Lari di Benteng Keraton Yogyakarta

Sudah beberapa kali berkunjung ke kota Yogyakarta, setiap kali ke sini selalu berkesempatan untuk melalui daerah didalam Benteng Keraton Yogyakarta. Benteng ini memiliki nama asli Benteng Baluwerti, artinya jatuhnya peluru laksana hujan. Setiap kali melalui bagian dalam atau luar benteng selalu penasaran akan luasnya daerah dalam benteng Baluwerti. Dan akhirnya, ketika kembali ke Yogyakarta bulan Juni yang lalu, saya dapat kesempatan untuk jalan kaki didalam daerah benteng, atau lebih tepatnya lari pagi.

Through the Outer Wall
Di bawah gerbang selatan Benteng Baluwerti (Plengkung Gadhing)

Benteng Baluwerti Keraton Yogyakarta memiliki luas kurang lebih 1 kilometer persegi. Kalau dibandingkan Forbidden City, kompleks kerajaan China di Beijing, Benteng Baluwerti sedikit lebih luas. Benteng Baluwerti memiliki 5 gapura sebagai jalan keluar-masuk, dan 1 buah pintu utama di sisi utara yang berhubungan langsung ke keraton. Dari 5 gapura, hanya tinggal 2 yang utuh. Saya masuk melalui salah satu gapura yang utuh di sisi selatan, yaitu Plengkung Gadhing.

The outer wall today
Berlari di atas Benteng Baluwerti

Setelah melalui Plengkung Gadhing, ada tangga naik ke atas dinding Benteng. Dinding Selatan Benten Baluwerti, merupakan satu-satunya dinding Benteng yang masih utuh. Lebar dinding bagian atas sekitar 4 meter, cukup untuk prajurit dan kereta kuda lalu lalang untuk menghadapi serangan musuh. “Dulu para prajurit tinggal di atas dinding benteng ini, untk menghadapi musuh dari sebelah kanan”, kata seorang bapak dengan logat jawa yang kental.

Dinding benteng Baluwerti sebelah timur ini diakhiri dengan sebuah pojok pengintaian. Ada 4 pojok pengintaian, masing-masing di pjokan Benteng Baluwerti, saat ini tinggal tersisa 3. Selain digunakan untuk pengintaian sesuai namanya, di bagian bawah juga digunakan sebagai gudang.

Selesai dari pojok pengintaian timur, lari dilanjutkan melalui jalan-jalan di dalam kompleks didalam benteng. Komplek ini dulunya adalah tempat tinggal dari keluarga Sultan, Abdi Dalem, prajurit, dan karyawan-karyawan kerjaan. Saat ini daerah tersebut sudah berubah menjadi seperti perumahan biasa.

Inside the wall - Housing
Kampung Siliran, yang dulunya tempat tinggal Abdi Dalem yang bertanggungjawab atas lampu untuk penerangan Benteng Baluwerti

Di beberapa tempat, dinding-dinding yang memisahkan area dalam Benteng Baluwerti masih terlihat. Dinding ini memisahkan area dengan peruntukan yang berbeda di masa lampau. Seperti ketika saya menyusuri Jalan Taman di foto berikut, dibalik dinding sebelah kiri adalah Taman Sari, tempat rekreasi keluarga kerajaan. Dibalik dinding sebelah kanan adalah wilayah Ngadisuryan, tempat domisili Pangeran Hadi Suryo, Putra Sultan Hamengkubuwono VII. Yang menarik dari lari sepanjang dinding-dinding dalam Keraton? Tidak ada coret-coretan sama sekali.

Big Walled Road
Dinding pemisah antar kmapung dalam Benteng Baluwerti

Dari sini saya belok ke jalan yang saya sebut Jalan Dagadu. Kenapa begitu? Karena sepanjang jalan ini penuh dengan toko yang namanya pasti mengandung kata Dagadu, sebuah merk kaos terkenal dari Yogyakarta. Ada Jocker Dagadu, Jornal Dagadu, dan lain-lain. Yang mana yang asli, saya tidak tahu. Mungkin saja semuanya asli.

Dagadu Road
Jalan Dagadu

Dan diujung jalan Dagadu saya tiba ke bangunan utama dalam Benteng Baluwerti, yaitu Keraton Yogyakarta, tempat tinggal Sultan, dan pusat pemerintahan Yogyakarta. Hari masih pagi, dan pintu utama Keraton pun masih tutup. Halaman yang biasanya dipenuhi turis masih terlihat lengang.

In front of the Palace
Mendekati kompleks Keraton. Lambang di atas jam adalah lambang dinasti Hamengkubuwono, Sultan saat ini.

Selain Jalan Dagadu, ada juga yang saya sebut Jalan Gudeg. Nama asli jalan ini adalah Jalan Wijilan. Hampir setiap bangunan di jalan ini adalah rumah makan Gudeg, makanan khas Yogyakarta. Beberapa sudah terkenal, beberapa masih jarang terdengar. Yang mana yang enak ya sesuai selera.

The Gudeg Street
Jalan Wijilan, atau lebih dikenal dengan Jalan Gudeg

Tidak jauh dari Jalan Wijilan, lari pagi membawa saya sampai ke Alun-alun Utara. Imajinasi saya, Alun-alun utara ini adalah tempat Sultan melakukan pertemuan besar dengan rakyat atau tempat upacara kerajaan. Hingga saat ini Alun-alun Utara masih menjadi tempat acara Sekaten.

The North Quarter
Alun-alun Utara (Lor). bangunan beratap merah di sebelah kiri adalah Balairung Utara Keraton Yogyakarta

Matahari sudah sangat terik ketika saya mengarah balik ke Jalan Prawirotaman dan Alun-alun Utara, melewati Pintu Barat Benteng Baluwerti (Plengkung Jagabaya). Berbeda dengan Pintu Selatan, Plengkung Jagabaya sudah hancur dan dibangun ulang menjadi sebuah Gapura. Tidak ada dinding yang berdisi disekitar Plengkung Jagabaya

Jagabaya Gate
Pintu Barat Benteng Baluwerti (Plengkung Jagabaya)

Lari di dalam Benteng Baluwerti memang mengasikkan, sambil belajar sejarah Keraton Yogyakarta. Dari rencana lari sejauh 5km, saya akhirnya berlari hampir 10km, karena tenggelam dalam imajinasi. Imajinasi bagaimana suasana Benteng Baluwerti ini di masa lampau, dan transformasi menjadi ikon Kota Yogyakarta.

Foto-foto bisa dilihat di tautan Flickr ini.

Leave a Reply