Sisi Lain Scientia Square Park Serpong

Kebanyakan orang ketika berkunjung ke Scientia Square Park, Gading Serpong, akan langsung tertarik dengan keramaian sekitar arena skate board. Arena skate board dan sekitarnya memang cukup ramai, didominasi oleh anak-anak kecil yang berlari di taman, anak muda bermain skate board, atau roller blade, dan penggiat olahraga panjat tebing yang berlatih di dinding vertikal.

Tidak banyak yang tahu bahwa, selain arena untuk keluarga, Scientia Square Park Gading Serpong juga memiliki sisi lain yang lebih ditujukan untuk pengunjung yang lebih dewasa. Bagian ini cukup tersembunyi dibalik sebuah kebun vertikal, sehingga semakin tidak terlihat dari pusat keramaian. Berikut ini adalah apa yang ada di sisi lain Scientia Square Park.

Trek Mobil Remote Control

R/C Track

Di Scientia Square Park terdapat 2 buah track untuk mobil Remote Control (R/C). Track pertama adalah jalan mulus untuk mobile R/C biasa, sedangkan yang lainnya terbuat dari tanah dengan undak-undakan untuk mobil R/C trail.

For Race Car

Mobil R/C yang berlaga di track ini menggunakan bahan bakar cair, bukan batere. Ketika berjalan, mobil ini mengeluarkan suara yang cukup bising. Saya sempat tertarik untuk ikut bermain, tapi sepertinya ini adalah hobi yang cukup mahal.

Dirt Race Car

Kebun Sayuran

Setelah arena mobil R/C, terdapat sebuah kebun sayur-sayuran. Bermacam-macam sayuran ditanam di sini, seperti selada, bayam, pakcoy dan kangkung. Metode tanam yang digunakan pun cukup beragam, mulai dari tanah didalam peti kayu, sekam di dalam plastik bekas sabun cair, hingga hidroponik dalam pipa PVC.

Vegetable Garden

Area Kupu-kupu

Di salah satu pojokan Scientia Square Park terdapat sebuah rumah kaca. Isinya bukan tanaman, melainkan pohon-pohon besar yang menjadi tempat tinggal kupu-kupu koleksi mereka.

Kupu-kpu yang ada cukup beragam warnanya. Namun dibandingkan ukuran rumah kaca yang ada, jumlah kupu-kupu yang ada masih cukup sedikit. Namun, anak-anak tetap semangat untuk melihat kupu-kupu dalam berbagai warna

Grow Your Own Food

Salah satu cita-cita saya dari dulu yang belum kesampaian adalah untuk punya kebun herbal. Isinya yang saat ini terpikir antara lain tanaman Basil, Mint, Parsley, Coriander, Kemangi dan Seledri.

“Lah tapi beli ajah kan gampang”, menurut beberapa orang. “Blom tentu juga sih”, jawab saya. Ada beberapa kejadian dimana saat membutuhkan beberapa herb untuk masak, saya tidak bisa menemukannya di supermarket. Bahkan pernah dicari hingga 2-3 supermarket, tetap tidak ada.

Lemon Basil
Panen pertama Kemangi (Lemon Basil), usia 4 minggu

Di waktu lain, saat butuh hanya beberapa jumput parsley dan mint, yang tersedia di supermarket adalah seiikat besar. Pernah akhirnya sisa Parsley dan Mint tersebut dimasukkan ke dalam freezer. Ketika akan digunakan lagi, meskipun rasa dan warna masih dapat diterima, tekstur sayuran dari freezer sudah sangat jauh berubah.

Bukan hanya ketersediaan herb dalam jumlah kecil saja yang terjamin. Menanam sayuran sendiri juga memiliki keuntungan berikut:

  1. It is fun. Menanam di atas tanah, di dalam pot, atau hidroponik merupakan kegiatan yang selalu menarik perhatian anak-anak. Kegiatan ini bisa sebagai aktivitas untuk mengisi waktu selama liburan.
  2. Lebih hemat (Sedikit). Mungkin bukan saya saja yang merasa bahwa harga bahan makanan, termasuk sayuran, semakin mahal. Biaya untuk berkebun biasanya hanya mahal untuk investasi awal pembelian pot, media tanam, pompa dll. Penanaman dan perawatan tanaman tidak terlalu mahal, sehingga bisa membantu sedikit berhemat
  3. Bisa jadi bisnis. Saya sudah banyak mendengar dan melihat secara langsung petani-petani pot atau hidroponik yang bisa menjual hasil produksinya. Jadi, yang dijual adalah surplus setelah dipisahkan untuk konsumsi sendiri. Mungkin dengan skala besar bisa cukup sebagai penghasilan utama?
  4. Lebih sehat. Dengan menanam sendiri, kita tahu bahan apa yang digunakan selama menanam, seperti jenis pupuk. Bahkan kita juga bisa menghindari penggunaan pestisida kimia, apabila kita mau belajar untuk mengatasi hama dengan pestisida alami.
Family Affair
Menggarap pipa PVC bersama si kecil untuk dijadikan pot tanaman hidroponik

Gak punya lahan? Dengan adanya pot dan metode hidroponik, lahan kecil bukan jadi alasan. Dalam blog ini saya akan mulai membagikan beberapa tips dan trik untuk berkebun dengan pot dan hidroponik. Lets grow our own food.

BCA Sakuku Pengganti Dompet Yang Ketinggalan

Lima menit sebelum tiba di kantor, telepon genggam saya berdering. Nomor yang tampil adalah dari rumah. “Dompet ketinggalan”, kata suara dari rumah.

DANG!

Sebenarnya aktivitas harian saya tidak terlalu membutuhkan banyak uang tunai. Parkir mobil sudah langganan. Untuk bayar tol juga sudah menggunakan e-Toll card.  Tinggal makan siang saja yang biasanya perlu uang tunai. Sambil pikir-pikir, siapa teman kantor yang bisa di ajak makan siang, sekaligus diutangin, tiba-tiba teringat akan Sakuku dari BCA.

Sakuku adalah dompet virtual dari BCA. Secara sederhana, Sakuku ini mirip dengan Flazz BCA, dimana saldo didalamnya harus diisi sebelum bisa digunakan untuk transaksi. Namun, kalau Flazz menggunakan kartu fisik, saldo Sakuku melekat pada nomor telepon genggam. Sakuku diakses dan diatur melalui aplikasi yang dapat dipasang di telepon genggam IOS maupun Android

Aktivasi Sakuku cukup sederhana, dan tidak perlu memiliki rekening di BCA. Cukup masukkan nama, nomor telepon genggam dan tanggal lahir, aplikasi Sakuku akan mengirimkan SMS untuk verifikasi aktivasi. Kurang dari 5 menit, aplikasi Sakuku sudah aktif dan bisa digunakan untuk belanja. Namun, apabila ingin fungsi tarik tunai di ATM BCA, ada langkah tambahan yang harus dilakukan untuk mengaktifkan Sakuku Plus. Intruksinya bisa di lihat di situs Sakuku di tautan ini.

Lalu bagaimana proses transaksi menggunakan Sakuku? Pertama-tama, setelah rekening Sakuku aktif, saya menambah saldo melalui Internet Banking BCA. Untungnya KeyBCA saya tidak ikut tertinggal bersama dompet di rumah.

Ketika tiba jam makan siang, saya mengajak seorang teman, untuk jaga-jaga kalau transaksi gagal, untuk meminjamkan uang. Belum banyak merchant yang menerima Sakuku. Daftar merchant bisa di lihat di situs Sakuku. Untuk hari ini, merchant yang terpilih adalah Doner Kebab.

Sakuku Doner Kebab

Setelah memastikan bahwa Doner Kebab bisa menerima Sakuku, saya memilih pesanan makan siang. Ketika akan membayar, kasir memasukkan jumlah transaksi ke mesin EDC BCA, yang lalu akan mencetak selembar QR Code. Di aplikasi Sakuku di telepon genggam, saya memilih menu “Bayar Belanja”. Sakuku akan mengaktifkan kamera telepon, yang bisa digunakan untuk memindai QR Code dari mesin EDC. Apabila transaksi berhasil, maka kasir akan melanjutkan transaksi via mesin EDC. Dan akhirnya saya pun sukses untuk makan siang tanpa uang tunai, dan tanpa ngutang.e

Selanjutnya sebenarnya saya ingin mencoba untuk tarik tunai di ATM BCA dengan Sakuku. Menurut penjelasan di situsnya, tarik tunai ini bisa dilakukan tanpa kartu ATM. Sayangnya, tarik tunai dengan Sakuku belum bisa dilakukan di semua ATM BCA, hanya ATM tertentu yang memiliki logo Sakuku. Dan tidak ada ATM berlogo Sakuku di sekitar kantor.

Prediksi bahwa internet dan telepon genggam akan semakin menjadi bagian penting dari hidup kita semakin benar. Beberapa orang merasa canggung ketika telepon genggam-nya tertinggal di rumah, atau kehabisan batere. Hari ini saya membuktikan bahwa ketinggalan dompet pun tidak terlalu masalah, selama bukan telepon genggam yang tertinggal.

Tentang Tempat Duduk Prioritas

Sebagai pengguna rutin jasa kereta listrik Commuterline, saya cukup akrab dengan tulisan dan lambang tempat duduk prioritas, baik di dalam kereta maupun di stasiun. Isinya adalah himbauan untuk memberikan tempat duduk untuk komuter prioritas sebagai berikut:

  1. Wanita hamil
  2. Ibu yang membawa anak kecil
  3. Komuter berusia lanjut
  4. Penyandang cacat

Untuk nomor 1, 3 dan 4 rasanya jelas. Tapi untuk nomor 2, kenapa cuma ibu? Bagaimana kalau ada bapak yang berpergian hanya berdua dengan anaknya yang masih kecil?

Priority Seat

Ketika saya pertama kali naik Commuterline dengan anak balita, saya sempat khawatir apakah ada yang rela memberikan tempat duduknya. Bukan untuk saya, tapi untuk anak balita. Naik dari Stasiun Sudimara menuju Tanah Abang, untungnya ada rombongan ibu-ibu yang membawa anak-anak mereka rela berbagi, sehingga anak balita bisa nyelip bersama anak-anak mereka.

Di lain waktu, dengan rute yang sama, seorang pria muda rela memberikan tempat duduknya untuk si anak balita. Jadi kesimpulan sementara, meskipun tempat duduk prioritas ditujukan untuk ibu dengan anak kecil, ternyata pengguna Commuterline cukup paham kalau bapak dengan anak kecil juga memerlukan prioritas untuk anaknya. Mungkin himbauan prioritasnya perlu di perbaharui?

Tapi ada 1 lagi yang menarik. Saya pernah mendengar seorang wanita paruh baya yang menjawab ketika ditanya kenapa tidak mau naik di gerbong khusus wanita. Jawabannya: “Kalau di gerbong khusus wanita jarang yang mau ngasih tempat duduk. Kalau di gerbong umum, biasanya selalu ada yang ngasih tempat duduk.”

Observasi saya selama naik Commuterline, belum pernah saya melihat ada wanita yang memberikan tempat duduknya kepada yang lebih membutuhkan. Mungkin karena selalu ada pria baik hati yang memberikan tempat duduknya kepada yang membutuhkan lebih dulu?

Well, bicara soal siapa yang harus mengalah soal tempat duduk prioritas, atau tempat duduk yang bukan prioritas, memang tidak ada habisnya. Sebagai penutup, saya berikan beberapa situasi yang mungkin terjadi. Silahkan dijawab sendiri.

  1. Pria duduk, lalu ada wanita muda, sehat dan sedang tidak hamil. Apakah pria harus memberikan tempat duduk kepada wanita tersebut?
  2. Pria usia lanjut, dan wanita muda, sehat dan sedang tidak hamil. Siapa yang patut mendapatkan tempat duduk prioritas?
  3. Pria muda sehat membawa anak dibawah 5 tahun, dan wanita muda, sehat, dan sedang tidak hamil. Siapa yang patut mendapatkan tempat duduk?

Salam commuter line

Hell Days? Hell Yeah!

Memasuki minggu ke-7 latihan dengan coach freeletics, tiba-tiba tampilan menu latihan menjadi merah. Tulisan “Hell Days” terlihat di bagian atas. Hell days?

Yap, cuma 3 training session dalam seminggu, lebih pendek dari 4 sessi latihan yang biasa saya pilih. Tapi, jumlah reps yang dilakukan setiap hari itu yang menyeramkan! Terutama Sit-Up, momok saya selain burpee dan pull ups.

Kettler Yoga MatSebelumnya, di awal minggu ini, saya belajar tentang pentingnya untuk menggunakan alas olahraga yang baik. Alas olah raga yang baik yaitu yang tidak licin, dan bisa melindungi daerah tulang ekor ketika melakukan sit up dengan jumlah banyak. Matras saya yang sebelumnya cukup licin sehingga saya beberapa kali hampir jatuh ketika melakukan burpee. Dan yang paling menyakitkan, daerah tulang ekor yang lecet setelah melakukan 100 sit ups.

Dan selanjutnya, mari masuk ke Hell Days.

Hell Day 1: 110 Climbers, 39 Push Ups (Easy!), 110 Sit ups (Ouch), 110 Squats dan 250 Jumping Jacks (Double Ouch!). Istirahat sebentar dan mulai lagi dengan Sprawls, Mountain Climbers dan High Knees. Saya terpaksa membagi sesi 2 menjadi 2 bagian karena rasanya sudah hampir pingsan di pagi hari. Dan jam 10 malam, day 1 checked!

Hell Days! That means three training sessions in one week – with maximum volume!

Hell Day 2: 110 Climbers, 39 Push Ups (Easy!), 110 Sit ups (Again!), 110 Squats dan 250 Jumping Jacks (Double *^@%@*^!). Sampai kehabisan kata-kata melihat jatah 100 sit ups. Tapi untungnya sesi kedua jauh lebih mudah. Cukup burpee squat jump, froggers & high jumps. Day 2 checked.

Hell day 3: 150 sit ups, 150 climbers. Sejujurnya di hari ketiga ini saya sudah mulai muak dengan sit ups. Bukannya perut sakit karena sit ups, tapi karena muak. Sesi kedua dilanjutkan dengan lunges, burpees (wtf!) dan straight leg lever. Day 3, and hell days checked!

Hell Days at Week 7

Ingin merasakan hell days? Yuk dicoba di freeletics.com. Dan jangan lupa add saya dengan link ini.