Category Archives: #wellness

91 Hari Meditasi

Hari ini tepat 91 hari saya melakukan meditasi harian secara berturut-turut. Kurang lebih 3 bulan, tanpa jeda, saya melakukan meditasi setiap hari, meskipun sedang dalam perjalanan, dalam kondisi pekerjaan yang sibuk, dan ketika ada anggota keluarga yang dirawat di rumah sakit.

Photo by Peter Hershey from Unsplash

Lalu, apa manfaat yang saya dapatkan dari latihan meditasi rutin?

Beberapa hari yang lalu, Grace bercerita tentang seorang teman, yang pernah ikut latihan meditasi. Grace bercerita tentang praktisi meditasi tingkat lanjut dengan menggunakan analogi sebuah kaca. “Seperti kaca, transparan terhadap cahaya. Kalau ada sesuatu kejadian, misalnya mbilnya disalip di jalan, dia hanya menarik nafas tanpa ngomel.”

Tentu saja, dalam hanya 91 hari, saya belum mencapai tahap “seperti kaca” tersebut. Tapi jelas terasa bahwa emosi menjadi cukup stabil. Terkadang saya masih menggunakan suara tinggi dalam beberapa meeting di kantor. Tapi sebagian besar adalah nada tinggi yang terkontrol, dengan suatu tujuan. Atau di jalan, beberapa kali berhasil menarik nafas panjang saya ketika disalip dari belakang. Atau ketika anak terlambat bangun untuk sekolah, saya hanya mengambil nafas dan memnutuskan kalau dia tidak usah sekolah. Tentu, dia masih mendapat sedikit tindakan disiplin.

Untuk merayakannya, saya memulai kolom #meditasi di blog ini. Niat selanjutnya adalah untuk melanjutkan latihan meditasi harian ini hingga 1 tahun, 365 hari. Semoga suatu saat saya bisa mencapai kondisi “seperti kaca”, transparan, dan tenang.

Green Smoothies Nanas-Vinegar

Salah satu kegunaan hasil panen hidroponik adalah untuk bahan green smoothies. Green smoothies menjadi pilihan saya untuk bekal ke kantor, sebagai snack antara sarapan dan makan siang.

Green smooties of hydroponic Pak Choy

Berikut ini salah satu resep green smoothies yang paling sering saya buat:

  1. Pak Choy/Romaine Lettuce, tergantung panen yang ada
  2. Satu sendok makan Apple Cider Vinegar/Cuka Apel
  3. Nanas yang sudah dipotong-potong, secukupnya
  4. Air matang sekitar 50-100ml

Sayur setelah dicuci lalu dipotong-potong sebelum dimasukkan ke blender. Lalu tambah Nanas, Cuka Apel dan terakhir air matang. Blender semua bahan selama 1-2 menit, lalu tuang di dalam botol vacuum. Tambahakan es batu, dan green smoothies siap di bawa dan dikonsumsi hingga 5-6 jam kemudian.

Solitude

In response to WordPress Photo Challenge: Solitude

In this crowded world or people and gadget, I find my solitude in running and cycling.

Solitude in BSD

I can run with fellow friends, in a race with spectators, or cycling with friends. But for much of the time during the run, I’m always busy with my own thought. It is the time when I can think, or let the mind wander to find some ideas, or solution.

Nginep Di Sentul? Ya Lari Pagi Dong

Dengan udara pegunungan yang dingin dan bersih, Sentul memang punya daya tarik sendiri sebagai tujuan untuk sepedaan di hari minggu, atau lari pagi. Tapi, kalau disuruh nyetir dari Jakarta, rasanya kok daya tariknya jadi berkurang ya. Apalagi kalau setelah lari atau sepedaan masih harus nyetir pulang. Beban.

Beda ceritanya kalau lagi menginap di Sentul. Meskipun bangun kesiangan seperti beberapa minggu yang lalu, rasanya sayang kalau kesempatan lari pagi di pegunungan dilewatkan begitu saja.

Not at Car Free Day

Matahari sudah tinggi, namun udara masih cukup dingin pada jam 6:30, ketika saya keluar dari hotel memasuki Jalan Jend. Sudirman. Meskipun memiliki nama sama, Jalan Jend. Sudirman di Sentul tidak seramai Car Free Day di Jakarta. Terlihat beberapa orang sedang olah raga jalan kaki, lari, dan sebagian lainnya hanya bercengkrama di atas motor mereka. Di sebuah jembatan darurat, Pak Ogah dengan sigap membantu motor-motor yang lalu lalang.

Morning at the Factory

Dari Jalan Jend. Sudirman rute lari memasuki jalan raya Sentul. Lalu lintas kendaraan bermotor masih sepi. Sesekali beberapa sepeda dalam formasi peloton melewati saya sambil menyapa. Ada juga yang hanya sekedar lewat. Hanya sekali saya menyalip sebuah sepeda. Si pengendara sedang duduk di atas rumput sambil makan. “Selamat pagi”, sapa saya. Beberapa ratus meter kemudian, sepeda tersebut kembali melewati saya sambil menyapa, “Mari Pak”. Saya hanya mengangkat tangan.

Downhill

Tidak lama kemudian, Jalan Raya Sentul mulai menunjukkan tantangan di balik rute lari yang bagus: Tanjakan dan turunan. Tanjakan dan turunan menjdai momok bagi yang sedang mengejar jarak dan kecepatan, tetapi justru dicari oleh yang sedang berlatih untuk marathon atau trail. Untungnya udara yang segar dan pohon yang teduh membuat tanjakan dan turunan ini menjadi tidak terasa berat. Ditambah lagi view gunung di kejauhan, ikut membantu mengalihkan perhatian ke nafas yang semakin pendek.

Mountain View

Setelah melewati gerbang utama perumahan Sentul City, elevasi tanjakan semakin curam. Saya berhenti sejenak di dekat sebuah papan petunjuk untuk mengambil nafas dan memastikan waktu. Karena sudah cukup siang dan mulai panas, saya memutuskan untuk kembali ke hotel. Jarak menunjukkan 4.1 km, sehingga total jarak tempuh akan sekitar 8 km. Not too bad.

Through the Empty Road

Sampai di persimpangan Jalan Sudirman menuju hotel, terlihat kalau pintu masuk tol tidak terlalu jauh. Saya pun memutuskan untuk melanjutkan sedikit ke arah tol.

Can Runners Enter?

Tidak ada larangan memang untuk masuk ke jalan tol untuk pelari, asal jangan bawa gerobak. Tapi tidak ada tarif tol yang tercantum di pintu tol. Jadi ya sudah, saya kembali ke Jalan Sudirman dan hotel tempat saya menginap. Detour ke jalan tol ini menambah jarak temput total menjadi hampir 9 km. Untuk rute-nya bisa di lihat di tautan ini.

Lari di Benteng Keraton Yogyakarta

Sudah beberapa kali berkunjung ke kota Yogyakarta, setiap kali ke sini selalu berkesempatan untuk melalui daerah didalam Benteng Keraton Yogyakarta. Benteng ini memiliki nama asli Benteng Baluwerti, artinya jatuhnya peluru laksana hujan. Setiap kali melalui bagian dalam atau luar benteng selalu penasaran akan luasnya daerah dalam benteng Baluwerti. Dan akhirnya, ketika kembali ke Yogyakarta bulan Juni yang lalu, saya dapat kesempatan untuk jalan kaki didalam daerah benteng, atau lebih tepatnya lari pagi.

Through the Outer Wall
Di bawah gerbang selatan Benteng Baluwerti (Plengkung Gadhing)

Benteng Baluwerti Keraton Yogyakarta memiliki luas kurang lebih 1 kilometer persegi. Kalau dibandingkan Forbidden City, kompleks kerajaan China di Beijing, Benteng Baluwerti sedikit lebih luas. Benteng Baluwerti memiliki 5 gapura sebagai jalan keluar-masuk, dan 1 buah pintu utama di sisi utara yang berhubungan langsung ke keraton. Dari 5 gapura, hanya tinggal 2 yang utuh. Saya masuk melalui salah satu gapura yang utuh di sisi selatan, yaitu Plengkung Gadhing.

The outer wall today
Berlari di atas Benteng Baluwerti

Setelah melalui Plengkung Gadhing, ada tangga naik ke atas dinding Benteng. Dinding Selatan Benten Baluwerti, merupakan satu-satunya dinding Benteng yang masih utuh. Lebar dinding bagian atas sekitar 4 meter, cukup untuk prajurit dan kereta kuda lalu lalang untuk menghadapi serangan musuh. “Dulu para prajurit tinggal di atas dinding benteng ini, untk menghadapi musuh dari sebelah kanan”, kata seorang bapak dengan logat jawa yang kental.

Dinding benteng Baluwerti sebelah timur ini diakhiri dengan sebuah pojok pengintaian. Ada 4 pojok pengintaian, masing-masing di pjokan Benteng Baluwerti, saat ini tinggal tersisa 3. Selain digunakan untuk pengintaian sesuai namanya, di bagian bawah juga digunakan sebagai gudang.

Selesai dari pojok pengintaian timur, lari dilanjutkan melalui jalan-jalan di dalam kompleks didalam benteng. Komplek ini dulunya adalah tempat tinggal dari keluarga Sultan, Abdi Dalem, prajurit, dan karyawan-karyawan kerjaan. Saat ini daerah tersebut sudah berubah menjadi seperti perumahan biasa.

Inside the wall - Housing
Kampung Siliran, yang dulunya tempat tinggal Abdi Dalem yang bertanggungjawab atas lampu untuk penerangan Benteng Baluwerti

Di beberapa tempat, dinding-dinding yang memisahkan area dalam Benteng Baluwerti masih terlihat. Dinding ini memisahkan area dengan peruntukan yang berbeda di masa lampau. Seperti ketika saya menyusuri Jalan Taman di foto berikut, dibalik dinding sebelah kiri adalah Taman Sari, tempat rekreasi keluarga kerajaan. Dibalik dinding sebelah kanan adalah wilayah Ngadisuryan, tempat domisili Pangeran Hadi Suryo, Putra Sultan Hamengkubuwono VII. Yang menarik dari lari sepanjang dinding-dinding dalam Keraton? Tidak ada coret-coretan sama sekali.

Big Walled Road
Dinding pemisah antar kmapung dalam Benteng Baluwerti

Dari sini saya belok ke jalan yang saya sebut Jalan Dagadu. Kenapa begitu? Karena sepanjang jalan ini penuh dengan toko yang namanya pasti mengandung kata Dagadu, sebuah merk kaos terkenal dari Yogyakarta. Ada Jocker Dagadu, Jornal Dagadu, dan lain-lain. Yang mana yang asli, saya tidak tahu. Mungkin saja semuanya asli.

Dagadu Road
Jalan Dagadu

Dan diujung jalan Dagadu saya tiba ke bangunan utama dalam Benteng Baluwerti, yaitu Keraton Yogyakarta, tempat tinggal Sultan, dan pusat pemerintahan Yogyakarta. Hari masih pagi, dan pintu utama Keraton pun masih tutup. Halaman yang biasanya dipenuhi turis masih terlihat lengang.

In front of the Palace
Mendekati kompleks Keraton. Lambang di atas jam adalah lambang dinasti Hamengkubuwono, Sultan saat ini.

Selain Jalan Dagadu, ada juga yang saya sebut Jalan Gudeg. Nama asli jalan ini adalah Jalan Wijilan. Hampir setiap bangunan di jalan ini adalah rumah makan Gudeg, makanan khas Yogyakarta. Beberapa sudah terkenal, beberapa masih jarang terdengar. Yang mana yang enak ya sesuai selera.

The Gudeg Street
Jalan Wijilan, atau lebih dikenal dengan Jalan Gudeg

Tidak jauh dari Jalan Wijilan, lari pagi membawa saya sampai ke Alun-alun Utara. Imajinasi saya, Alun-alun utara ini adalah tempat Sultan melakukan pertemuan besar dengan rakyat atau tempat upacara kerajaan. Hingga saat ini Alun-alun Utara masih menjadi tempat acara Sekaten.

The North Quarter
Alun-alun Utara (Lor). bangunan beratap merah di sebelah kiri adalah Balairung Utara Keraton Yogyakarta

Matahari sudah sangat terik ketika saya mengarah balik ke Jalan Prawirotaman dan Alun-alun Utara, melewati Pintu Barat Benteng Baluwerti (Plengkung Jagabaya). Berbeda dengan Pintu Selatan, Plengkung Jagabaya sudah hancur dan dibangun ulang menjadi sebuah Gapura. Tidak ada dinding yang berdisi disekitar Plengkung Jagabaya

Jagabaya Gate
Pintu Barat Benteng Baluwerti (Plengkung Jagabaya)

Lari di dalam Benteng Baluwerti memang mengasikkan, sambil belajar sejarah Keraton Yogyakarta. Dari rencana lari sejauh 5km, saya akhirnya berlari hampir 10km, karena tenggelam dalam imajinasi. Imajinasi bagaimana suasana Benteng Baluwerti ini di masa lampau, dan transformasi menjadi ikon Kota Yogyakarta.

Foto-foto bisa dilihat di tautan Flickr ini.