Category Archives: #wellness

Freeletics Minggu 2-3: Jangan Bersin

Setelah perkenalan di minggu pertama, porsi latihan untuk minggu kedua dan ketiga mulai terasa berat. Sebagai gambaran dari latihan selama 1.5 minggu terakhir:

  1. Jangan sampai bersin, karena setiap kali bersin, otot perut terasa sakit.
  2. Kalau bangun tidur, coba putar badan posisi tengkurap dulu baru bangun, karena otot perut masih pegal.
  3. Ketika tidur menyamping di lantai, saat bermain dengan anak, seperti ada bola tenis mengganjal di paha.

Intinya, I’m in constant pain. A good pain, or pains that feel good. Setidaknya saya bisa melihat beberapa peningkatan dari minggu pertama latihan freeletics, dari jumlah sit up, push up, dan burpee yang mampu saya lakukan. Angkanya belum fantastis, but going to the right direction.

Exercise Rep 1 Rep 2 Rep 3 Rep 4 Total
Climbers 30 20 10 20 80
Push Ups 10 7 5 7 29
Sit Ups 30 20 10 20 80
Squats 30 20 10 20 80
Jumping Jacks 50 50 50 50 200

Berikut ini salah satu improvement yang saya rasakan. Pagi ini saya baru saja menyelesaikan latihan kedua dari 4 latihan yang direncanakan untuk minggu ketiga. Total 80 climbers, 29 push-up, 80 sit up, 80 squats, dan 200 jumping jacks, dalam 20 menit. I thought the sit up will kill me. Tapi, meskipun belum terasa mudah, saya bisa menyelesaikan sit up lebih mudah dari yang saya bayangkan.

Oh, dan satu lagi, berhubung freeletics memungkinkan untuk latihan di mana saja dan kapan saja, akhir minggu kemaren saya sempat latihan di BSP Farm, Bogor. Latihan di teras dengan permandangan seperti di bawah ini, siapa yang nggak mau?

Theater of Nature

Buat yang mau ikutan, silahkan meluncur ke situs freeletics. Jangan lupa add saya ya, supaya kita bisa latihan bersama.

Freeletics Minggu 1: Masih Malu-malu

Minggu pertama dalam Freeletics disebut sebagai Introduction Week. Dan seperti pada hubungan lainnya, sewaktu pertama kali baru kenalan biasanya masih malu-malu. Sepertinya ini yang terjadi, karena porsi latihan yang diberikan juga masih sangat ringan.

Freeletics Week 01

Seperlima Morpheus terdiri dari 5 push up, 10 lunges dan 20 jumping jacks. Sementara 1/3 Metis terdiri dari 10 burpees, 10 climbers dan 10 jumps.

Sama seperti periode trial beberapa minggu yang lalu, saya masih menikmati fleksibilitas melakukan latihan tanpa harus ke Gym. Beberapa latihan di atas saya lakukan di garasi, di dalam kamar, atau di ruang makan, kadang tanpa matras.

Buat yang mau ikutan, silahkan meluncur ke situs freeletics. Jangan lupa add saya ya, supaya kita bisa latihan bersama.

Mulai Berlatih dengan Freeletics

Jadi, saya baru saja memutuskan hadiah untuk tahun baru 2016: 1 Year Freeletics Coach.

Freeletics merupakan anak baru di dunia olahraga dan circuit training. Ide dibelakang Freeletics adalah circuit training dengan menggunakan berat badan sendiri. Tidak ada dumbbell, tidak perlu mesin fitness.Sebagai orang yang malas latihan beban, konsep ini cukup menarik

Konsep kedua adalah olahraga yang bisa dilakukan di mana saja. Buat saya ini juga penting. Dengan waktu yang terbatas antara pekerjaan, orang tua dan keluarga, pilihan olah raga saya harus bisa dilakukan tanpa harus melalui macetnya Jakarta.

Lets Do Freeletics

Lalu gerakan apa saja sih yang dilakukan dalam Freeletics? Seluruh gerakan ada di dalam aplikasi Freeletics yang bisa diunduh di iPhone dan Android phone. Gerakan ini lengkap dengan video yang bisa diputar tanpa koneksi internet, dan keterangan sebagai panduan. Gerakan-gerakan Freeletics cukup standar, seperti Burpee, Jumping Jacks, Push-up, Sit-up, dll. Tapi, ketika dilakukan dengan repetisi banyak, dan secara berurutan, kombinasi gerakan ini cukup membuat pangkal paha dan otot perut saya pegal-pegal selama beberapa hari.

First Freeletics Training
Latihan Freeletics pertama. Cukup 2 round saja untuk saya.

Setelah mencoba  2 latihan selama 2 hari, saya memutuskan untuk ikut program latihan dengan Coach. Program Coach dari Freeletics merupakan opsi berbayar. Dengan opsi ini, Freeltics akan memberikan porsi latihan individual yang disesuaikan dengan tujuan, kemampuan dan waktu luang yang ada. Tujuan latihan tiap minggu bisa untuk kardio, kekuatan, atau kombinasi keduanya. Kemampuan kita akan diukur dari umpan balik yang kita berikan setiap akhir sesi, dan waktu luang kita tentukan di awal minggu, mulai dari 3 hari hingga 5 hari latihan. Dengan harga €80 setahun, atau sekitar 1.2 juta rupiah, program Coach ini hanya seharga 2 bulan Gym, dan 6 bulan kopi cap duyung. Sangat layak untuk kado tahun baru 2016.

Buat yang mau coba Freeletics, bisa dilihat dan dicoba secara gratis di website freeletics.com. Dan jangan lupa add saya dengan link ini.

Today I’m (not) Running Jakarta Marathon

Butuh sebuah kedewasaan untuk mengatakan tidak terhadap sebuah pekerjaan, apalagi untuk sebuah acara bersenang-senang seperti Jakarta Marathon 2015. Dan hari ini saya membuktikan hal itu dengan memutuskan untuk tidak ikut berlari di Jakarta Marathon 2015.

Empat hari sebelum Jakarta Marathon 2015, tepatnya hari Rabu tanggal 21 Oktober 2015. Dalam sebuah pertandingan basket di kantor tempat saya bekerja, tiba-tiba terasa seperti ada yang memukul betis kanan saya. Betis kanan langsung terasa sangat sakit. Saking sakitnya, saya haru turun tangga dengan menggunakan kaki kiri, disusul dengan kaki kanan.

Berbagai macam upaya dilalukan untuk mengembalikan fungsi otot betis dalam waktu singkat demi Jakarta Marathon 2015. Mulai dari mengenakan compression selama 24 jam, kompres es, semprotan obat tradisional cina, hingga terakhir memanggil tukang urut. Hasilnya cukup memuaskan. Kaki kanan sudah bisa digunakan untuk naik/turun tangga, dan melompat. Masih terasa ada yang mengganjal, terutama ketika mengubah arah berjalan dengan mendadak, dan apabila duduk terlalu lama, kaki masih terasa nyeri ketika berjalan.

Dan ketika saya duduk di dalam mobil pagi ini, saya memutuskan untuk tidak berangkat. Lets save this leg for another, bigger purpose.

I'm not Running Jakarta Marathon 2015

Lalu, apakah tidak sedih? Kecewa?

Tentu saja kecewa. Ini adalah pertama kali saya memutuskan untuk tidak berdiri di garis start setelah mendaftar di sebuah lomba lari. Sedih, karena ini artinya koleksi medali Jakarta Marathon saya tidak akan lengkap. Lagipula, agak rindu rasanya dengan keriaan sebuah acara lari sebesar Jakarta Marathon, dan bertemu teman-teman lama yang sudah lari bersama-sama sejak lomba lari di Jakarta hanya dihadiri 150 pelari saja.

Tapi, pada akhirnya, ini hanyalah sebuah acara lari. Acara ini bukan pertama kalinya saya berlari 21 km, bukan pertama kalinya saya ikut Jakarta Marathon, dan bukan pertama kalinya saya berlari 21 km di Jakarta Marathon.

Jadi selanjutnya apa? For sure, I’m going back to sleep, to my comfy bed and my wife.

Masih ada tujuan besar saya tahun ini, yaitu target lari 10 km dibawah 60 menit. So far saya masih harus memotong 5 menit untuk mencapai target ini, masih ada waktu. Dan yang terbesar adalah, saya berencana untuk kembali berlari Marathon di tahun 2016. Dan tentunya, saya membutuhkan otot betis kanan saya untuk kedua hal itu.

So, beware Jakarta Marathon, I’m coming back next year, with a vengeance

Combi Run 2015: Lomba Pertama di Alam Sutra

Acara lari Combi Run 10k 2015 merupakan lomba pertama saya di Alam Sutra, sekaligus ajang percobaan kedua saya untuk berlari sejauh 10 km dalam waktu dibawah 60 menit. Sejujurnya saya masih tidak berharap banyak akan mencapai target 60 menit, bahkan untuk lebih baik dari Telkomsel HaloFit Run 2015 dimana saya menyelesaikan lari 10 km dalam waktu 1 jam 9 menit.

Berdiri di area start dengan posisi agak belakang karena tidak mengejar target, saya malah sibuk ngobrol dengan beberapa teman, sesama pelari tanpa target. Karena start dari posisi cukup belakang, butuh hampir 2 menit ketika saya akhirnya melewati garis start.

Kilometer-kilometer awal dilalui dengan menyusuri rute belakang Living World, melewati club house golf Alam Sutra. Angin semilir dingin cukup membantu menjaga suhu tubuh dan detak jantung untuk berlari lebih kencang. Sepertinya bukan hanya saya yang merasa terbantu. Mendekati 4 km, rombongan pelari masih cukup padat. Padahal, di kebanyakan lomba lari lainnya, kepadatan pelari sudah berkurang melewati 2 km.

Melewati 5 km, matahari mulai naik. Cuaca mulai panas dan rute melewati jalan utama Alam Sutera yang masih jarang pepohonan. Untungnya rute hingga 5 km ini cukup rata, sehingga saya masih sanggup menjaga kecepatan. Akan tetapi banyak yang sudah mulai jalan, sehingga kepadatan pelari mulai berkurang.

Ketika memasuki checkpoint 6 km di depan Mall Alam Sutera, waktu menunjukkan kecepatan saya rata-rata 6:15 menit/km. Cukup senang, karena dengan kecepatan ini saya akan finish lebih cepat dari Telkomsel HaloFit Run.

Saya sempat berharap untuk paling tidak menyamai rekor terbaik saya untuk 10 km. Tapi memang, jumlah latihan yang kurang tidak bisa ditipu. Melewati 8 km, saya mulai kedodoran dan sempet beberapa kali jalan kaki. Pada akhirnya saya harus puas untuk finish dengan waktu chip 1 jam 5 menit.

Hasil Lomba Combirun 2015
Hasil lomba Combirun 2015 10k

Terus terang, untuk yang hanya latihan lari 5-7 km per minggu, hasil ini cukup bagus. Setidaknya hasil latihan core sejak awal tahun sudah menunjukkan hasil dengan memangkas waktu 10 km dari 1 jam 22 menit menjadi 1 jam 5 menit.

Lalu, bagaimana caranya memangkas 5 menit lagi untuk mencapai 10 km di sisa 3 bulan di tahun 2015? Selain melanjutkan latihan core, jumlah latihan lari per minggu juga harus ditingkatkan. Jadi yuk, lari dulu….