TEDx Talk: Pop Up Farm in Zurich

Seorang Urban Farmers berbagi cerita di atas panggung TEDx. Kalau lihat foto-fotonya, bagus-bagus, dan kreatif. Seperti urban farm di atas Manhattan, New York atau juga ada yang bikin urban farming di truk bak terbuka.

Tapi yang terpikir selanjutnya, sepertinya apa yang dilakukan Roman Gaus bisa juga dilakukan di Jakarta. Banyak gedung-gedung kosong yang bisa disulap menjadi restoran, lalu bagian atapnya disulap menjadi urban farm untuk restoran tersebut?

Ada yang berminat untuk kolaborasi?

Lari Pagi di Tegallantang, Ubud

Meskipun jam sudah menunjukkan pukul 6:14 pagi, dan matahari sudah cukup tinggi, angin di Ubud masih terasa sejuk, cenderung dingin. Hal ini menambah motivasi untuk mencoba lari pagi di Ubud.

We Run

Titik start lari adalah Bakung Ubud Resort and Villa tempat saya menginap. Bakung Ubud terletak di Desa Tegallantang, sekitar 5-10 menit dengan mobil dari Istana Ubud. Desa Tegallantang bisa dicapai melalui Jalan Suweta, tempat di mana Babi Guling Bu Oka berada, atau dari Jalan Sriwedari, lokasi dari Seniman Coffee.

Dari Bakung Ubud, saya berlari menuju ke Jalan Raya Ubud. Rute lari menuju Jalan Raya Ubud ini menurun, melewati sawah, sekolah, dan Pura Desa Tegallantang. Jalanan masih cukup sepi, dan sekitar 1.4 km dari start, saya tiba di jembatan yang menghubungkan Jalan Suweta dan Jalan Sriwedari. Rencana saya untuk turun melalui Jalan Sriwedari, dan naik kembali melalui Jalan Suweta.

The Bridge

Rute lari semakin mendekati Jalan Raya Ubud. Hal ini ditandai dengan pemandangan sawah yang digantikan oleh toko-toko yang masih tutup. Kecuali sebuah tempat laundry. Ketika sampai ke Jalan Raya Ubud, suasana yang tadinya sepi senyap berganti riuh rendah kendaraan dan orang yang berjualan di pasar tumpah di depan Pasar Ubud.

Ubud Center's in the Morning

Hujan ringan mulai turun ketika saya menyusuri Jalan Raya Ubud menuju Jalan Suweta, membuat saya sedikit mempercepat langkah. Simpang Jalan Suweta yang biasanya macet terlihat lengang pagi itu. Di seberang Istana Ubud terlihat spanduk besar Ubud Food Festival. Inilah motivasi utama saya untuk lari pagi ini, supaya nanti di Ubud Food Festival bisa makan lebih banyak.

Reason to Run: Food

Hujan sudah berhenti ketika saya mulai perjalanan balik melalui Jalan Suweta. Tanjakan tinggi terlihat menantang di depan. Tapi yang lebih menantang adalah anjing yang banyak berkeliaran di Jalan Suweta. Beberapa terlihat tidak peduli dengan arus lalu lintas. Tapi ada juga yang menggonggong setiap kali ada sepeda motor yang lewat. Well, the show must go on. Anjing menggonggong, pelari berlalu.

Uphill Battle

Setelah rasanya berlari cukup lama dengan napas setengah putus, akhirnya saya tiba kembali di jembatan Jalan Sriwedari. Dari sini, masih 1.4 km lagi menanjak sebelum saya tiba di Bakung Ubud. Ketika kembali melewati sekolah, tampak anak-anak sekolah bergotong royong membersihkan halaman sekolah dari daun-daun kering. Suatu hal langka di Jakarta, bahkan ketika saya masih duduk di sekolah dasar.

Finish Line

Tiba di Bakung Ubud, jam saya menunjukkan total jarak tempuh sejauh 6.3 km. Elevasi dari Bakung Ubud hingga Jalan Raya Ubud cuma sekitar 60 meter, tidak terlalu tajam. Angin yang bertiup masih sejuk, meskipun terik matahari sudah mulai menyengat di kulit. Waktunya mandi dan makan pagi.

Rute dan detil lainnya bisa dilihat di Polar Personal Trainer. Foto-foto lainnya bisa dilihat di allbum Flickr.

Belajar Bertani di Kebun Darling, Pamulang

Pagi itu di dalam area parkir Kebun Darling terlihat 2 buah bis berukuran besar yang sudah parkir. Bis-bis tersebut membawa rombongan untuk sebuah pelatihan mengenai kesadaran lingkungan, yang terdiri dari mengurangi sampah dengan membuat kompos, dan hidrponik. Topik kedua ini yang membawa saya menjadi peserta di pelatihan kali ini.

Welcome to Kebun Darling

Kebun darling (Sadar Lingkungan) diprakarsai oleh Gereja Santo Barnabas di Pamulang. Sadar bahwa untuk memberikan pengaruh lebih besar dari sebatas lingkungan Gereja, Kebun Darling menggandeng pemerintah daerah dan kalangan non-Katolik untuk ikut berpartisipasi.

“Salah satu program kami adalah Bank Sampah“, jelas pengurus Kebun Darling yang membuka acara. “Bank ini menerima sampah yang sudah dipilah-pilah, seperti botol plastik, atau sampah makanan dari dapur. Lalu bank akan memberikan buku tabungan layaknya bank, yang berisi saldo sampah dalam bentuk uang hasil pengolahan sampah tersebut.”

Lalu, apakah penduduk perkotaan masih peduli untuk mengumpulkan dan memilah sampah? Kebanyakan orang hanya memasukkan sampah kedalam plastik, diuntel-untel, terus dibuang ke tong sampah. “Target market kami bukan pemilik rumah”, jawab pengurus Kebun Darling. “Target kami adalah para asisten rumah tangga, dan ini akan menjadi penghasilan tambahan mereka.”

Garbage Bank

Selain Bank Sampah, Kebun Darling juga memiliki lahan khusus hidroponik. Lahan ini dikelola oleh penduduk sekitar. Hasil dari lahan hidroponik ini kemudian dijual di tempat, atau di Gereja, untuk membiayai operasional Kebun Darling. Ketika saya di sana, sedang ada proyek pengerjaan pertanian hidroponik berukuran 4×3 meter. Cukup besar.

Hydroponic Set Up

Masih banyak lahan luas disekeliling saung pelatihan dan Bank Sampah yang menunggu untuk dikelola. Seperti pada tujuan awalnya, Kebun Darling masih memulai untuk pertanian organik. Untuk yang berminat belajar, membantu, atau apapun, bisa menghubungi Paroki Santo Barnabas Pamulang di 021-74713567, 021-74713568, 021-7401017.

Foto-foto lainnya di Kebun Darling bisa di lihat di tautan ini.

Sisi Lain Scientia Square Park Serpong

Kebanyakan orang ketika berkunjung ke Scientia Square Park, Gading Serpong, akan langsung tertarik dengan keramaian sekitar arena skate board. Arena skate board dan sekitarnya memang cukup ramai, didominasi oleh anak-anak kecil yang berlari di taman, anak muda bermain skate board, atau roller blade, dan penggiat olahraga panjat tebing yang berlatih di dinding vertikal.

Tidak banyak yang tahu bahwa, selain arena untuk keluarga, Scientia Square Park Gading Serpong juga memiliki sisi lain yang lebih ditujukan untuk pengunjung yang lebih dewasa. Bagian ini cukup tersembunyi dibalik sebuah kebun vertikal, sehingga semakin tidak terlihat dari pusat keramaian. Berikut ini adalah apa yang ada di sisi lain Scientia Square Park.

Trek Mobil Remote Control

R/C Track

Di Scientia Square Park terdapat 2 buah track untuk mobil Remote Control (R/C). Track pertama adalah jalan mulus untuk mobile R/C biasa, sedangkan yang lainnya terbuat dari tanah dengan undak-undakan untuk mobil R/C trail.

For Race Car

Mobil R/C yang berlaga di track ini menggunakan bahan bakar cair, bukan batere. Ketika berjalan, mobil ini mengeluarkan suara yang cukup bising. Saya sempat tertarik untuk ikut bermain, tapi sepertinya ini adalah hobi yang cukup mahal.

Dirt Race Car

Kebun Sayuran

Setelah arena mobil R/C, terdapat sebuah kebun sayur-sayuran. Bermacam-macam sayuran ditanam di sini, seperti selada, bayam, pakcoy dan kangkung. Metode tanam yang digunakan pun cukup beragam, mulai dari tanah didalam peti kayu, sekam di dalam plastik bekas sabun cair, hingga hidroponik dalam pipa PVC.

Vegetable Garden

Area Kupu-kupu

Di salah satu pojokan Scientia Square Park terdapat sebuah rumah kaca. Isinya bukan tanaman, melainkan pohon-pohon besar yang menjadi tempat tinggal kupu-kupu koleksi mereka.

Kupu-kpu yang ada cukup beragam warnanya. Namun dibandingkan ukuran rumah kaca yang ada, jumlah kupu-kupu yang ada masih cukup sedikit. Namun, anak-anak tetap semangat untuk melihat kupu-kupu dalam berbagai warna

Grow Your Own Food

Salah satu cita-cita saya dari dulu yang belum kesampaian adalah untuk punya kebun herbal. Isinya yang saat ini terpikir antara lain tanaman Basil, Mint, Parsley, Coriander, Kemangi dan Seledri.

“Lah tapi beli ajah kan gampang”, menurut beberapa orang. “Blom tentu juga sih”, jawab saya. Ada beberapa kejadian dimana saat membutuhkan beberapa herb untuk masak, saya tidak bisa menemukannya di supermarket. Bahkan pernah dicari hingga 2-3 supermarket, tetap tidak ada.

Lemon Basil
Panen pertama Kemangi (Lemon Basil), usia 4 minggu

Di waktu lain, saat butuh hanya beberapa jumput parsley dan mint, yang tersedia di supermarket adalah seiikat besar. Pernah akhirnya sisa Parsley dan Mint tersebut dimasukkan ke dalam freezer. Ketika akan digunakan lagi, meskipun rasa dan warna masih dapat diterima, tekstur sayuran dari freezer sudah sangat jauh berubah.

Bukan hanya ketersediaan herb dalam jumlah kecil saja yang terjamin. Menanam sayuran sendiri juga memiliki keuntungan berikut:

  1. It is fun. Menanam di atas tanah, di dalam pot, atau hidroponik merupakan kegiatan yang selalu menarik perhatian anak-anak. Kegiatan ini bisa sebagai aktivitas untuk mengisi waktu selama liburan.
  2. Lebih hemat (Sedikit). Mungkin bukan saya saja yang merasa bahwa harga bahan makanan, termasuk sayuran, semakin mahal. Biaya untuk berkebun biasanya hanya mahal untuk investasi awal pembelian pot, media tanam, pompa dll. Penanaman dan perawatan tanaman tidak terlalu mahal, sehingga bisa membantu sedikit berhemat
  3. Bisa jadi bisnis. Saya sudah banyak mendengar dan melihat secara langsung petani-petani pot atau hidroponik yang bisa menjual hasil produksinya. Jadi, yang dijual adalah surplus setelah dipisahkan untuk konsumsi sendiri. Mungkin dengan skala besar bisa cukup sebagai penghasilan utama?
  4. Lebih sehat. Dengan menanam sendiri, kita tahu bahan apa yang digunakan selama menanam, seperti jenis pupuk. Bahkan kita juga bisa menghindari penggunaan pestisida kimia, apabila kita mau belajar untuk mengatasi hama dengan pestisida alami.
Family Affair
Menggarap pipa PVC bersama si kecil untuk dijadikan pot tanaman hidroponik

Gak punya lahan? Dengan adanya pot dan metode hidroponik, lahan kecil bukan jadi alasan. Dalam blog ini saya akan mulai membagikan beberapa tips dan trik untuk berkebun dengan pot dan hidroponik. Lets grow our own food.