Category Archives: #wellness

Freeletics Bulan Pertama: Making Connection

Minggu kemaren ini saya baru menyelesaikan latihan terakhir Freeletics minggu ke-4. Artinya, sudah genap 1 bulan saya berlatih dengan coach Freeletics.

Latihan di Minggu pagi kemaren agak berbeda. Seperti biasa, saya memilih tempat latihan di lapangan bulu tangkis depan rumah. mendekati setengah jalan, ada serombongan anak-anak menhampiri. Pada awalnya mereka tertarik pada telepon genggam yang saya gunakan. Tapi kemudian perhatian mereka beralih ke kegiatan yang saya lakukan.

“Ayo ikut”, saya menawarkan kepada mereka.

“Saya udah olah raga tadi pagi oom”, jawab anak laki yang paling besar

“Olah raga apa?” Tanya saya balik

“Lari”, jawab anak yang sama.

Kids on the Playground
Teman latihan hari ini: Anda, El, Angie dan Angel

Menu latihan di minggu ke-4 ini memang luar biasa berat. Setidaknya, saya butuh 1 hari istirahat antara latihan. Dan sebagai latihan terakhir, ibaratnya ujian, ditutup dengan kombinasi mountain climbers, sprawls, stand ups, push ups, dan crunches.

“Oom lambat,” salah satu anak berkomentar pada saat saya hampir selesai. Kalau anak-anak gak pernah bohong, sepertinya memang saya perlu latihan lebih keras

Buat yang mau ikutan, silahkan meluncur ke situs freeletics. Jangan lupa add saya ya, supaya kita bisa latihan bersama.

Freeletics Minggu 2-3: Jangan Bersin

Setelah perkenalan di minggu pertama, porsi latihan untuk minggu kedua dan ketiga mulai terasa berat. Sebagai gambaran dari latihan selama 1.5 minggu terakhir:

  1. Jangan sampai bersin, karena setiap kali bersin, otot perut terasa sakit.
  2. Kalau bangun tidur, coba putar badan posisi tengkurap dulu baru bangun, karena otot perut masih pegal.
  3. Ketika tidur menyamping di lantai, saat bermain dengan anak, seperti ada bola tenis mengganjal di paha.

Intinya, I’m in constant pain. A good pain, or pains that feel good. Setidaknya saya bisa melihat beberapa peningkatan dari minggu pertama latihan freeletics, dari jumlah sit up, push up, dan burpee yang mampu saya lakukan. Angkanya belum fantastis, but going to the right direction.

Exercise Rep 1 Rep 2 Rep 3 Rep 4 Total
Climbers 30 20 10 20 80
Push Ups 10 7 5 7 29
Sit Ups 30 20 10 20 80
Squats 30 20 10 20 80
Jumping Jacks 50 50 50 50 200

Berikut ini salah satu improvement yang saya rasakan. Pagi ini saya baru saja menyelesaikan latihan kedua dari 4 latihan yang direncanakan untuk minggu ketiga. Total 80 climbers, 29 push-up, 80 sit up, 80 squats, dan 200 jumping jacks, dalam 20 menit. I thought the sit up will kill me. Tapi, meskipun belum terasa mudah, saya bisa menyelesaikan sit up lebih mudah dari yang saya bayangkan.

Oh, dan satu lagi, berhubung freeletics memungkinkan untuk latihan di mana saja dan kapan saja, akhir minggu kemaren saya sempat latihan di BSP Farm, Bogor. Latihan di teras dengan permandangan seperti di bawah ini, siapa yang nggak mau?

Theater of Nature

Buat yang mau ikutan, silahkan meluncur ke situs freeletics. Jangan lupa add saya ya, supaya kita bisa latihan bersama.

Freeletics Minggu 1: Masih Malu-malu

Minggu pertama dalam Freeletics disebut sebagai Introduction Week. Dan seperti pada hubungan lainnya, sewaktu pertama kali baru kenalan biasanya masih malu-malu. Sepertinya ini yang terjadi, karena porsi latihan yang diberikan juga masih sangat ringan.

Freeletics Week 01

Seperlima Morpheus terdiri dari 5 push up, 10 lunges dan 20 jumping jacks. Sementara 1/3 Metis terdiri dari 10 burpees, 10 climbers dan 10 jumps.

Sama seperti periode trial beberapa minggu yang lalu, saya masih menikmati fleksibilitas melakukan latihan tanpa harus ke Gym. Beberapa latihan di atas saya lakukan di garasi, di dalam kamar, atau di ruang makan, kadang tanpa matras.

Buat yang mau ikutan, silahkan meluncur ke situs freeletics. Jangan lupa add saya ya, supaya kita bisa latihan bersama.

Mulai Berlatih dengan Freeletics

Jadi, saya baru saja memutuskan hadiah untuk tahun baru 2016: 1 Year Freeletics Coach.

Freeletics merupakan anak baru di dunia olahraga dan circuit training. Ide dibelakang Freeletics adalah circuit training dengan menggunakan berat badan sendiri. Tidak ada dumbbell, tidak perlu mesin fitness.Sebagai orang yang malas latihan beban, konsep ini cukup menarik

Konsep kedua adalah olahraga yang bisa dilakukan di mana saja. Buat saya ini juga penting. Dengan waktu yang terbatas antara pekerjaan, orang tua dan keluarga, pilihan olah raga saya harus bisa dilakukan tanpa harus melalui macetnya Jakarta.

Lets Do Freeletics

Lalu gerakan apa saja sih yang dilakukan dalam Freeletics? Seluruh gerakan ada di dalam aplikasi Freeletics yang bisa diunduh di iPhone dan Android phone. Gerakan ini lengkap dengan video yang bisa diputar tanpa koneksi internet, dan keterangan sebagai panduan. Gerakan-gerakan Freeletics cukup standar, seperti Burpee, Jumping Jacks, Push-up, Sit-up, dll. Tapi, ketika dilakukan dengan repetisi banyak, dan secara berurutan, kombinasi gerakan ini cukup membuat pangkal paha dan otot perut saya pegal-pegal selama beberapa hari.

First Freeletics Training
Latihan Freeletics pertama. Cukup 2 round saja untuk saya.

Setelah mencoba  2 latihan selama 2 hari, saya memutuskan untuk ikut program latihan dengan Coach. Program Coach dari Freeletics merupakan opsi berbayar. Dengan opsi ini, Freeltics akan memberikan porsi latihan individual yang disesuaikan dengan tujuan, kemampuan dan waktu luang yang ada. Tujuan latihan tiap minggu bisa untuk kardio, kekuatan, atau kombinasi keduanya. Kemampuan kita akan diukur dari umpan balik yang kita berikan setiap akhir sesi, dan waktu luang kita tentukan di awal minggu, mulai dari 3 hari hingga 5 hari latihan. Dengan harga €80 setahun, atau sekitar 1.2 juta rupiah, program Coach ini hanya seharga 2 bulan Gym, dan 6 bulan kopi cap duyung. Sangat layak untuk kado tahun baru 2016.

Buat yang mau coba Freeletics, bisa dilihat dan dicoba secara gratis di website freeletics.com. Dan jangan lupa add saya dengan link ini.

Today I’m (not) Running Jakarta Marathon

Butuh sebuah kedewasaan untuk mengatakan tidak terhadap sebuah pekerjaan, apalagi untuk sebuah acara bersenang-senang seperti Jakarta Marathon 2015. Dan hari ini saya membuktikan hal itu dengan memutuskan untuk tidak ikut berlari di Jakarta Marathon 2015.

Empat hari sebelum Jakarta Marathon 2015, tepatnya hari Rabu tanggal 21 Oktober 2015. Dalam sebuah pertandingan basket di kantor tempat saya bekerja, tiba-tiba terasa seperti ada yang memukul betis kanan saya. Betis kanan langsung terasa sangat sakit. Saking sakitnya, saya haru turun tangga dengan menggunakan kaki kiri, disusul dengan kaki kanan.

Berbagai macam upaya dilalukan untuk mengembalikan fungsi otot betis dalam waktu singkat demi Jakarta Marathon 2015. Mulai dari mengenakan compression selama 24 jam, kompres es, semprotan obat tradisional cina, hingga terakhir memanggil tukang urut. Hasilnya cukup memuaskan. Kaki kanan sudah bisa digunakan untuk naik/turun tangga, dan melompat. Masih terasa ada yang mengganjal, terutama ketika mengubah arah berjalan dengan mendadak, dan apabila duduk terlalu lama, kaki masih terasa nyeri ketika berjalan.

Dan ketika saya duduk di dalam mobil pagi ini, saya memutuskan untuk tidak berangkat. Lets save this leg for another, bigger purpose.

I'm not Running Jakarta Marathon 2015

Lalu, apakah tidak sedih? Kecewa?

Tentu saja kecewa. Ini adalah pertama kali saya memutuskan untuk tidak berdiri di garis start setelah mendaftar di sebuah lomba lari. Sedih, karena ini artinya koleksi medali Jakarta Marathon saya tidak akan lengkap. Lagipula, agak rindu rasanya dengan keriaan sebuah acara lari sebesar Jakarta Marathon, dan bertemu teman-teman lama yang sudah lari bersama-sama sejak lomba lari di Jakarta hanya dihadiri 150 pelari saja.

Tapi, pada akhirnya, ini hanyalah sebuah acara lari. Acara ini bukan pertama kalinya saya berlari 21 km, bukan pertama kalinya saya ikut Jakarta Marathon, dan bukan pertama kalinya saya berlari 21 km di Jakarta Marathon.

Jadi selanjutnya apa? For sure, I’m going back to sleep, to my comfy bed and my wife.

Masih ada tujuan besar saya tahun ini, yaitu target lari 10 km dibawah 60 menit. So far saya masih harus memotong 5 menit untuk mencapai target ini, masih ada waktu. Dan yang terbesar adalah, saya berencana untuk kembali berlari Marathon di tahun 2016. Dan tentunya, saya membutuhkan otot betis kanan saya untuk kedua hal itu.

So, beware Jakarta Marathon, I’m coming back next year, with a vengeance