untuk pelari, asal jangan bawa gerobak. Tapi tidak ada tarif tol yang tercantum di pintu tol. Jadi ya sudah, saya kembali ke Jalan Sudirman dan hotel tempat saya menginap. Detour ke jalan tol ini menambah jarak temput total menjadi hampir 9 km. Untuk rute-nya bisa di lihat di tautan ini.

Panen Pak Choy Pertama

Kemaren siang kami baru saja panen sayur Pak Choy dari kebun sayur di teras rumah. Ini adalah panen pertama dari hidroponik di pipa PVC, menggunakan sistem DFT dan pompa tenaga surya.

Pak Choy Fresh From Garden
Panen Pak Choy tanggal 20 Agustus 2016

Tanaman Pak Choy yang di panen ini berusia kurang lebih 40 hari. Biji Pak Choy langsung di tanam di media Rockwool, dan setelah berdaun 4 baru dipindahkan ke dalam aliran Hidroponik. Selanjutnya hanya tinggal memastikan cairan hidroponik tidak kering. Apabila kering maka perlu ditambahkan air dan cairan nutrisi dengan kepekatan yang pas.

Bibit Pak Choy
Benih Pak Choy tanggal 12 July 2016, siap dipindah ke sistem hidroponik

Sistem Hidroponik tidak menggunakan tanah sebagai media tanam, sehingga terlihat lebih bersih, baik dari penampakan tanaman maupun dari proses menanam. Tidak perlu berkotor-kotor ketika menanam. Selain itu, dengan mengalirkan nutrisi yang dibutuhkan ke akar tanaman, maka tanaman tidak perlu menumbuhkan akar yang panjang. Tanaman pun memiliki nutrisi lebih banyak untuk menumbuhkan daun atau buah.

Akar Pak Choy Hidroponik Lebih Dekat
Akar lebih pendek dan bersih dengan sistem hidroponik

Setelah di panen, lalu ditimbang untuk tahu kira-kira beratnya berapa. Satu batang Pak Choy beratnya 68 gram. Satu pack sayur hidroponik yang dijual di supermarket beratnya kurang lebih 250 gram. Artinya, perlu 4 batang Pak Choy untuk 1 pack sayur Hidroponik di supermarket.

Pack Choy Hidroponik di Timbang

Tapi ya berhubung bukan untuk dijual, jadi langsung dibersihkan saja di dapur, dipotong-potong, dan ditumis. Rasanya? Lebih garing daripada sayur dari supermarket.

Selamat mencoba. Oh ya, Pak Choy ini ditanam bersama sayur-sayur lainnya di taman hidroponik yang berukuran 1×1 meter. Cukup praktis untuk diletakkan di teras rumah atau apartemen. Jadi tidak ada alasan untuk tidak mencoba bukan?