Grow Your Own Food

Salah satu cita-cita saya dari dulu yang belum kesampaian adalah untuk punya kebun herbal. Isinya yang saat ini terpikir antara lain tanaman Basil, Mint, Parsley, Coriander, Kemangi dan Seledri.

“Lah tapi beli ajah kan gampang”, menurut beberapa orang. “Blom tentu juga sih”, jawab saya. Ada beberapa kejadian dimana saat membutuhkan beberapa herb untuk masak, saya tidak bisa menemukannya di supermarket. Bahkan pernah dicari hingga 2-3 supermarket, tetap tidak ada.

Lemon Basil
Panen pertama Kemangi (Lemon Basil), usia 4 minggu

Di waktu lain, saat butuh hanya beberapa jumput parsley dan mint, yang tersedia di supermarket adalah seiikat besar. Pernah akhirnya sisa Parsley dan Mint tersebut dimasukkan ke dalam freezer. Ketika akan digunakan lagi, meskipun rasa dan warna masih dapat diterima, tekstur sayuran dari freezer sudah sangat jauh berubah.

Bukan hanya ketersediaan herb dalam jumlah kecil saja yang terjamin. Menanam sayuran sendiri juga memiliki keuntungan berikut:

  1. It is fun. Menanam di atas tanah, di dalam pot, atau hidroponik merupakan kegiatan yang selalu menarik perhatian anak-anak. Kegiatan ini bisa sebagai aktivitas untuk mengisi waktu selama liburan.
  2. Lebih hemat (Sedikit). Mungkin bukan saya saja yang merasa bahwa harga bahan makanan, termasuk sayuran, semakin mahal. Biaya untuk berkebun biasanya hanya mahal untuk investasi awal pembelian pot, media tanam, pompa dll. Penanaman dan perawatan tanaman tidak terlalu mahal, sehingga bisa membantu sedikit berhemat
  3. Bisa jadi bisnis. Saya sudah banyak mendengar dan melihat secara langsung petani-petani pot atau hidroponik yang bisa menjual hasil produksinya. Jadi, yang dijual adalah surplus setelah dipisahkan untuk konsumsi sendiri. Mungkin dengan skala besar bisa cukup sebagai penghasilan utama?
  4. Lebih sehat. Dengan menanam sendiri, kita tahu bahan apa yang digunakan selama menanam, seperti jenis pupuk. Bahkan kita juga bisa menghindari penggunaan pestisida kimia, apabila kita mau belajar untuk mengatasi hama dengan pestisida alami.
Family Affair
Menggarap pipa PVC bersama si kecil untuk dijadikan pot tanaman hidroponik

Gak punya lahan? Dengan adanya pot dan metode hidroponik, lahan kecil bukan jadi alasan. Dalam blog ini saya akan mulai membagikan beberapa tips dan trik untuk berkebun dengan pot dan hidroponik. Lets grow our own food.

BCA Sakuku Pengganti Dompet Yang Ketinggalan

Lima menit sebelum tiba di kantor, telepon genggam saya berdering. Nomor yang tampil adalah dari rumah. “Dompet ketinggalan”, kata suara dari rumah.

DANG!

Sebenarnya aktivitas harian saya tidak terlalu membutuhkan banyak uang tunai. Parkir mobil sudah langganan. Untuk bayar tol juga sudah menggunakan e-Toll card.  Tinggal makan siang saja yang biasanya perlu uang tunai. Sambil pikir-pikir, siapa teman kantor yang bisa di ajak makan siang, sekaligus diutangin, tiba-tiba teringat akan Sakuku dari BCA.

Sakuku adalah dompet virtual dari BCA. Secara sederhana, Sakuku ini mirip dengan Flazz BCA, dimana saldo didalamnya harus diisi sebelum bisa digunakan untuk transaksi. Namun, kalau Flazz menggunakan kartu fisik, saldo Sakuku melekat pada nomor telepon genggam. Sakuku diakses dan diatur melalui aplikasi yang dapat dipasang di telepon genggam IOS maupun Android

Aktivasi Sakuku cukup sederhana, dan tidak perlu memiliki rekening di BCA. Cukup masukkan nama, nomor telepon genggam dan tanggal lahir, aplikasi Sakuku akan mengirimkan SMS untuk verifikasi aktivasi. Kurang dari 5 menit, aplikasi Sakuku sudah aktif dan bisa digunakan untuk belanja. Namun, apabila ingin fungsi tarik tunai di ATM BCA, ada langkah tambahan yang harus dilakukan untuk mengaktifkan Sakuku Plus. Intruksinya bisa di lihat di situs Sakuku di tautan ini.

Lalu bagaimana proses transaksi menggunakan Sakuku? Pertama-tama, setelah rekening Sakuku aktif, saya menambah saldo melalui Internet Banking BCA. Untungnya KeyBCA saya tidak ikut tertinggal bersama dompet di rumah.

Ketika tiba jam makan siang, saya mengajak seorang teman, untuk jaga-jaga kalau transaksi gagal, untuk meminjamkan uang. Belum banyak merchant yang menerima Sakuku. Daftar merchant bisa di lihat di situs Sakuku. Untuk hari ini, merchant yang terpilih adalah Doner Kebab.

Sakuku Doner Kebab

Setelah memastikan bahwa Doner Kebab bisa menerima Sakuku, saya memilih pesanan makan siang. Ketika akan membayar, kasir memasukkan jumlah transaksi ke mesin EDC BCA, yang lalu akan mencetak selembar QR Code. Di aplikasi Sakuku di telepon genggam, saya memilih menu “Bayar Belanja”. Sakuku akan mengaktifkan kamera telepon, yang bisa digunakan untuk memindai QR Code dari mesin EDC. Apabila transaksi berhasil, maka kasir akan melanjutkan transaksi via mesin EDC. Dan akhirnya saya pun sukses untuk makan siang tanpa uang tunai, dan tanpa ngutang.e

Selanjutnya sebenarnya saya ingin mencoba untuk tarik tunai di ATM BCA dengan Sakuku. Menurut penjelasan di situsnya, tarik tunai ini bisa dilakukan tanpa kartu ATM. Sayangnya, tarik tunai dengan Sakuku belum bisa dilakukan di semua ATM BCA, hanya ATM tertentu yang memiliki logo Sakuku. Dan tidak ada ATM berlogo Sakuku di sekitar kantor.

Prediksi bahwa internet dan telepon genggam akan semakin menjadi bagian penting dari hidup kita semakin benar. Beberapa orang merasa canggung ketika telepon genggam-nya tertinggal di rumah, atau kehabisan batere. Hari ini saya membuktikan bahwa ketinggalan dompet pun tidak terlalu masalah, selama bukan telepon genggam yang tertinggal.

Tentang Tempat Duduk Prioritas

Sebagai pengguna rutin jasa kereta listrik Commuterline, saya cukup akrab dengan tulisan dan lambang tempat duduk prioritas, baik di dalam kereta maupun di stasiun. Isinya adalah himbauan untuk memberikan tempat duduk untuk komuter prioritas sebagai berikut:

  1. Wanita hamil
  2. Ibu yang membawa anak kecil
  3. Komuter berusia lanjut
  4. Penyandang cacat

Untuk nomor 1, 3 dan 4 rasanya jelas. Tapi untuk nomor 2, kenapa cuma ibu? Bagaimana kalau ada bapak yang berpergian hanya berdua dengan anaknya yang masih kecil?

Priority Seat

Ketika saya pertama kali naik Commuterline dengan anak balita, saya sempat khawatir apakah ada yang rela memberikan tempat duduknya. Bukan untuk saya, tapi untuk anak balita. Naik dari Stasiun Sudimara menuju Tanah Abang, untungnya ada rombongan ibu-ibu yang membawa anak-anak mereka rela berbagi, sehingga anak balita bisa nyelip bersama anak-anak mereka.

Di lain waktu, dengan rute yang sama, seorang pria muda rela memberikan tempat duduknya untuk si anak balita. Jadi kesimpulan sementara, meskipun tempat duduk prioritas ditujukan untuk ibu dengan anak kecil, ternyata pengguna Commuterline cukup paham kalau bapak dengan anak kecil juga memerlukan prioritas untuk anaknya. Mungkin himbauan prioritasnya perlu di perbaharui?

Tapi ada 1 lagi yang menarik. Saya pernah mendengar seorang wanita paruh baya yang menjawab ketika ditanya kenapa tidak mau naik di gerbong khusus wanita. Jawabannya: “Kalau di gerbong khusus wanita jarang yang mau ngasih tempat duduk. Kalau di gerbong umum, biasanya selalu ada yang ngasih tempat duduk.”

Observasi saya selama naik Commuterline, belum pernah saya melihat ada wanita yang memberikan tempat duduknya kepada yang lebih membutuhkan. Mungkin karena selalu ada pria baik hati yang memberikan tempat duduknya kepada yang membutuhkan lebih dulu?

Well, bicara soal siapa yang harus mengalah soal tempat duduk prioritas, atau tempat duduk yang bukan prioritas, memang tidak ada habisnya. Sebagai penutup, saya berikan beberapa situasi yang mungkin terjadi. Silahkan dijawab sendiri.

  1. Pria duduk, lalu ada wanita muda, sehat dan sedang tidak hamil. Apakah pria harus memberikan tempat duduk kepada wanita tersebut?
  2. Pria usia lanjut, dan wanita muda, sehat dan sedang tidak hamil. Siapa yang patut mendapatkan tempat duduk prioritas?
  3. Pria muda sehat membawa anak dibawah 5 tahun, dan wanita muda, sehat, dan sedang tidak hamil. Siapa yang patut mendapatkan tempat duduk?

Salam commuter line

Hell Days? Hell Yeah!

Memasuki minggu ke-7 latihan dengan coach freeletics, tiba-tiba tampilan menu latihan menjadi merah. Tulisan “Hell Days” terlihat di bagian atas. Hell days?

Yap, cuma 3 training session dalam seminggu, lebih pendek dari 4 sessi latihan yang biasa saya pilih. Tapi, jumlah reps yang dilakukan setiap hari itu yang menyeramkan! Terutama Sit-Up, momok saya selain burpee dan pull ups.

Kettler Yoga MatSebelumnya, di awal minggu ini, saya belajar tentang pentingnya untuk menggunakan alas olahraga yang baik. Alas olah raga yang baik yaitu yang tidak licin, dan bisa melindungi daerah tulang ekor ketika melakukan sit up dengan jumlah banyak. Matras saya yang sebelumnya cukup licin sehingga saya beberapa kali hampir jatuh ketika melakukan burpee. Dan yang paling menyakitkan, daerah tulang ekor yang lecet setelah melakukan 100 sit ups.

Dan selanjutnya, mari masuk ke Hell Days.

Hell Day 1: 110 Climbers, 39 Push Ups (Easy!), 110 Sit ups (Ouch), 110 Squats dan 250 Jumping Jacks (Double Ouch!). Istirahat sebentar dan mulai lagi dengan Sprawls, Mountain Climbers dan High Knees. Saya terpaksa membagi sesi 2 menjadi 2 bagian karena rasanya sudah hampir pingsan di pagi hari. Dan jam 10 malam, day 1 checked!

Hell Days! That means three training sessions in one week – with maximum volume!

Hell Day 2: 110 Climbers, 39 Push Ups (Easy!), 110 Sit ups (Again!), 110 Squats dan 250 Jumping Jacks (Double *^@%@*^!). Sampai kehabisan kata-kata melihat jatah 100 sit ups. Tapi untungnya sesi kedua jauh lebih mudah. Cukup burpee squat jump, froggers & high jumps. Day 2 checked.

Hell day 3: 150 sit ups, 150 climbers. Sejujurnya di hari ketiga ini saya sudah mulai muak dengan sit ups. Bukannya perut sakit karena sit ups, tapi karena muak. Sesi kedua dilanjutkan dengan lunges, burpees (wtf!) dan straight leg lever. Day 3, and hell days checked!

Hell Days at Week 7

Ingin merasakan hell days? Yuk dicoba di freeletics.com. Dan jangan lupa add saya dengan link ini.

Semalam di Perkebunan Organik BSP Farm Sukabumi

“Kemping? Nggak ah”

Keengganan saya terhadap kemping mungkin berakar dari kegiatan ospek masa kuliah di bumi perkemahan di luar kampus. Efeknya sampai sekarang, saya jadi enggan untuk kemping.

“Tapi ini kemping priyayi. Segala macam disiapkan, lengkap dengan makanan, kamar mandi, toilet”, jawab teman saya.

Tetap saja, ketika akhirnya berkesempatan untuk menginap di BSP Farm Sukabumi, saya memilih tidur di kamar

Camping Ground
Tempat kemping di BSP Farm. Tenda di kiri adalah tempat tidur, sedangkan yang sebelah kanan adalah tempat makan

Setelah perjalanan sekitar 1 jam dari Kota Bogor, kami berempat sampai di pintu gerbang besi BSP Farm. Di balik pintu gerbang ada sebuah bangunan wisma berwarna putih. Kami disambut oleh petugas BSP Farm, dan diantar berkeliling bangunan Wisma tempat kami menginap. Setelah meletakkan barang-barang di kamar, datang sebuah suguhan air sereh dan pisang goreng di ruang makan.

“Silahkan beristirahat dan menikmati peganan ini. Kalau nanti mau keliling, panggil saya ya di bawah”. kata petugas BSP Farm. Tapi sesungguhnya, siapa yang rela untuk meninggalkan ruang makan dan teras seperti ini?

Best Place for Tea Time

Pintu masuk utama Wisma BSP Farm terletak di lantai 2. Dari pintu masuk, pengunjung bisa langsung melihat pemandangan lereng gunung salak melalui ruang makan dan teras. Ada sebuah aula yang bisa menampung 20-40 orang, lengkap dengan proyektor dan layar. Sebuah meja makan besar dari kayu berwarna hitam terletak di ruang makan di seblah aula. Di ruang makan ini juga tersedia alat penyeduh kopi dan teh.

Ruangang yang paling diperebutkan barangkali ruang duduk di sebelah ruang makan. Terdapat 3 buah sofa bed yang menghadap langsung ke teras dan Gunung Salak.

Setelah matahari sedikit turun, kami jalan menyusuri perkebunan organik. Di kiri kanan berjejer rapi gundukan tanah berbentuk persegi panjang. Beberapa ditanami bermacam-macam sayuran, muali dari Jagung Selada, Sawi, Pak choy, dll. “Yang lain baru mau ditanam”, menurut pemandu kami.

Not a Walk in the Part
Kebun sayur organik

DI ujung lokasi penanaman sayur, ada kawat jala yang dipasang berbentuk melingkar menuju sebuah gubuk kecil. “Free range chicken”, tebak kami, dan ternyata betul. “Ini kandang untuk piara ayam. Telurnya untuk di makan, dan kotorannya untuk pupuk”, jelas pemandu kami.

Free Range Chicken

Kembali dari kebun sayur organik, perjalanan dilanjutkan melintasi perkebunan salak. Pohon salak berjejer rapat menutup cahaya matahari. Kira-kira 50 cm dari tanah, buah salak terlihat menggumpal, siap untuk dipetik. Lalu, apakah ada bedanya antara salak yang dimakan langsung dari pohon dengan salak di supermarket atau pasar? Jelas ada. Salak pohon ini rasanya lebih manis dan lebih renyah.

Snakefruit
Buah salak langsung dari pohonnya di BSP Farm. Rasanya lebih renyah dan manis

Dari kebun salak perjalanan dilanjutkan melalui perkebunan kopi. Saat ini bukan sedang musim panen kopi, sehingga buah kopi yang ada masih terlihat hijau. Di ujung jalan pemandu kami terlihat sedang membuka bak besar berisi air yang sangat bening.

“Ini air untuk irigasi?” Tanya saya

“Bukan. Ini air yang dipakai di wisma untuk kamar mandi”, jawab pemandu kami

“Asalnya dari mana? Pompa tanah?” tanya saya lagi. Air dalam bak ini terlihat sangat bening, seperti air di bak penampung yang lebih besar di dekat kebun sayur organik.

“Bukan. Ini air dari gunung. Ada beberapa bak air seperti ini di atas. Air ini diendapkan di atas, lalu bagian atasnya dialirkan ke bawah, diendapkan kembali, dan seterusnya hingga menjadi bening seperti ini”, pemandu kami menjelaskan.

Beberapa langkah kemudian kami tiba di sebuah pondokan yang disewakan. Di sebelah pondokan ini terdapat bak air lainnya. Ukuran dan beningnya air membuat saya ingin berenang rasanya. Pastinya akan sangat segar.

Not a Swimming Pool
Ini bukan kolam renang. Ini adalah bak penampung air

Hari masih terang ketika kami kembali ke wisma. Kami pun lanjut menikmati pisang goreng dan air sereh. Saya sendiri, karena tergoda dengan air gunung yang bening, memutuskan mandi lebih awal. Segar rasanya mandi dengan air pegunungan yang dingin.

Tak lama kemudian petugas wisma menghidangkan makan malam kami. Entah karena lapar, makanan yang enak, atau suasana gunung yang dingin, kami makan dengan lahap. Semur yang dihidangkan dimasak sendiri oleh pemilik wisma. Organik atau bukan, rasanya enak.

Hearty Dinner
Makan malam sederhana, tapi enak. Mungkin karena suhu di BSP Farm malam itu cukup dingin

Selepas makan malam, Ethan yang sepetinya kelelahan setelah jalan di kebun, minta tidur lebih awal, sehingga kami memutuskan juga untuk tidur lebih awal. Lagipula, besok pagi kami masih berencana untuk jalan pagi. Jadi, tidur lebih awal seprtinya ide yang cukup baik.

Hanya saja, kamar kami terasa panas, kontras apabila dibandingkan dengan suhu di luar ruangan yang cukup dingin. Memang, kamar kami memiliki sebuah jendela yang bisa dibuka, tapi kami khawatir kalau ada serangga yang masuk. Kelelahan dan kekenyangan, saya pun akhirnya tertidur pulas.

Foto-foto lainnya di BSP Farm Sukabumi bisa dilihat di album foto di tautan ini. Reservasi dan informasi lainnya bisa di lihat di situs BSP Farm