Category Archives: #urbanfarming

Making Use of Small Patio at Home

What else can be better to use a small patio on 2nd floor of my home, than planting green vegetables to be consumed? The widespread of Hydroponic Farming made it possible to grow your own vegetables, even in a space as small as 1×0.8 meters

Harvest Time

While by definition it is not an organic vegetables, due to artificial chemical plant nutrition, it is guaranteed to free from pesticides. Besides, the vegetables has complete nutrition, which results in more nutrition for our body compared to soil-grown plant. Especially in light of depleting soil nutrition.

Aiming to be even more greener to the environment, I’m using a green power source instead of main electricity. The pump to circulate the liquid plant nutrition runs on Solar Power. The whole system is even designed to run during the day, eliminating the need of battery to further eliminate chemical waste.

Solar Panel Pump

This post is made in response to WordPress Photo Challenge: It IS Easy Being Green!

Gerilya Kebun Sayur

Mungkin ini yang sebaiknya dilakukan oleh penggiat urban farming: Gerilya Kebun Sayur. Ron Finley berbagi dalam TED Talks mengenai gerilya yang dilakukan di Los Angeles, United States. Dia menanam sayur, pertama di halaman depan rumahnya, yang lalu menyebar ke tanah2 kosong sekitar. Tanaman ini tidak memiliki pagar, sehingga siapa saja bisa mengambil sayuran yang siap panen. Kenapa tidak diberi tembok? “Because this is like a pay-it-forward thing!

Panen Pak Choy Pertama

Kemaren siang kami baru saja panen sayur Pak Choy dari kebun sayur di teras rumah. Ini adalah panen pertama dari hidroponik di pipa PVC, menggunakan sistem DFT dan pompa tenaga surya.

Pak Choy Fresh From Garden
Panen Pak Choy tanggal 20 Agustus 2016

Tanaman Pak Choy yang di panen ini berusia kurang lebih 40 hari. Biji Pak Choy langsung di tanam di media Rockwool, dan setelah berdaun 4 baru dipindahkan ke dalam aliran Hidroponik. Selanjutnya hanya tinggal memastikan cairan hidroponik tidak kering. Apabila kering maka perlu ditambahkan air dan cairan nutrisi dengan kepekatan yang pas.

Bibit Pak Choy
Benih Pak Choy tanggal 12 July 2016, siap dipindah ke sistem hidroponik

Sistem Hidroponik tidak menggunakan tanah sebagai media tanam, sehingga terlihat lebih bersih, baik dari penampakan tanaman maupun dari proses menanam. Tidak perlu berkotor-kotor ketika menanam. Selain itu, dengan mengalirkan nutrisi yang dibutuhkan ke akar tanaman, maka tanaman tidak perlu menumbuhkan akar yang panjang. Tanaman pun memiliki nutrisi lebih banyak untuk menumbuhkan daun atau buah.

Akar Pak Choy Hidroponik Lebih Dekat
Akar lebih pendek dan bersih dengan sistem hidroponik

Setelah di panen, lalu ditimbang untuk tahu kira-kira beratnya berapa. Satu batang Pak Choy beratnya 68 gram. Satu pack sayur hidroponik yang dijual di supermarket beratnya kurang lebih 250 gram. Artinya, perlu 4 batang Pak Choy untuk 1 pack sayur Hidroponik di supermarket.

Pack Choy Hidroponik di Timbang

Tapi ya berhubung bukan untuk dijual, jadi langsung dibersihkan saja di dapur, dipotong-potong, dan ditumis. Rasanya? Lebih garing daripada sayur dari supermarket.

Selamat mencoba. Oh ya, Pak Choy ini ditanam bersama sayur-sayur lainnya di taman hidroponik yang berukuran 1×1 meter. Cukup praktis untuk diletakkan di teras rumah atau apartemen. Jadi tidak ada alasan untuk tidak mencoba bukan?

TEDx Talk: Pop Up Farm in Zurich

Seorang Urban Farmers berbagi cerita di atas panggung TEDx. Kalau lihat foto-fotonya, bagus-bagus, dan kreatif. Seperti urban farm di atas Manhattan, New York atau juga ada yang bikin urban farming di truk bak terbuka.

Tapi yang terpikir selanjutnya, sepertinya apa yang dilakukan Roman Gaus bisa juga dilakukan di Jakarta. Banyak gedung-gedung kosong yang bisa disulap menjadi restoran, lalu bagian atapnya disulap menjadi urban farm untuk restoran tersebut?

Ada yang berminat untuk kolaborasi?

Belajar Bertani di Kebun Darling, Pamulang

Pagi itu di dalam area parkir Kebun Darling terlihat 2 buah bis berukuran besar yang sudah parkir. Bis-bis tersebut membawa rombongan untuk sebuah pelatihan mengenai kesadaran lingkungan, yang terdiri dari mengurangi sampah dengan membuat kompos, dan hidrponik. Topik kedua ini yang membawa saya menjadi peserta di pelatihan kali ini.

Welcome to Kebun Darling

Kebun darling (Sadar Lingkungan) diprakarsai oleh Gereja Santo Barnabas di Pamulang. Sadar bahwa untuk memberikan pengaruh lebih besar dari sebatas lingkungan Gereja, Kebun Darling menggandeng pemerintah daerah dan kalangan non-Katolik untuk ikut berpartisipasi.

“Salah satu program kami adalah Bank Sampah“, jelas pengurus Kebun Darling yang membuka acara. “Bank ini menerima sampah yang sudah dipilah-pilah, seperti botol plastik, atau sampah makanan dari dapur. Lalu bank akan memberikan buku tabungan layaknya bank, yang berisi saldo sampah dalam bentuk uang hasil pengolahan sampah tersebut.”

Lalu, apakah penduduk perkotaan masih peduli untuk mengumpulkan dan memilah sampah? Kebanyakan orang hanya memasukkan sampah kedalam plastik, diuntel-untel, terus dibuang ke tong sampah. “Target market kami bukan pemilik rumah”, jawab pengurus Kebun Darling. “Target kami adalah para asisten rumah tangga, dan ini akan menjadi penghasilan tambahan mereka.”

Garbage Bank

Selain Bank Sampah, Kebun Darling juga memiliki lahan khusus hidroponik. Lahan ini dikelola oleh penduduk sekitar. Hasil dari lahan hidroponik ini kemudian dijual di tempat, atau di Gereja, untuk membiayai operasional Kebun Darling. Ketika saya di sana, sedang ada proyek pengerjaan pertanian hidroponik berukuran 4×3 meter. Cukup besar.

Hydroponic Set Up

Masih banyak lahan luas disekeliling saung pelatihan dan Bank Sampah yang menunggu untuk dikelola. Seperti pada tujuan awalnya, Kebun Darling masih memulai untuk pertanian organik. Untuk yang berminat belajar, membantu, atau apapun, bisa menghubungi Paroki Santo Barnabas Pamulang di 021-74713567, 021-74713568, 021-7401017.

Foto-foto lainnya di Kebun Darling bisa di lihat di tautan ini.