Category Archives: #running

Lari Pagi di Pantai Keramas, Gianyar, Bali

Kalau ada kontes tempat lari pagi yang terbaik, saya akan memilih pantai sebagai tempat yang terbaik. Lari di Pantai lebih sederhana dibandingkan tempat lain. Tidak perlu menggunakan sepatu, karena justru pasir yang masuk ke sepatu akan membuat kaki lecet. Suara ombak bisa menggantikan ipod. Dan Pantai Keramas di Gianyar, Bali, tidak kekurangan pemandangan untuk mengurangi rasa lelah.

Black Sands at Keramas Beach
Pasir hitam lembut di Pantai Keramas, diselingi oleh kerikil tajam

Rute saya pagi ini dimulai dari tempat saya menginap di Komune Resorts & Beach Lounge, tepat didepan Pantai Keramas Gianyar. Pantai Keramas ini berpasir hitam, bukan putih seperti pasir di Pantai Kuta atau Sanur. Saya curiga ini adalah debu vulkanik dari Gunung Agung yang meletus di tahun 1963-1964. Ditambah lagi, ada beberapa batu lava dan kerikil tajam tersebar di bentangan pasir hitam.

New Face of Pantai Keramas
Vila dan bangunan komersial lainnya mulai bermunculan di Pantai Keramas

Saya berlari ke arah barat. Di sisi kanan sudah mulai ada beberapa bangunan menghadap ke Pantai Keramas. Bangunan ini di dominasi oleh Vila, walaupun ada beberapa yang berupa bangunan hotel komersial.

Stone Farmer
Petani batu sedang mengumpulkan batu-batu kerikil

Anehnya, di Pantai Keramas yang terkenal sebagai pantai untuk berselancar, saya tidak menemui seorang pun berselancar di laut. Keramaian Pantai Keramas justru didominasi oleh penduduk lokal yang memilah-milah batu kerikil, atau menggiring bebek jalan-jalan di pantai. Dan ternyata, bebek-bebek ini juga cukup pandai berselancar dengan badannya.

Natural Surfer
Bebek-bebek ini adalah peselancar alami

Berlari di Pantai Keramas harus cukup hati-hati. Bukan karena tidak aman, tapi karena cukup banyak kerikil tajam bertebaran di sepanjang pantai. Cukup sakit kalau tidak sengaja terinjak. Terkadang saya berlari tepat di atas air untuk menghindari kerikil ini. Lagipula, cukup menyenangkan lari diatas pecahan air.

Sunrise at Pantai Keramas
Matahari Terbit di sisi Timur Pantai Keramas

Matahari sudah cukup tinggi ketika saya berputar balik kembali ke Komune Resorts. Seperti biasa, matahari pagi memberikan ekstra energi untuk melanjutkan lari. Ditambah, pasir hitam yang basah oleh air laut memberikan refleksi yang layak menjadi foto kartu pos.

Pool-side ComfortTidak banyak perubahan aktifitas di Komune Resorts ketika saya tiba kembali. Seperti biasa, pagi hari selalu mulai lebih lambat di Bali. Setelah mandi dengan air hangat, tidak ada rasanya yang lebih nikmat untuk melengkapi energi pagi selain secangkir kopi hangat di tepi kolam.

Sub 70 Minutes 10k Run

Saya langsung melihat jam tangan begitu melewati penanda kilometer 8. Jam saya menunjukkan waktu 56 menit. Masih ada waktu untuk finish dibawah 1 jam 10 menit, kalau saya bisa menyelesaikan 2 km terakhir dibawah 7 menit per km. Bukan hal yang mudah, karena setelah berlari 8km, saya merasa sangat lelah. Jantung sangat berdepar, dan kaki mulai terasa pegal dan sakit.

5 KM Pertama

Satu jam yang lalu, saya berdiri di garis start lomba lari 10k HaloFit run. Tadinya lomba ini merupakan ajang untuk menguji latihan saya selama ini. Tapi apa daya, yang disebut latihan adalah tidak lebih dari lari 10km seminggu, sepeda berpuluh-puluh km, dan beberapa kelas di gym. Lari 10k seminggu, apakah cukup untuk membuat peningkatan kecepatan lari?

Lomba pun dimulai. Cukup sulit untuk lari lebih kencang di awal-awal lomba, karena banyaknya peserta. Sedikit demi sedikit kepadatan pelari mulai berkurang. Beberapa mulai jalan karena mulai terlalu cepat, suatu kesalahan yang cukup sering dilakukan. Mempertahankan kecepatan yang sama, saya berhasil melewati beberapa teman yang juga mulai terlalu cepat.

Menjelang km 3 terdapat tanjakan landai sekitar 1 km. Semakin banyak peserta yang beralih dari lari menjadi jalan. Seperti di Bali Marathon tahun lalu, tanjakan panjang ini tidak terlalu menjadi masalah besar. Melewati km 4 saya mulai berpikir, mungkin latihan sepeda telah memperkuat otot quadriceps. Setelah tanjakan landai saya merasa masih cukup banyak tenaga tersisa.

KM 5 saya lewati dengan total waktu 36 menit, dan sedikit rasa lelah.

Dibawah 7 menit per KM

Di water station km 5, sebuah pikiran terbersit di benak saya. “Kalau saya bisa lari lebih cepat, mungkin lomba ini bisa diselesaikan dalam waktu 70 menit”. Catatan waktu 10 km dalam waktu 70 menit akan menjadi waktu tercepat saya dalam 2 tahun belakangan ini. Mari mempercepat lari, dan menyelesaikan 5 km terakhir lebih cepat dari 5 km pertama, pikir saya. Negative split.

Matahari mulai tinggi ketika saya tiba di km 8. Total 20 menit dihabiskan untuk 3 km sejak km 5, rata-rata kurang dari 7 menit per km. Dua kilometer lagi, dan saya akan finish dibawah 70 menit apabila bisa mempertahankan kecepatan. Detak jantung sudah mencapai 80% maximum. Mempertahankan kecepatan dibawah 7 menit per km bukan hal yang mudah.

Disaat saya berpikir bahwa sisa perlombaan hanya sebuah jalan lurus, tiba-tiba kami dibelokkan ke kiri. Semangat sempat drop melihat didepat ada sebuah U-turn. Belokan in hanya untuk mencapai jarak total 10k.

Garis Finish

Suara musik dari garis finish sudah mulai terdengar. “Ini bukan halusinasi kan?”, pikir saya. Antara sadar dan tidak, saya semakin menambah kecepatan.

Ketika jam Polar saya berbunyi di KM 10, waktu lomba menunjukkan 1 jam 8 menit. Tapi, seperti biasa, Selalu ada selisih jarak antara jam GPS dan jarak official. Garis finish masih beberapa ratus meter di depan saya.

Hal pertama yang saya lakukan setelah melewati garis finish adalah mematikan jam Polar. Total waktu 1 jam 9 menit.

Lari Pagi Di Tengah Kota Medan

“Ini Medan Bung!”

Ungkapan tersebut selalu diucapkan kepada orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kota Medan. Mereka bisanya kaget melihat Kota Medan yang semrawut. Mulai dari angkot, motor, bahkan mobil pribadi yang sepertinya tidak mengenal lajur jalan, pedagang kaki lima yang bejualan di trotoar kota, hingga sisi bangunan yang tampak lusuh dan kotor. Belum lagi masalah keamanan. Konon, saking tidak amannya, rumah-rumah di Medan dibangun menggunakan pintu besi sebagai pengganti pagar. Lupakan niat untuk memanjat pintu besi ini, karena bagian atasnya tersambung dengan atap garasi.

Lalu dengan kondisi seperti ini, apakah masih bisa lari pagi di Kota Medan? Meskipun bisa, apakah layak dilakukan?

Dalam sebuah perjalanan Dinas, saya mencoba untuk lari pagi, dan menemukan wajah lain dari Kota Medan di pagi hari.

Trotoar Yang Cukup

Keluar dari Hotel Santika Dyandra, tepatnya di depan Mall Palladium, saya mendapati trotoar yang cukup bersih. Di jam 6 pagi, memang tidak ada pedagang kaki lima yang berjualan, sehingga trotoar tersebut cukup nyaman untuk dilalui.

Meskipun demikian, berlari di atas trotoar Medan tetap harus hati-hati. Beberapa bagian trotoar terlihat mengelupas, sehingga kalau kurang hati-hati bisa terpeleset.

Mini Pedestrian

Di beberapa tempat, trotoar juga terlalu sempit. Di pagi hari yang sepi, saya akhirnya memilih untuk lari di atas jalan yang masih lengang.

Lapangan Merdeka

Terletak di pusat Kota Medan, Lapangan Merdeka menyediakan lapangan terbuka untuk penduduk Kota Medan. Meskipun bukan hari libur, Lapangan Merdeka cukup ramai dipadati orang-orang yang sedang berolah raga.

Merdeka Square

Trek lari di Lapangan Merdeka memang bukan kelas dunia. Ada cukup banyak batu berserakan di trek lari ini, sehingga meskipun tidak ada kendaraan, tetap harus konsentrasi.

Di pagi hari itu, saya lari keliling 2 putaran. Sempat terpikir untuk berhenti untuk bergabung dengan orang-orang yang sedang senam pagi di tengah lapangan, atau berlatih beban dengan alat-alat yang tersedia di pinggir trek lari. Tapi akhirnya, saya memutuskan untuk keluar lapangan dan melanjutkan eksplorasi Kota Medan.

Stasiun Medan

Stasiun Medan terletak disebelah Lapangan Merdeka. Jaraknya kurang dari 1 km dari Lapangan Merdeka. Dan untuk saya, selalu ada romantisme tersendiri setiap kali melewati stasiun kereta.

Medan City Station

Stasiun Medan memiliki jembatan penyeberangan yang bisa diakses tanpa harus memiliki tiket. Di siang hari, jembatan ini biasanya penuh dengan pengemis dan pedagang kaki lima. Tapi, di pagi hari, jembatan ini cukup sepi. Dan tidak ada posisi yang lebih baik untuk mengambil foto stasiun dan kereta api dari atas jembatan penyeberangan ini.

Kecepatan sedikit melambat demi mengambil beberapa foto, dari kereta batu bara hingga penumpang. Dan tentu saja, kereta Airport Railink Service. Kereta ini merupakan jenis baru yang menghubungkan bandara Kualanamu dan kota Medan.

Waiting at Train Crossing

Dan memang dasar jodoh, selepas foto-foto di Stasiun Medan masih ketemu lagi dengan Kereta Airport Railink Service ini ketika antri menunggu kereta lewat di persimpangan rel.

Pelataran Toko

Hari sudah cukup terik ketika saya mengarah kembali ke Hotel. Niat hati ingin lanjut ke Bandara Polonia yang sekarang dikembalikan ke Angkatan Udara. Tapi berhubung pekerjaan menunggu, saya memutuskan mengarah kembali ke Hotel. Sempat bingung mencari jalan yang benar, hingga akhirnya menggunakan GPS: Gunakan Polisi Setempat. Yap, akhirnya saya tanya jalan sama pak polisi.

Different Lane

Untungnya, ditengah pagi yang mulai terik, terdapat pelataran toko sebagain pengganti trotoar. Pelataran ini memiliki naungan, sehingga tidak terlalu panas. Di beberapa tempat saya terpaksa lari di jalan, karena pedagang kaki lima sudah mulai menata dagangannya.

Lain kali sepertinya saya harus mulai lebih pagi, jam 5 mungkin, supaya pagi masih cukup teduh, belum ada pedagang kaki lima, dan mungkin bisa mencapai Bandara Polonia yang lama. Untuk hari itu, saya cukup puas dengan lari pagi sejauh 5km mengelilingi pusat kota Medan

Pendapat Mengenai Barefoot Running

Buku Christopher McDougall, Born to Run, telah menimbulkan banyak perdebatan tentang apakah lari tanpa sepatu, atau dengan sepatu minimalis, lebih baik dibandingkan menggunakan sepatu lari biasa. Buat yang masih bingung, ini alasan kenapa saya percaya Barefoot Running lebih baik daripada menggunakan sepatu biasa.

Sungailiat Sunrise Run

Pertama, manusia sudah lari jauh sebelum Nike, Adidas atau Reebok ditemukan. Pheidippides, yang memberikan inspirasi lari Marathon saat ini, lari bukan hanya 42.195 km dari kota Marathon ke Athena. Pheidippides lari sejauh 240 km dari Athena menuju Sparta, dengan menggunakan alas kaki sederhana di tahun 490 BC. Jadi, sudah pasti manusia aman untuk berlari tanpa menggunakan sepatu modern saat ini.

Kedua, saat pertama kali kita belajar jalan dan berlari, kita tidak perlu sepatu. Saya melihat sendiri bagaimana anak saya belajar berdiri, berjalan, lalu berlari, tanpa perlu menggunakan sepatu. Sampai saat ini pun anak saya masih berjalan dan berlari didalam rumah atau pekarangan tanpa menggunakan sepatu. Jadi, mengapa ketika kita tumbuh besar, kita jadi membutuhkan sepatu?

Jawabannya: Berdasarkan penelitian. Saat ini ada banyak penelitian mengenai bagaimana respon kaki ketika kita berlari. Berdasarkan penelitian ini, maka dibuatlah berbagai macam jenis sepatu lari, masing-masing untuk berbagai tipe kaki. Sepatu ini akan meningkatkan performance, dan mengurangi resiko cedera pada saat kita berlari.

Ada satu masalah dari penelitian untuk sepatu lari. Penelitian ini dilakukan terhadap pelari dewasa, bukan terhadap anak-anak atau bahkan toddler. Orang dewasa yang diteliti sudah menggunakan sepatu lebih dari 10 tahun selama sekolah, termasuk dalam pelajaran olah raga. Penggunaan sepatu selama itu tentunya akan mengubah bentuk kaki, dan kekuatan otot-otot kaki untuk menyangga badan kita. Bayangkan orang yang selalu menggunakan tongkat, padahal dia tidak butuh. Lama-lama, orang tersebut akan selalu membutuhkan tongkat, karena otot yang melemah (Muscle Atrophy)

Oleh karena itu, di setiap kotak sepatu minimalis, selalu ada peringatan untuk mulai secara perlahan-lahan. Meskipun kita sudah terbiasa menyelesaikan Marathon, ketika berganti ke sepatu minimalis, mulai dengan 1-2 km dulu, lalu perlahan-lahan menambah jarak. Sepatu minimalis atau mulai berlari barefoot akan melatih otot-otot yang tadinya tidak perlu bekerja, untuk mulai menyeimbangkan badan kita saat berlari.

Terakhir, jalanan saat ini berbahaya. Ada paku, beling, dan lain-lain yang siap menusuk kaki kita kalau kita lari tanpa alas kaki. Yang terakhir ini ada benarnya. Oleh karena itu, saya masih lari menggunakan alas kaki minimalis.

Favorit saya? Vibram atau New Balance Minimus, karena alas kaki ini bisa dilipat dan mudah dibawa traveling.

10 KM Under 60 Minutes Project

Proyek 10 km Under 60 Minutes (#10Under60) adalah proyek lari saya di tahun 2015 ini. Seperti namanya, target proyek ini adalah untuk menyelesaikan lomba lari 10 KM di bawah 60 menit.

10 KM Under 60 Minutes
Semua bisa lari kencang kalau dikejar Clone Trooper

Kenapa sih 10 km? Padahal kan saya sudah menyelesaikan 3 Marathon? Kenapa tidak fokus memeprbaiki catatan waktu Marathon saja? Atau beralih ke Ultra Marathon?

Alasan pertama adalah waktu. Latihan Marathon, apalagi Ultra Marathon, membutuhkan komitmen waktu yang banyak. Sementara, kondisi keluarga saya saat ini menuntut saya untuk lebih banyak waktu di rumah. Apalagi anak saya akan mulai sekolah setiap hari mulai bulan Agustus. Jadi, untuk tahun ini, saya memutuskan untuk tidak ikut Marathon, dan akan lebih fokus ke jarak yang lebih pendek.

Alasan kedua, variasi. Lari jarak jauh seperti Marathon atau Half Marathon menggunakan otot yang berbeda dengan lari jarak yang lebih singkat, seperti 5 km dan 10 km. Setelah 2 tahun terakhir berlatih Marathon, otot untuk lari jarak pendek saya menjadi kurang terlatih. Hal ini terlihat dari catatan waktu 10 km saya, dari 63 menit di Februari 2013, melorot hingga hampir 90 menit. Harapannya, sambil berlatih untuk 10 km, catatan waktu saya juga akan lebih baik ketika saya memutuskan kembali berlari Marathon.

Lalu, kenapa tidak mulai dari 5 km? Well, karena, saya sudah pernah menyelesaikan lomba lari 5 km dibawah 30 menit. Catatan waktu terbaik saya untuk 5 km adalah 28 menit 44 detik. Menurut teori, seharusnya saya bisa menyelesaikan lomba 10 km dibawah 60 menit.

Jadi, inilah yang menjadi target saya: Menyelesaikan lari 10 km dibawah 60 menit