Category Archives: #commuting

Getting from home into the office, while keeping one’s mind sane from Jakarta’s notorious traffic jam

Bike 2 Work Edisi 2: Pamulang – Pondok Indah

Weather Forecast 14 Jan 2015Setelah gagal Bike 2 Work tanggal 13 yang lalu, akhirnya meniatkan diri untuk mencoba Bike 2 Work edisi 2 ini hari Kamis tanggal 14 January 2015. Pagi hari menjelang subuh terdengar suara hujan. Untungnya sewaktu bangun tidur, hujan sudah berhenti. Turun ke bawah, lalu sarapan, sambil cek perkiraan cuaca. Mendung berawan, begitu kira-kira laporan perkiraan cuaca. Well, mungkin jalanan akan sedikit becek setelah hujan pagi tadi, tapi paling tidak gak harus naik sepeda sambil hujan-hujanan.

Habis makan, ganti baju, langsung bawa si biru Polygon Helios 400 ke luar. Rute yang di pilih adalah dari gedung bekas Hero Pamulang, lewat perumahan Gria Jakarta, Tanah Tinggal, Tegal Rotan, Bintaro Jaya, Kompleks Deplu hingga Pondok Indah. Rute ini lebih jauh dari rute Pamulang – Ciputat – Lebak Bulus. Tapi, biar agak muter dikit, supaya menghindari bis-bis besar di sepanjan Ciputat-Lebak Bulus. Rute perjalanan yang dipilih sejauh 18 km.

My Cycling Route: Hero Pamulang to Pondok Indah Mall
Rute Bike 2 Work Edisi 2, dari Hero Pamulang sampai Pondok Indah Mall

Segmen pertama dari Hero Pamulang hingga Tanah Tinggal sejauh 5 km, merupakan rute bike 2 work edisi 1 menuju Sudimara. Saya cukup hafal rute ini, setelah 2 tahun bike 2 work. Sampai pertigaan Tanah Tinggal, biasanya saya belok kiri menuju Stasiun Sudimara. Kali ini saya belok kanan menuju Tegal Rotan dan Perumahan Bintaro Jaya.

Jalan dari Tanah Tinggal menuju Tegal Rotan ternyata cukup becek. Ini yang saya khawatirkan, karena Helios 400 tidak memiliki fender. Sudah berusaha jalan sepelan mungkin supaya cipratan air tidak terlalu banyak. Tas pun sudah di tutup dengan sarung anti air. Tapi apa boleh buat, cipratan air tetap naik membasahi celana dan sarung tas. Akhirnya saya tidak sabar juga, dan mempercepat laju sepeda melewati Tegal Rotan.

Rute sepanjang Perumahan Bintaro Jaya sebenarnya cukup nyaman. Jalanan yang mulus cocok dengan road bike dengan roda tipis. Di sini speda bisa dipacu hingga 25-30 km/jam. Jalanan sedikit padat antara sektor 7 hingga Masjid Raya Bintaro Jaya dekat sektor 2. Selepas sektor 2, masuk ke Jalan Kesehatan yang menjadi 1 arah di pagi hari, sepeda kembali bisa dipacu 25-30 km/jam.

Selepas Bintaro Jaya, saya belok masuk ke arah Deplu. Pondok Pinang. Satu tantangan di segmen ini adalah jalan yang berkontur. Ada turunan yang cukup tajam, dilanjutkan tanjakan yang tajam. Tak jauh kemudia, tanjakan terakhir menjelang Pondok Pinang Center, sebelum akhirnya masuk ke Perumahan Pondok Indah.

Bike Parking at Pondok Indah Mall 2
Parkir Sepeda di sisi Selatan Pondok Indah Mall 2

Setelah parkir di Pondok Indah Mall 2, Endomondo menunjukkan 18.96 km. Jarak ini ditempuh sekitar 1 jam 3 menit, waktu yang kurang lebih sama apabila saya menggunakan mobil dari Pamulang ke Pondok Indah, via Ciputat – Lebak Bulus. “Not bad”, pikir saya.

Bagaimana rasanya masuk kerja setelah bersepeda selama 1 jam? Setelah mandi, yang saya rasakan pertama kali adalah lapar. Sebelum naik ke kantor, saya mengisi perut dengan jus alpukat murni untuk sumber energi. Badan pun kembali terasa segar setelah menghabiskan jus alpukat. Pikiran pun lebih segar, karena tidak keburu lelah dengan macetnya Jakarta.

Menjelang sore tiba-tiba kepikiran, kalo pulangnya masih harus gowes 18 km lagi, dan langit sudah mulai mendung…….

Avocado for Brunch
Post Bike 2 Work breakfast: Avocado Juice, with the rest of Jakarta in the background

Rute perjalanan ini bisa dilihat di Endomondo atau di download sebagai .gps file di tautan ini.

Persiapan Bike 2 Work Edisi 2

Weekend kemaren saya menghabiskan waktu untuk mempersiapkan sepeda Polygon Helios 400 untuk bike 2 work edisi 2. Kenapa edisi 2? Karena saya selama ini sudah bike 2 work edisi 1, yaitu edisi campur sari. Saat ini untuk mencapai kantor, saya sepedaan sekitar 5 km, lalu naik kereta Commuter Line, disambung dengan sepeda motor. Selengkapnya transportasi saya saat ini ada di tautan ini.

Skull Back Light
Lampu Belakang, biar selalu terlihat di malam hari

Dalam edisi 2 ini, rencana saya adalah untuk full bike 2 work dari rumah ke kantor. Jaraknya pun otomatis lebih jauh. Kalau diukur dengan mobil sekitar 12 km. Persiapan yg dibutuhkan juga lebih banyak.

Dulu, saya cukup mandi di rumah. Bersepeda 5 km di jalan yang tidak terlalu ramai tidak terlalu bikin bau dan berkeringat. Sekarang, saya butuh mandi di kantor, karena bersepeda 12 km di antara bis kota tentu membuat badan bau asap, lengket dan berkeringat. Persiapan pertama yang saya lakukan adalah dengan mendaftar di sebuah gym di gedung sebelah kantor

Sewaktu masih naik commuter line, saya cukup bawa baju ganti. Saya bisa naik sepeda 5 km dengan celana dan sepatu kerja. Tentunya hal ini cukup tidak nyaman untuk bersepeda sejauh 12 km. Selain celana jadi bau dan berdebu, sepatu juga bisa cepat rusak. Persiapan kedua yang saya lakukan adalah dengan meninggalkan sepatu dan kemeja kerja di kantor. Kok kemeja? Ya, supaya space untuk kemeja bisa saya gunakan untuk bawa celana kerja.

Persiapan terakhir adalah sepeda yang nyaman. Sepeda Federal saya cukup nyaman untuk dipakai sejauh 5 km. Tapi, untuk jarak yang lebih jauh, sepeda tersebut agak berat. Makanya saya mau coba dengan sepeda Polygon Helios 400. Persiapan saya selama akhir minggu kemaren tiday banyak. Saya hanya memindahkan lampu2 dan perlengkapan darurat sepeda ke Helios 400 ini. Daftar perlengkapannya pun sama seperti yang saya gunakan sekarang, bisa dilihat di tautan ini.

Front Light
Lampu depan. Mendukung mode kedip atau selalu menyala

So, tinggal tunggu tanggal mainnya, besok tanggal 13 Januari. Sekarang tinggal persiapan mental dan semoga cuaca lebih cerah dari pagi ini. See you on the road

From Commuter Line to Driving: What do I Miss in my Commute?

Recently, I moved to another office, which is closer to my home. It also happen that my new office is not conveniently located near Jakarta’s Commuter Line train station. Rough calculation shows that my total commute time by train would be longer than driving my car. So, I decided to switch from Commuter Line to driving my car.

It has been almost a week since I drive. And these are few things that I miss from my commute with Commuter Line:

  1. The free time to read or focusing on my podcast. Naturally, it would be impossible to read my kindle while driving. While I still can play podcast through my car audio, I still need to split my attention to the road and listening to podcast. When taking Commuter Line I don’t need to focus to the road ahead. I just need to make sure that I didn’t miss my stop.
  2. The exercise. I used to ride my bicycle from home to Sudimara train station. The ride out and back at night would give me a good 30 minutes exercise daily. During my marathon training, I even run to Sudimara, some 5.4km from home.
  3. Cheaper commute. The bike ride didn’t cost any fuel, and maintenance is minimal. Bike parking is 6000 per day. Train ticket is ridiculously cheap, at 2000 one way for a total of 4000 per day (thanks for the subsidy). My motorcycle fuel is around 80.000 per month. Motorcycle parking is 100.000 per month at Palmerah Station, and average 8000 per day at office. My total commute cost was 540.000 per month. That won’t even cover half of my monthly car fuel.

I’m still exploring some more option to make my commute less boring and more enjoyable. At the moment, I’m exploring the possibility of doing bike to work. Once I cleared few logistic issue, I might be able to give it a try, hopefully next week or so. Until then, I guess I’m going to be stuck in the traffic jam for some time.

Bike 2 Work Emergency Kit

One night, tired after long day at the office, I’m on my bicycle for 5km back home. And suddenly halfway down, my left pedal gave way. It fall off from the hub. For 3 km, I only use my right pedal. Twenty minutes later, I arrived at home with a very sore right feet.

I consider myself lucky. It could be worse that a tire blew up. That will end up me pushing my bike to home. Or it can happen way further from home. Both scenario, if happen at night, will make my way home very miserable.

Learning from that lesson, I surf the net to build my ultimate bike survival kit. The one that is shown in the picture below is far from ideal. However, it has saved me from flat tire and other episodes of loose pedal.

Bike Tool Kit

From top left clockwise, here is my bike survival kit and the purpose of it:

  1. 15/16-Inch Combination Wrench. It is used to open my rear tire, which is not equipped with quick release yet.
  2. 15mm T-Wrench. It is for fastening loose pedal.
  3. Zefal Viteo Double Action Mini Bicycle Pump (Black). Used to pump air after fixing flat tire
  4. Tire Repair Patch Kit. It comes with 3 patch for small puncture, sandpaper for cleaning up puncture area, and tire release handle
  5. 26″ Inner Tube. It is just a regular inner tube that I bought for Rp. 50.000/$5 at local bike store.

There are still few thing missing here that I would like to add:

  1. Chain repair kit. Never know when the chain decide to give up

Anything else should I add? Or if you bike 2 work regularly, showcase your emergency kit in the comment below

My Typical Commuting Day

“Commuting in Jakarta is not about distance”, I said to a friend. “It is about traffic jam”
My home is not that far from office. Distance measured on Google Map is 23km. In a good day, driving to office took 2 hours in a good day! That means 10km per hour. In a bad day, the driving time can be over 3 hours.
To compare, the world record for half marathon (21.1k) are 58 minutes 23 seconds. Those Africans can run faster than I drive.
I refuse to spend over 4 hours on the road. Some argue that commuting with your own car is more comfortable. For me, even when there are driver to drive, being confined in a car for 4 hour is a torture.
So, this is my typical commuting day. It started with 5.5km cycling to Sudimara Train Station. The cycling took 15 minutes if I’m in a hurry, and the traffic is friendly, and maximum 20 minutes if I feel like cycling easy.
The waiting at Sudimara Train Station usually around 10 minutes. The good thing of not driving is I have more time to read the book on my kindle, or connect with friends in social media. No need to think on which way to take to avoid traffic jam. And there are real people to chat with, or interesting things happening that worth a picture.
The commuter train ride itself took 20 minutes from Sudimara to Palmerah train station. Most of the time it was so packed that it is so hard to move your hand. I stick with my kindle, or watching poor soul trapped in their car in the traffic jam outside.
From Palmerah Train station, I picked up my motorcycle in a nearby office building. I park my motorcycle overnight in the building to make it easier to commute within the downtown. Depends on the traffic, i can reach my destination in another 15-30 minutes
Total commuting time 65 – 80 minutes. Definitely much faster (and cheaper) than 2 hours driving from home. Plus some extra personal time to read book on Kindle.