Green Smoothies Nanas-Vinegar

Salah satu kegunaan hasil panen hidroponik adalah untuk bahan green smoothies. Green smoothies menjadi pilihan saya untuk bekal ke kantor, sebagai snack antara sarapan dan makan siang.

Green smooties of hydroponic Pak Choy

Berikut ini salah satu resep green smoothies yang paling sering saya buat:

  1. Pak Choy/Romaine Lettuce, tergantung panen yang ada
  2. Satu sendok makan Apple Cider Vinegar/Cuka Apel
  3. Nanas yang sudah dipotong-potong, secukupnya
  4. Air matang sekitar 50-100ml

Sayur setelah dicuci lalu dipotong-potong sebelum dimasukkan ke blender. Lalu tambah Nanas, Cuka Apel dan terakhir air matang. Blender semua bahan selama 1-2 menit, lalu tuang di dalam botol vacuum. Tambahakan es batu, dan green smoothies siap di bawa dan dikonsumsi hingga 5-6 jam kemudian.

Making Use of Small Patio at Home

What else can be better to use a small patio on 2nd floor of my home, than planting green vegetables to be consumed? The widespread of Hydroponic Farming made it possible to grow your own vegetables, even in a space as small as 1×0.8 meters

Harvest Time

While by definition it is not an organic vegetables, due to artificial chemical plant nutrition, it is guaranteed to free from pesticides. Besides, the vegetables has complete nutrition, which results in more nutrition for our body compared to soil-grown plant. Especially in light of depleting soil nutrition.

Aiming to be even more greener to the environment, I’m using a green power source instead of main electricity. The pump to circulate the liquid plant nutrition runs on Solar Power. The whole system is even designed to run during the day, eliminating the need of battery to further eliminate chemical waste.

Solar Panel Pump

This post is made in response to WordPress Photo Challenge: It IS Easy Being Green!

Solitude

In response to WordPress Photo Challenge: Solitude

In this crowded world or people and gadget, I find my solitude in running and cycling.

Solitude in BSD

I can run with fellow friends, in a race with spectators, or cycling with friends. But for much of the time during the run, I’m always busy with my own thought. It is the time when I can think, or let the mind wander to find some ideas, or solution.

Gerilya Kebun Sayur

Mungkin ini yang sebaiknya dilakukan oleh penggiat urban farming: Gerilya Kebun Sayur. Ron Finley berbagi dalam TED Talks mengenai gerilya yang dilakukan di Los Angeles, United States. Dia menanam sayur, pertama di halaman depan rumahnya, yang lalu menyebar ke tanah2 kosong sekitar. Tanaman ini tidak memiliki pagar, sehingga siapa saja bisa mengambil sayuran yang siap panen. Kenapa tidak diberi tembok? “Because this is like a pay-it-forward thing!

Nginep Di Sentul? Ya Lari Pagi Dong

Dengan udara pegunungan yang dingin dan bersih, Sentul memang punya daya tarik sendiri sebagai tujuan untuk sepedaan di hari minggu, atau lari pagi. Tapi, kalau disuruh nyetir dari Jakarta, rasanya kok daya tariknya jadi berkurang ya. Apalagi kalau setelah lari atau sepedaan masih harus nyetir pulang. Beban.

Beda ceritanya kalau lagi menginap di Sentul. Meskipun bangun kesiangan seperti beberapa minggu yang lalu, rasanya sayang kalau kesempatan lari pagi di pegunungan dilewatkan begitu saja.

Not at Car Free Day

Matahari sudah tinggi, namun udara masih cukup dingin pada jam 6:30, ketika saya keluar dari hotel memasuki Jalan Jend. Sudirman. Meskipun memiliki nama sama, Jalan Jend. Sudirman di Sentul tidak seramai Car Free Day di Jakarta. Terlihat beberapa orang sedang olah raga jalan kaki, lari, dan sebagian lainnya hanya bercengkrama di atas motor mereka. Di sebuah jembatan darurat, Pak Ogah dengan sigap membantu motor-motor yang lalu lalang.

Morning at the Factory

Dari Jalan Jend. Sudirman rute lari memasuki jalan raya Sentul. Lalu lintas kendaraan bermotor masih sepi. Sesekali beberapa sepeda dalam formasi peloton melewati saya sambil menyapa. Ada juga yang hanya sekedar lewat. Hanya sekali saya menyalip sebuah sepeda. Si pengendara sedang duduk di atas rumput sambil makan. “Selamat pagi”, sapa saya. Beberapa ratus meter kemudian, sepeda tersebut kembali melewati saya sambil menyapa, “Mari Pak”. Saya hanya mengangkat tangan.

Downhill

Tidak lama kemudian, Jalan Raya Sentul mulai menunjukkan tantangan di balik rute lari yang bagus: Tanjakan dan turunan. Tanjakan dan turunan menjdai momok bagi yang sedang mengejar jarak dan kecepatan, tetapi justru dicari oleh yang sedang berlatih untuk marathon atau trail. Untungnya udara yang segar dan pohon yang teduh membuat tanjakan dan turunan ini menjadi tidak terasa berat. Ditambah lagi view gunung di kejauhan, ikut membantu mengalihkan perhatian ke nafas yang semakin pendek.

Mountain View

Setelah melewati gerbang utama perumahan Sentul City, elevasi tanjakan semakin curam. Saya berhenti sejenak di dekat sebuah papan petunjuk untuk mengambil nafas dan memastikan waktu. Karena sudah cukup siang dan mulai panas, saya memutuskan untuk kembali ke hotel. Jarak menunjukkan 4.1 km, sehingga total jarak tempuh akan sekitar 8 km. Not too bad.

Through the Empty Road

Sampai di persimpangan Jalan Sudirman menuju hotel, terlihat kalau pintu masuk tol tidak terlalu jauh. Saya pun memutuskan untuk melanjutkan sedikit ke arah tol.

Can Runners Enter?

Tidak ada larangan memang untuk masuk ke jalan tol untuk pelari, asal jangan bawa gerobak. Tapi tidak ada tarif tol yang tercantum di pintu tol. Jadi ya sudah, saya kembali ke Jalan Sudirman dan hotel tempat saya menginap. Detour ke jalan tol ini menambah jarak temput total menjadi hampir 9 km. Untuk rute-nya bisa di lihat di tautan ini.