Category Archives: #weekendtanpamall

Glamorous Camping (Glamping) di Tanakita, Situgunung, Sukabumi

Sejujurnya, saya tidak pernah suka dengan yang namanya kemping. Cukup malas rasanya dengan kerepotan mendirikan tenda, menyiapkan makanan, dan terutama, mandi dan buang hajat dengan toilet seadanya. Oleh karena itu, ketika anak kami mengajak kemping, saya masih dengan berat hati setuju dengan 1 syarat: kemping ala priyayi, atau lebih dikenal dengan Glamping.

Glamping, singkatan dari Glamorous Camping, adalah cara baru untuk menikmati kemping di alam terbuka, tapi dengan fasilitas hotel. Dalam bayangan saya, tidur tetap di dalam tenda, tapi tanpa perlu mendirikan tenda. Makanan pun sudah ada yang memasak, dan kamar mandi pun cukup bersih. Dan pengalaman itu yang ditawarkan oleh perkemahan Tanakita di Situgunung, Sukabumi.

Tanakita Campsite
Tenda-tenda perkemahan di Tanakita, Sukabumi

Ketika kami sampai sekitar jam 3 sore, tenda-tenda berwarna hijau sudah berjejer rapi di lapangan perkemahan. Terdapat 3 areal perkemahan yang berdekatan satu sama lain. Kami memilih di areal tengah, karena dekat dengan kamar mandi. Saya melihat sejenak ke dalam tenda, ke dalam ruang beralaskan palet plastik. Di sebelah kiri di dalam tenda terdapat ruang tidur yang dipisahkan oleh partisi kain. Setiap tenda juga dilengkapi lampu dan stopkontak listrik.

Tidak lama kemudian, suara lonceng berbunyi, memanggil semua peserta untuk naik ke atas, dan menikmati snack sore. Beragam snack disediakan, antara lain tahu goreng, singkong goreng, klepon, pisang goreng, combro, dll. Jumlah snack yang disediakan sangat cukup untuk semua pengunjung.

Woodfire Coffee
Kopi dan teh tersedia di area self-service, selama 24 jam. Air di dalam panci dipanaskan dengan menggunakan arang

Di antara snack terdapat sebuah tungku arang dengan pemasak air di atasnya. “Kopi dan teh tersedia selama 24 jam”, menurut staff Tanakita. Dan pemasak air tersebut menyediakan air mendidih dengan sumber panas dari arang, yang menurut Grace, panasnya lebih tahan lama.

Evening Snacks
Snack sore berupa singkong gorengdan tahu. Beberapa saat kemudian juga disediakan klepon, combro, dan pisang goreng.

Kami memutuskan untuk tidak ikut hiking sore ke Danau Situgunung. Pertama, karena anak kami Ethan lebih senang main di tenda, atau berlari di tengah lapangan terbuka bersama anak-anak lainnya yang memang banyak berkemah di Tanakita. Alasan kedua juga karena saya lebih ingin menikmati kopi di sore hari, dengan cuaca yang cukup dingin, sambil duduk-duduk di teras area kemping.

Malam Api Unggun

Di balik bangunan kantor, terlihat ada kilatan api yang menyala. Para staff Tanakita sedang mempersiapkan api unggun dengan menyalakan kayu bakar di dalam sebuah kuali besar. “Api unggun kami bisa dipindah-pindah”, kata salah satu staff Tanakita. Beberapa saat kemudian, saat hari mulai gelap, terlihat beberapa staff membawa kuali besar dengan api unggun di dalamnya, beserta kaki penyangga, ke tanah lapang depan kantor.

Pada saat hampir bersamaan, lonceng tanda makan malam telah siap berbunyi. Hidangan nasi dan ayam bakar, tempe, dan ikan gurame terasa nikmat di cuaca dingin kaki gunung Gede, meskipun kami sebenarnya baru saja menghabiskan snack sore.

Dinner is Served
Makan malam dengan ayam bakar, bakso sapi, tempe goreng dan gurame asam manis

Acara makan malam terhenti sebentar dengan ajakan untuk melihat kunang-kunang. Dengan cahaya senter dan telepon genggam, kami berjalan menuruni jalan setapak menuju sebuah lembah, yang menutupi cahaya dari lapangan perkemahan. Setelah sampai, pemandu meminta kami semua mematikan senter, sambil melihat ke arah pepohonan tinggi. Dan voila, beberapa saat kemudian terlihat kilatan cahaya kuning, bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya.

Sayang, acara mencari kunang-kunang ini harus dipersingkat, karena hujan mulai turun. Kami semua bergegas kembali ke area api unggun dan makan malam. Kuali api unggun sudah dipindahkan ke bawah atap terpal, dan bangku-bangku sudah tersusun rapi mengelilingi api unggun.

Bonfire at Night
Salah satu acara wajib dalam setiap kemping adalah api unggun

Sebagai upaya untuk mencegah para peserta kelaparan dan kedinginan, di salah satu pojok api unggun terlihat beberapa staff sedang mempersiapkan jagung bakar. Terdapat juga satu panci bandrek hangat, cocok untuk malam dingin di Situgunung.

Kemping dan api unggun belum lengkap rasanya tanpa panggang marshmallow. Paling tidak, begitu menurut Ethan. Berhubung tusuk sate lupa dibawa, saya menggunakan garpu. Ternyata cukup sulit ya, dan hasil pertama pun gosong. Ethan akhirnya mendapatkan tusuk sate dari pojok jagung bakar. Setelah memasang 3 buah marshmallow, Ethan pun melanjutkan panggang marshmallow, sesuai dengan permintaannya.

Little Boy's Marshmallow
Salah satu kegiatan wajib juga ketika kemping adalah bakar marshmallow

Saat ini, staff tanakita sudah mulai memainkan gitar dan gendang sambil bernyanyi. Beberapa anak-anak sibuk bermain, dan beberapa orang masih melanjutkan makan malam. Sekitar jam 9 kami memutuskan untuk istirahat sebagai persiapan hiking esok hari.

Hiking ke Danau Situgintung

Suhu pagi hari di Situgunung ternyata tidak sedingin yang saya bayangkan. Paling tidak, suhu pagi itu lebih hangat dibanding waktu saya ke Situgunung 22 tahun yang lalu. Saya keluar dari tenda dengan mengenakan T-Shirt lengan panjang sekitar jam 6:00. Sambil menyeruput kopi panas dan bubur kacang hijau, saya menikmati langit yang mulai terang.

Mungbean and Coffee
Kacang hijau dan kopi panas untuk memulai hari yang dingin

Mendekati jam 7, lonceng tanda makan pagi telah siap berbunyi. Jejeran makanan berupa nasi kuning, rendang, tempe orek, dan timun acar sudah rapi terhidang. Panggangan jagung bakar semalam telah berubah fungsi menjadi tempat memasak telor. Disebelahnya terdapat kelas memasak pancake, yang menjadi favorit anak-anak. Sepertinya para staff memang mempunyai misi untuk menggemukkan semua peserta dengan semua hidangan tersebut.

Breakfast is Served
Sarapan pagi dengan nasi kuning, rendang, tempe orek, acar dan buah melon.

Jam 8, setelah perut terisi kenyang, kami semua siap untuk hiking ke sekitar bumi perkemahan. Tujuan pertama adalah Danu Situgunung., sekitar 20 menit jalan kaki. Dari sini, untuk yang masih semangat, bisa melanjutkan ke Air Terjun, sekitar 1 jam jalan kaki.

Surrounding Map
Peta wisata Situgunung, terdapat di pintu masuk Danau Situgunung

Jalan menuju Danau Situgunung didominasi oleh batu kerikil, hingga kami sampai ke portal kawasan danau. Dibalik portal terlihat ada penjual batagor dengan menggunakan sepeda motor, dan tukang ojek yang siap mengantar pengunjung menuju danau, melewati jalan menurun yang didominasi batu-batu besar. “Jalan ini tadinya aspal. Tapi karena hotel yang di bawah tutup, jadinya rusak parah”, kata pemandu kami. “Katanya sih akan dibenerin lagi, karena hotel di bawah mau buka lagi.”

Batu bekas jalan tersebut cukup licin, ditambah dengan jalan yang menurun, menyebabkan saya beberapa kali hampir tergelincir. Tapi semua usaha tersebut terbayar setelah sampai di bawah, di tepi Danau Situgunung.

Lone Bamboo Raft
Rakit bambu, bisa disewa untuk mengelilingi Danau Situgunung. Rakit ini dikayuh oleh 2 orang dengan menggunakan bambu panjang

Sekelompok warga lokal menyambut dengan nyanyian Manuk Dadali. Suara penyanyi dan alunan musik yang merdu menyebabkan saya rela untuk memberikan sumbangan. Sementara, di sisi kanan pintu masuk terdapat warung-warung yang menjajakan minuman dan mie instan.

Naik rakit ditengah Danau Situgunung menjadi pengalaman tersendiri, terutama untuk Ethan. Dua orang pemandu mendayung rakit menggunakan bambu panjang, mengelilingi Danau Situgunung. Dari duduk di dalam rakit, Ethan bergeser ke ujung belakang, mengamati riak air.

At the Raft's End
Di ujung rakit, menikmati perjalanan, sambil mengamati riak air

Selesai naik rakit, kami berfoto sebentar sebelum memutuskan untuk kembali ke bumi perkemahan Tanakita. Saya memutuskan untuk melewatkan air terjun Curug Sawer, karena matahari sudah mulai terik. Untuk yang malas jalan kembali, ojek juga tersedia didepan pintu masuk Danau Situgunung.

Observasi Lainnya

Beberapa observasi dari pengalaman berkemah di Tanakita, Situgunung, Sukabumi:

  1. Kamar mandi dan toilet yang ada cukup bersih dan terawat
  2. Staff dari Tanakita, meskipun tidak terlalu banyak, tapi serba bisa. Termasuk didalamnya bisa memasak, bernyanyi, hingga menjadi pemandu perjalana sekitar
  3. Saya dan Grace juga sangat suka dengan keramahan dan kesigapan semua staff untuk membantu para pengunjung, dan memastikan tidak ada yang bosan. Bahkan, ketika Ethan masih minta nasi kuning, padahal periuk nasi sudah dibawa kembali ke dapur, staff Tanakita mengambilkan sepiring penuh nasi kuning khusus untuk Ethan.
  4. Tempat kemah Tanakita cukup ramah dengan anak-anak. Terbukti dengan banyaknya anak-anak yang ikut perkemahan. Kami membiarkan Ethan keliling naik turun areal perkemahan, bermain dengan anak-anak lainnya. Meskipun demikian, ada beberapa lokasi yang cukup rawan, sehingga anak-anak tetap perlu pengawasan

    Pancake Class
    Kelas memasak pancake untuk anak-anak
  5. Tidak perlu takut kelaparan di Tanakita
  6. Yang perlu dipersiapkan adalah lamanya perjalanan menuju Tanakita. Total perjalanan dari rumah di Tangerang Selatan adalah 7 jam, termasuk makan pagi dan makan siang.
  7. Perkemahan Tanakita bisa diakses dengan mobil sedan.

Foto-foto lainnya bisa dilihat di album Flickr. Selamat berkemah dan menikmati alam.

Sisi Lain Scientia Square Park Serpong

Kebanyakan orang ketika berkunjung ke Scientia Square Park, Gading Serpong, akan langsung tertarik dengan keramaian sekitar arena skate board. Arena skate board dan sekitarnya memang cukup ramai, didominasi oleh anak-anak kecil yang berlari di taman, anak muda bermain skate board, atau roller blade, dan penggiat olahraga panjat tebing yang berlatih di dinding vertikal.

Tidak banyak yang tahu bahwa, selain arena untuk keluarga, Scientia Square Park Gading Serpong juga memiliki sisi lain yang lebih ditujukan untuk pengunjung yang lebih dewasa. Bagian ini cukup tersembunyi dibalik sebuah kebun vertikal, sehingga semakin tidak terlihat dari pusat keramaian. Berikut ini adalah apa yang ada di sisi lain Scientia Square Park.

Trek Mobil Remote Control

R/C Track

Di Scientia Square Park terdapat 2 buah track untuk mobil Remote Control (R/C). Track pertama adalah jalan mulus untuk mobile R/C biasa, sedangkan yang lainnya terbuat dari tanah dengan undak-undakan untuk mobil R/C trail.

For Race Car

Mobil R/C yang berlaga di track ini menggunakan bahan bakar cair, bukan batere. Ketika berjalan, mobil ini mengeluarkan suara yang cukup bising. Saya sempat tertarik untuk ikut bermain, tapi sepertinya ini adalah hobi yang cukup mahal.

Dirt Race Car

Kebun Sayuran

Setelah arena mobil R/C, terdapat sebuah kebun sayur-sayuran. Bermacam-macam sayuran ditanam di sini, seperti selada, bayam, pakcoy dan kangkung. Metode tanam yang digunakan pun cukup beragam, mulai dari tanah didalam peti kayu, sekam di dalam plastik bekas sabun cair, hingga hidroponik dalam pipa PVC.

Vegetable Garden

Area Kupu-kupu

Di salah satu pojokan Scientia Square Park terdapat sebuah rumah kaca. Isinya bukan tanaman, melainkan pohon-pohon besar yang menjadi tempat tinggal kupu-kupu koleksi mereka.

Kupu-kpu yang ada cukup beragam warnanya. Namun dibandingkan ukuran rumah kaca yang ada, jumlah kupu-kupu yang ada masih cukup sedikit. Namun, anak-anak tetap semangat untuk melihat kupu-kupu dalam berbagai warna

Semalam di Perkebunan Organik BSP Farm Sukabumi

“Kemping? Nggak ah”

Keengganan saya terhadap kemping mungkin berakar dari kegiatan ospek masa kuliah di bumi perkemahan di luar kampus. Efeknya sampai sekarang, saya jadi enggan untuk kemping.

“Tapi ini kemping priyayi. Segala macam disiapkan, lengkap dengan makanan, kamar mandi, toilet”, jawab teman saya.

Tetap saja, ketika akhirnya berkesempatan untuk menginap di BSP Farm Sukabumi, saya memilih tidur di kamar

Camping Ground
Tempat kemping di BSP Farm. Tenda di kiri adalah tempat tidur, sedangkan yang sebelah kanan adalah tempat makan

Setelah perjalanan sekitar 1 jam dari Kota Bogor, kami berempat sampai di pintu gerbang besi BSP Farm. Di balik pintu gerbang ada sebuah bangunan wisma berwarna putih. Kami disambut oleh petugas BSP Farm, dan diantar berkeliling bangunan Wisma tempat kami menginap. Setelah meletakkan barang-barang di kamar, datang sebuah suguhan air sereh dan pisang goreng di ruang makan.

“Silahkan beristirahat dan menikmati peganan ini. Kalau nanti mau keliling, panggil saya ya di bawah”. kata petugas BSP Farm. Tapi sesungguhnya, siapa yang rela untuk meninggalkan ruang makan dan teras seperti ini?

Best Place for Tea Time

Pintu masuk utama Wisma BSP Farm terletak di lantai 2. Dari pintu masuk, pengunjung bisa langsung melihat pemandangan lereng gunung salak melalui ruang makan dan teras. Ada sebuah aula yang bisa menampung 20-40 orang, lengkap dengan proyektor dan layar. Sebuah meja makan besar dari kayu berwarna hitam terletak di ruang makan di seblah aula. Di ruang makan ini juga tersedia alat penyeduh kopi dan teh.

Ruangang yang paling diperebutkan barangkali ruang duduk di sebelah ruang makan. Terdapat 3 buah sofa bed yang menghadap langsung ke teras dan Gunung Salak.

Setelah matahari sedikit turun, kami jalan menyusuri perkebunan organik. Di kiri kanan berjejer rapi gundukan tanah berbentuk persegi panjang. Beberapa ditanami bermacam-macam sayuran, muali dari Jagung Selada, Sawi, Pak choy, dll. “Yang lain baru mau ditanam”, menurut pemandu kami.

Not a Walk in the Part
Kebun sayur organik

DI ujung lokasi penanaman sayur, ada kawat jala yang dipasang berbentuk melingkar menuju sebuah gubuk kecil. “Free range chicken”, tebak kami, dan ternyata betul. “Ini kandang untuk piara ayam. Telurnya untuk di makan, dan kotorannya untuk pupuk”, jelas pemandu kami.

Free Range Chicken

Kembali dari kebun sayur organik, perjalanan dilanjutkan melintasi perkebunan salak. Pohon salak berjejer rapat menutup cahaya matahari. Kira-kira 50 cm dari tanah, buah salak terlihat menggumpal, siap untuk dipetik. Lalu, apakah ada bedanya antara salak yang dimakan langsung dari pohon dengan salak di supermarket atau pasar? Jelas ada. Salak pohon ini rasanya lebih manis dan lebih renyah.

Snakefruit
Buah salak langsung dari pohonnya di BSP Farm. Rasanya lebih renyah dan manis

Dari kebun salak perjalanan dilanjutkan melalui perkebunan kopi. Saat ini bukan sedang musim panen kopi, sehingga buah kopi yang ada masih terlihat hijau. Di ujung jalan pemandu kami terlihat sedang membuka bak besar berisi air yang sangat bening.

“Ini air untuk irigasi?” Tanya saya

“Bukan. Ini air yang dipakai di wisma untuk kamar mandi”, jawab pemandu kami

“Asalnya dari mana? Pompa tanah?” tanya saya lagi. Air dalam bak ini terlihat sangat bening, seperti air di bak penampung yang lebih besar di dekat kebun sayur organik.

“Bukan. Ini air dari gunung. Ada beberapa bak air seperti ini di atas. Air ini diendapkan di atas, lalu bagian atasnya dialirkan ke bawah, diendapkan kembali, dan seterusnya hingga menjadi bening seperti ini”, pemandu kami menjelaskan.

Beberapa langkah kemudian kami tiba di sebuah pondokan yang disewakan. Di sebelah pondokan ini terdapat bak air lainnya. Ukuran dan beningnya air membuat saya ingin berenang rasanya. Pastinya akan sangat segar.

Not a Swimming Pool
Ini bukan kolam renang. Ini adalah bak penampung air

Hari masih terang ketika kami kembali ke wisma. Kami pun lanjut menikmati pisang goreng dan air sereh. Saya sendiri, karena tergoda dengan air gunung yang bening, memutuskan mandi lebih awal. Segar rasanya mandi dengan air pegunungan yang dingin.

Tak lama kemudian petugas wisma menghidangkan makan malam kami. Entah karena lapar, makanan yang enak, atau suasana gunung yang dingin, kami makan dengan lahap. Semur yang dihidangkan dimasak sendiri oleh pemilik wisma. Organik atau bukan, rasanya enak.

Hearty Dinner
Makan malam sederhana, tapi enak. Mungkin karena suhu di BSP Farm malam itu cukup dingin

Selepas makan malam, Ethan yang sepetinya kelelahan setelah jalan di kebun, minta tidur lebih awal, sehingga kami memutuskan juga untuk tidur lebih awal. Lagipula, besok pagi kami masih berencana untuk jalan pagi. Jadi, tidur lebih awal seprtinya ide yang cukup baik.

Hanya saja, kamar kami terasa panas, kontras apabila dibandingkan dengan suhu di luar ruangan yang cukup dingin. Memang, kamar kami memiliki sebuah jendela yang bisa dibuka, tapi kami khawatir kalau ada serangga yang masuk. Kelelahan dan kekenyangan, saya pun akhirnya tertidur pulas.

Foto-foto lainnya di BSP Farm Sukabumi bisa dilihat di album foto di tautan ini. Reservasi dan informasi lainnya bisa di lihat di situs BSP Farm

Sore Hari di Scientia Square Park, Gading Serpong

Biasanya setiap Sabtu sore, saya mengajak anak saya pergi berenang. Tapi ada kalanya si anak bosen, dan bapaknya juga akhirnya ikut bosen. Di saat-saat bosen seperti itu, Scientia Square Park di Gading Serpong menjadi pilihan untuk menghabiskan akhir pekan di luar ruangan.

Kegiatan Untuk Keluarga

Masih ingat rasanya waktu saya kecil, ketika kami sekeluarga pergi piknik. Pilihannya waktu itu tidak banyak, dan yang menjadi pilihan rutin adalah kolam renang di Taman Impian Jaya Ancol. Setelah berenang, kami akan menikmati nasi goreng yang dibawa dari rumah, dan disimpan didalam kontainer plastik yang bisa menjaga nasi supaya tetap hangat.

Picnic

Nah, berhubung nyonya juga suka pergi piknik, lapangan hijau di Scientia Square Park bisa menjadi salah satu tujuan. Siapkan tikar, makanan, kopi dan buku bacaan. Selagi anak-anak sibuk bermain, kita bisa menikmati buku yang belum sempat dibaca ditemani secangkir kopi di alam terbuka.

Kegiatan Untuk Anak-anak Remaja

Anak-anak remaja yang suka dengan kegiatan luar ruangan akan menikmati  sore hari di Scientia Square Park Serpong. Atraksi utama dari taman ini adalah area skate board, lengkap dengan penghalang seperti tangga, railing tangga, dan tentu saja quarter pipe.

Skate Park

Untuk yang tidak bermain skate board, pilihan lainnya adalah bermain roller blade. Untuk yang masih mau coba-coba atau belajar, ada jasa penyewaan roller blade.

Selain skate board dan roller blade, permainan terakhir untuk anak-anak remaja adalah panjat tebing. Scientia Square Park menyediakan 2 buah dinding vertikal untuk berlatih panjat tebing.

Kegiatan Untuk Anak Kecil

Bukan hanya anak-anak remaja atau dewasa yang bisa mencoba panjat tebing. Scientia Square Park juga menyediakan panjat tebing yang aman untuk anak-anak yang lebih kecil, termasuk balita. Dinding buatan untuk anak-anak ini lebih rendah, sekitar 2 meter tingginya. Dan dibawah dinding ini terdapat busa lembut setebal kurang lebih 50 cm.

Kids Playground

Untuk anak-anak yang tidak suka panjat tebing, terdapat area bermain yang dilengkapi dengan ayunan dan permainan lainnya. Atau, anak-anak juga bisa sekedar berlarian di lapangan rumput di tengan Scientia Square Park.

Urban Farming

Sisi barat dari Scientia Square Park diiisi oleh rawa berbentuk kotak. Apabila dugaan saya benar, sisi ini adalah bagian yang paling saya tunggu: Urban Farming.

Urban Farm

Seperti terlihat di foto di atas, di sebelah atas rawa-rawa terdapat sepetak tanaman yang sudah tumbuh lebat. Sekilas tanaman itu terlihat seperti padi, walaupun saya kurang begitu yakin. Terlepas dari tanaman apakah itu, apabila rawa-rawa ini nantinya akan menjadi lahan urban farming, tempat ini akan menjadi fasilitas untuk belajar menanam tanaman untuk konsumsi sendiri di rumah.

Beberapa minggu mendatang saya berencana untuk kembali piknik di Scientia Square Park. Mudah-mudahan rawa-rawa ini sudah menjadi sesuatu sesuai harapan.

Museum Benteng Heritage, Tangerang

The Original Recording of Indonesia Raya“Ini adalah sejarah Indonesia yang terlupakan”, ucap Pak Han Han, pemandu museum seraya memperlihatkan sebuah keping piringan hitam. Diatas kepingan tersebut tertulis “Indonesia Raja”, yang merupakan ejaan lama dari Indonesia Raya. Piringan tersebut adalah piringan asli lagu Indonesia Raya, yang direkam di studio milik Yo Kim Tjan pada tahun 1927, dan diproduksi menjadi piringan hitam di Inggris. Museum Benteng Heritage adalah sebuah hasil restorasi sebuah bangunan peranakan yang terletak di tengah Pasar Lama Tangerang. Bangunan ini diperkirakan berusia 300 tahun. Pemilik museum, Pak Udaya Halim, membeli bangunan ini pada tahun 2009, dengan tujuan untuk melestarikan bangunan berarsitektur Tionghoa di titik nol kota Tangerang. “Supaya tidak menjadi ruko”, cerita Pak Han Han. Bersama adiknya, Pak Udaya berusaha mengembalikan bangunan ini ke bentuk aslinya. Bukan usaha yang mudah, karena catatan sejarah sangat minim. Sumber sejarah mayoritas berasal dari catatan kuil Boen Tek Bio, yang kurang lebih berusia sama dengan bangunan ini.

Teracotta Tile
Lantai asli bangunan museum terbuat dari teracotta

“Tidak jelas fungsi awal bangunan ini untuk apa”, Ibu Airin yang juga salah satu pemandu kami hari itu menjelaskan. Sambil menunjuk ke atas, beliau melanjutkan: “Tapi, melihat dari relief perjalanan Kwan Kong di atas, diperkirakan bangunan ini adalah tempat perkumpulan komunitas.” Terus terang, sebagai penggemar cerita 3 kerajaan, relief tentang Kwan Kong ini menarik perhatian saya. “Relief ini bercerita tentang Kwan Kong yang mencari saudaranya yang ditahan oleh Cao Cao.”, lanjut Ibu Airin. Yang juga cukup menarik adalah tehnik pewarnaan relief ini. Relief tentang Kwan Kong ini diwarnai dengan potongan keramik yang ditempel. “95% dari keramik yang ditempel ini adalah asli. Sisanya yang copot telah kami ganti”, cerita Ibu Airin.

Kwan Kong Relief
Relief Kwan Kong dari cerita 3 kerajaan. Sebuah harta karun yang ditemukan ketika proses restorasi

Di ruangan bagian depan Museum Benteng Heritage, di dalam lemari yang berbentuk botol kecap, terdapat beberapa botol kecap buatan Tangerang. “Pernah dengan kecap Benteng? Dulu di Tangerang ini banyak sekali pabrik kecap. Sekarang hanya tersisa sedikit”, cerita Ibu Dessy, pemandu kami di ruang depan. Sebelum ke museum, kami jalan-jalan melewati pabrik kecap Teng Giok Seng. Pabrik kecap Teng Giok Seng adalah pabrik kecap tertua di Tangerang, beroperasi sejak tahun 1882. Artinya, usianya sudah lebih dari 130 tahun! “Troli dorongnya saja masih dari kayu”, lanjut Ibu Dessy sambil memperlihatkan video rekaman produksi kecap di Pabrik Siong Hin, salah satu pabrik kecap benteng di Tangerang yang masih beroperasi. Kalau mampir ke Pasar Lama Tangerang, jangan lupa bawa pulang oleh-oleh kecap. Dijamin unik. Museum Benteng Heritage juga menjual versi khusus dari kecap Siong Hin, lebih dikenal dengan merk SH.

Ruangan terakhir di pandu oleh Pak Han Han sendiri. “Ruangan ini adalah milik pribadi Pak Udaya, tidak dibuka untuk umum. Khusus hari ini, ada instruksi dari Pak Udaya untuk memperlihatkan ruangan ini”, ucap Pak Han Han. Ruangan ini didominasi kamera kuno, yang merupakan hobi Pak Udaya. Beberapa koleksi pemutar musik kuno (Gramaphone) juga mulai mengisi ruangan yang terlihat mulai terlalu penuh. Koleksi terakhir dari ruangan ini adalah piringan hitam produksi asli lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sebuah sejarah yang nyaris terlupakan.

Ketika diajak mengunjungi Museum Benteng Heritage, harapan saya adalah bisa menemukan cerita sejarah Cina Peranakan di Tangerang, atau di Indonesia. Memang hanya sedikit cerita tentang Cina Peranakan di museum ini, seperti cerita tentang Kecap Benteng, perjalanan armada Cheng Ho yang dicurigai merupakan cikal bakal Cina Peranakan di Tangerang, dan cerita budaya seputar Cina Peranakan. Tetapi, yang saya dapatkan lebih dari yang saya harapkan. Cerita tentang bagaimana seorang Udaya Halim merestorasi sebuah bangunan klasik, passionnya untuk berburu barang-barang bernilai sejarah, dan melihat koleksi serta bangunan Museum Benteng Heritage, buat saya itu lebih dari yang saya harapkan.

Harapan saya untuk Museum Benteng Heritage, semoga kita bisa mencari tahu asal usul bangunan tersebut. Akan sangat menarik untuk mengetahui asal usul bangunan Museum Benteng Heritage, mengingat sangat jarang saya menemukan relief tentang Kwan Kong.

Informasi seperti jam operasional dan alamat bisa dilihat di situs web Museum Benteng Heritage. Disarankan untuk melakukan konfirmasi terlebih dahulu sebelum kunjungan, karena museum sering digunakan untuk acara tertentu.