Sore Hari di Scientia Square Park, Gading Serpong

Biasanya setiap Sabtu sore, saya mengajak anak saya pergi berenang. Tapi ada kalanya si anak bosen, dan bapaknya juga akhirnya ikut bosen. Di saat-saat bosen seperti itu, Scientia Square Park di Gading Serpong menjadi pilihan untuk menghabiskan akhir pekan di luar ruangan.

Kegiatan Untuk Keluarga

Masih ingat rasanya waktu saya kecil, ketika kami sekeluarga pergi piknik. Pilihannya waktu itu tidak banyak, dan yang menjadi pilihan rutin adalah kolam renang di Taman Impian Jaya Ancol. Setelah berenang, kami akan menikmati nasi goreng yang dibawa dari rumah, dan disimpan didalam kontainer plastik yang bisa menjaga nasi supaya tetap hangat.

Picnic

Nah, berhubung nyonya juga suka pergi piknik, lapangan hijau di Scientia Square Park bisa menjadi salah satu tujuan. Siapkan tikar, makanan, kopi dan buku bacaan. Selagi anak-anak sibuk bermain, kita bisa menikmati buku yang belum sempat dibaca ditemani secangkir kopi di alam terbuka.

Kegiatan Untuk Anak-anak Remaja

Anak-anak remaja yang suka dengan kegiatan luar ruangan akan menikmati  sore hari di Scientia Square Park Serpong. Atraksi utama dari taman ini adalah area skate board, lengkap dengan penghalang seperti tangga, railing tangga, dan tentu saja quarter pipe.

Skate Park

Untuk yang tidak bermain skate board, pilihan lainnya adalah bermain roller blade. Untuk yang masih mau coba-coba atau belajar, ada jasa penyewaan roller blade.

Selain skate board dan roller blade, permainan terakhir untuk anak-anak remaja adalah panjat tebing. Scientia Square Park menyediakan 2 buah dinding vertikal untuk berlatih panjat tebing.

Kegiatan Untuk Anak Kecil

Bukan hanya anak-anak remaja atau dewasa yang bisa mencoba panjat tebing. Scientia Square Park juga menyediakan panjat tebing yang aman untuk anak-anak yang lebih kecil, termasuk balita. Dinding buatan untuk anak-anak ini lebih rendah, sekitar 2 meter tingginya. Dan dibawah dinding ini terdapat busa lembut setebal kurang lebih 50 cm.

Kids Playground

Untuk anak-anak yang tidak suka panjat tebing, terdapat area bermain yang dilengkapi dengan ayunan dan permainan lainnya. Atau, anak-anak juga bisa sekedar berlarian di lapangan rumput di tengan Scientia Square Park.

Urban Farming

Sisi barat dari Scientia Square Park diiisi oleh rawa berbentuk kotak. Apabila dugaan saya benar, sisi ini adalah bagian yang paling saya tunggu: Urban Farming.

Urban Farm

Seperti terlihat di foto di atas, di sebelah atas rawa-rawa terdapat sepetak tanaman yang sudah tumbuh lebat. Sekilas tanaman itu terlihat seperti padi, walaupun saya kurang begitu yakin. Terlepas dari tanaman apakah itu, apabila rawa-rawa ini nantinya akan menjadi lahan urban farming, tempat ini akan menjadi fasilitas untuk belajar menanam tanaman untuk konsumsi sendiri di rumah.

Beberapa minggu mendatang saya berencana untuk kembali piknik di Scientia Square Park. Mudah-mudahan rawa-rawa ini sudah menjadi sesuatu sesuai harapan.

Combi Run 2015: Lomba Pertama di Alam Sutra

Acara lari Combi Run 10k 2015 merupakan lomba pertama saya di Alam Sutra, sekaligus ajang percobaan kedua saya untuk berlari sejauh 10 km dalam waktu dibawah 60 menit. Sejujurnya saya masih tidak berharap banyak akan mencapai target 60 menit, bahkan untuk lebih baik dari Telkomsel HaloFit Run 2015 dimana saya menyelesaikan lari 10 km dalam waktu 1 jam 9 menit.

Berdiri di area start dengan posisi agak belakang karena tidak mengejar target, saya malah sibuk ngobrol dengan beberapa teman, sesama pelari tanpa target. Karena start dari posisi cukup belakang, butuh hampir 2 menit ketika saya akhirnya melewati garis start.

Kilometer-kilometer awal dilalui dengan menyusuri rute belakang Living World, melewati club house golf Alam Sutra. Angin semilir dingin cukup membantu menjaga suhu tubuh dan detak jantung untuk berlari lebih kencang. Sepertinya bukan hanya saya yang merasa terbantu. Mendekati 4 km, rombongan pelari masih cukup padat. Padahal, di kebanyakan lomba lari lainnya, kepadatan pelari sudah berkurang melewati 2 km.

Melewati 5 km, matahari mulai naik. Cuaca mulai panas dan rute melewati jalan utama Alam Sutera yang masih jarang pepohonan. Untungnya rute hingga 5 km ini cukup rata, sehingga saya masih sanggup menjaga kecepatan. Akan tetapi banyak yang sudah mulai jalan, sehingga kepadatan pelari mulai berkurang.

Ketika memasuki checkpoint 6 km di depan Mall Alam Sutera, waktu menunjukkan kecepatan saya rata-rata 6:15 menit/km. Cukup senang, karena dengan kecepatan ini saya akan finish lebih cepat dari Telkomsel HaloFit Run.

Saya sempat berharap untuk paling tidak menyamai rekor terbaik saya untuk 10 km. Tapi memang, jumlah latihan yang kurang tidak bisa ditipu. Melewati 8 km, saya mulai kedodoran dan sempet beberapa kali jalan kaki. Pada akhirnya saya harus puas untuk finish dengan waktu chip 1 jam 5 menit.

Hasil Lomba Combirun 2015
Hasil lomba Combirun 2015 10k

Terus terang, untuk yang hanya latihan lari 5-7 km per minggu, hasil ini cukup bagus. Setidaknya hasil latihan core sejak awal tahun sudah menunjukkan hasil dengan memangkas waktu 10 km dari 1 jam 22 menit menjadi 1 jam 5 menit.

Lalu, bagaimana caranya memangkas 5 menit lagi untuk mencapai 10 km di sisa 3 bulan di tahun 2015? Selain melanjutkan latihan core, jumlah latihan lari per minggu juga harus ditingkatkan. Jadi yuk, lari dulu….

GO-JEK, Penghasilan dan Revolusi Transportasi

Bicara tentang transportasi, rasanya kurang lengkap kalau tidak membahas tentang GO-JEK. GO-JEK telah melakukan revolusi transportasi di Jakarta dengan jasa panggilan ojek-nya. Bukan hanya ojek-ojek pangkalan yang merasa tersaingi, tapi juga perusahaan taksi seperti Blue Bird merasa terancam dengan keberadaan GO-JEK.

Selama ini saya hanya menggunakan jasa layanan GO-JEK untuk beli makan siang, mengambil barang dari sebuah tempat, atau membelikan barang tertentu. Baru 2 hari yang lalu saya menggunakan jasa GO-JEK untuk transportasi dari rumah di Pamulang menuju stasiun kereta. Biasanya saya menggunakan angkot, dan membayar total 9.000 rupiah. Dengan menggunakan tarif promo GO-JEK, saya hanya membayar 10 ribu rupiah, dan bisa tiba di stasiun lebih cepat. Sepanjang perjalanan saya berbincang-bincang dengan pak supir GO-JEK.

“Lagi ngejar kereta pak?” Tanya abang GO-JEK. “Ah nggak, santai saja. Kereta sekarang jadwalnya cukup banyak. Ngomong-ngomong udah lama pak ikut GO-JEK?” Jawab saya.

“Belum lama. Baru saja gabung GO-JEK. Makanya saya belum sempat ambil helm dan jaket.” Saat itu si abang GO-JEK memang menggunakan jaket dan helm biasa. “Lumayan deh pak buat tambah-tambah penghasilan”, tambahnya.

Banyak cerita tentang penghasilan supir GO-JEK yang spektakuler. “Emang bener bang bisa dapet penghasilan lumayan?”, tanya saya. “Yah, kalo cuma 200 ribu per hari sih gampang”, jawab abang GO-JEK. Dengan asumsi narik setiap hari kecuali hari Minggu, dan penhasilan 200 ribu per hari, total penghasilan sebulan bisa mencapai 5 juta rupiah. Lumayan.

Lalu, gimana caranya dapet 200 ribu per hari? “Gampang pak. Sekali narik ke Sudirman kita dapat 100 ribu. Abis itu tinggal ngeteng. Bawa penumpang dari Sudirman ke Blok M, Blok M – Pondok Indah, Pondok Indah – Ciputat. Setengah hari dapet deh 200 ribu”, jawab si abang GO-JEK.

Wow…..

“GO-JEK masih dimusuhin gak sih bang sama ojek pangkalan?” Tanya saya lagi. “Kalau di Pamulang sih gak terlalu. Justru ojek pangkalan banyak yang akhirnya ikut gabung GO-JEK. Rugi deh mereka kalau gak gabung. Kelamaan nunggu giliran di pangkalan ojek”, jawabnya.

“Justru yang sekarang merasa tersaingi taksi pak”, lanjut si abang GO-JEK. “Udah tarif GO-JEK cuma 10 ribu, trus lebih cepat dari taksi.” Beberapa hari yang lalu memang saya mendengar sebuah artikel tentang privasi yang membandingkan perusahaan taksi dan GO-JEK. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga sih.

“Tapi ya, GO-JEK ikut membantu mengurangi kemacetan Jakarta”, pembicaraan pun berlanjut. “Banyak yang akhirnya tidak bawa mobil sendiri, dan pilih naik GO-JEK.”

Akhirnya kami tiba di stasiun, lebih cepat dari naik angkot. Sambil menyerahkan uang 10 ribu sebagai tarif promo GO-JEK, saya berharap semoga revolusi transportasi yang dilakukan GO-JEK tetap berlanjut ketika tarif promo berakhir. Paling tidak, bisa memberikan kesejahteraan lebih untuk para pengemudi GO-JEK

Museum Benteng Heritage, Tangerang

The Original Recording of Indonesia Raya“Ini adalah sejarah Indonesia yang terlupakan”, ucap Pak Han Han, pemandu museum seraya memperlihatkan sebuah keping piringan hitam. Diatas kepingan tersebut tertulis “Indonesia Raja”, yang merupakan ejaan lama dari Indonesia Raya. Piringan tersebut adalah piringan asli lagu Indonesia Raya, yang direkam di studio milik Yo Kim Tjan pada tahun 1927, dan diproduksi menjadi piringan hitam di Inggris. Museum Benteng Heritage adalah sebuah hasil restorasi sebuah bangunan peranakan yang terletak di tengah Pasar Lama Tangerang. Bangunan ini diperkirakan berusia 300 tahun. Pemilik museum, Pak Udaya Halim, membeli bangunan ini pada tahun 2009, dengan tujuan untuk melestarikan bangunan berarsitektur Tionghoa di titik nol kota Tangerang. “Supaya tidak menjadi ruko”, cerita Pak Han Han. Bersama adiknya, Pak Udaya berusaha mengembalikan bangunan ini ke bentuk aslinya. Bukan usaha yang mudah, karena catatan sejarah sangat minim. Sumber sejarah mayoritas berasal dari catatan kuil Boen Tek Bio, yang kurang lebih berusia sama dengan bangunan ini.

Teracotta Tile
Lantai asli bangunan museum terbuat dari teracotta

“Tidak jelas fungsi awal bangunan ini untuk apa”, Ibu Airin yang juga salah satu pemandu kami hari itu menjelaskan. Sambil menunjuk ke atas, beliau melanjutkan: “Tapi, melihat dari relief perjalanan Kwan Kong di atas, diperkirakan bangunan ini adalah tempat perkumpulan komunitas.” Terus terang, sebagai penggemar cerita 3 kerajaan, relief tentang Kwan Kong ini menarik perhatian saya. “Relief ini bercerita tentang Kwan Kong yang mencari saudaranya yang ditahan oleh Cao Cao.”, lanjut Ibu Airin. Yang juga cukup menarik adalah tehnik pewarnaan relief ini. Relief tentang Kwan Kong ini diwarnai dengan potongan keramik yang ditempel. “95% dari keramik yang ditempel ini adalah asli. Sisanya yang copot telah kami ganti”, cerita Ibu Airin.

Kwan Kong Relief
Relief Kwan Kong dari cerita 3 kerajaan. Sebuah harta karun yang ditemukan ketika proses restorasi

Di ruangan bagian depan Museum Benteng Heritage, di dalam lemari yang berbentuk botol kecap, terdapat beberapa botol kecap buatan Tangerang. “Pernah dengan kecap Benteng? Dulu di Tangerang ini banyak sekali pabrik kecap. Sekarang hanya tersisa sedikit”, cerita Ibu Dessy, pemandu kami di ruang depan. Sebelum ke museum, kami jalan-jalan melewati pabrik kecap Teng Giok Seng. Pabrik kecap Teng Giok Seng adalah pabrik kecap tertua di Tangerang, beroperasi sejak tahun 1882. Artinya, usianya sudah lebih dari 130 tahun! “Troli dorongnya saja masih dari kayu”, lanjut Ibu Dessy sambil memperlihatkan video rekaman produksi kecap di Pabrik Siong Hin, salah satu pabrik kecap benteng di Tangerang yang masih beroperasi. Kalau mampir ke Pasar Lama Tangerang, jangan lupa bawa pulang oleh-oleh kecap. Dijamin unik. Museum Benteng Heritage juga menjual versi khusus dari kecap Siong Hin, lebih dikenal dengan merk SH.

Ruangan terakhir di pandu oleh Pak Han Han sendiri. “Ruangan ini adalah milik pribadi Pak Udaya, tidak dibuka untuk umum. Khusus hari ini, ada instruksi dari Pak Udaya untuk memperlihatkan ruangan ini”, ucap Pak Han Han. Ruangan ini didominasi kamera kuno, yang merupakan hobi Pak Udaya. Beberapa koleksi pemutar musik kuno (Gramaphone) juga mulai mengisi ruangan yang terlihat mulai terlalu penuh. Koleksi terakhir dari ruangan ini adalah piringan hitam produksi asli lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sebuah sejarah yang nyaris terlupakan.

Ketika diajak mengunjungi Museum Benteng Heritage, harapan saya adalah bisa menemukan cerita sejarah Cina Peranakan di Tangerang, atau di Indonesia. Memang hanya sedikit cerita tentang Cina Peranakan di museum ini, seperti cerita tentang Kecap Benteng, perjalanan armada Cheng Ho yang dicurigai merupakan cikal bakal Cina Peranakan di Tangerang, dan cerita budaya seputar Cina Peranakan. Tetapi, yang saya dapatkan lebih dari yang saya harapkan. Cerita tentang bagaimana seorang Udaya Halim merestorasi sebuah bangunan klasik, passionnya untuk berburu barang-barang bernilai sejarah, dan melihat koleksi serta bangunan Museum Benteng Heritage, buat saya itu lebih dari yang saya harapkan.

Harapan saya untuk Museum Benteng Heritage, semoga kita bisa mencari tahu asal usul bangunan tersebut. Akan sangat menarik untuk mengetahui asal usul bangunan Museum Benteng Heritage, mengingat sangat jarang saya menemukan relief tentang Kwan Kong.

Informasi seperti jam operasional dan alamat bisa dilihat di situs web Museum Benteng Heritage. Disarankan untuk melakukan konfirmasi terlebih dahulu sebelum kunjungan, karena museum sering digunakan untuk acara tertentu.

Lari Pagi di Pantai Keramas, Gianyar, Bali

Kalau ada kontes tempat lari pagi yang terbaik, saya akan memilih pantai sebagai tempat yang terbaik. Lari di Pantai lebih sederhana dibandingkan tempat lain. Tidak perlu menggunakan sepatu, karena justru pasir yang masuk ke sepatu akan membuat kaki lecet. Suara ombak bisa menggantikan ipod. Dan Pantai Keramas di Gianyar, Bali, tidak kekurangan pemandangan untuk mengurangi rasa lelah.

Black Sands at Keramas Beach
Pasir hitam lembut di Pantai Keramas, diselingi oleh kerikil tajam

Rute saya pagi ini dimulai dari tempat saya menginap di Komune Resorts & Beach Lounge, tepat didepan Pantai Keramas Gianyar. Pantai Keramas ini berpasir hitam, bukan putih seperti pasir di Pantai Kuta atau Sanur. Saya curiga ini adalah debu vulkanik dari Gunung Agung yang meletus di tahun 1963-1964. Ditambah lagi, ada beberapa batu lava dan kerikil tajam tersebar di bentangan pasir hitam.

New Face of Pantai Keramas
Vila dan bangunan komersial lainnya mulai bermunculan di Pantai Keramas

Saya berlari ke arah barat. Di sisi kanan sudah mulai ada beberapa bangunan menghadap ke Pantai Keramas. Bangunan ini di dominasi oleh Vila, walaupun ada beberapa yang berupa bangunan hotel komersial.

Stone Farmer
Petani batu sedang mengumpulkan batu-batu kerikil

Anehnya, di Pantai Keramas yang terkenal sebagai pantai untuk berselancar, saya tidak menemui seorang pun berselancar di laut. Keramaian Pantai Keramas justru didominasi oleh penduduk lokal yang memilah-milah batu kerikil, atau menggiring bebek jalan-jalan di pantai. Dan ternyata, bebek-bebek ini juga cukup pandai berselancar dengan badannya.

Natural Surfer
Bebek-bebek ini adalah peselancar alami

Berlari di Pantai Keramas harus cukup hati-hati. Bukan karena tidak aman, tapi karena cukup banyak kerikil tajam bertebaran di sepanjang pantai. Cukup sakit kalau tidak sengaja terinjak. Terkadang saya berlari tepat di atas air untuk menghindari kerikil ini. Lagipula, cukup menyenangkan lari diatas pecahan air.

Sunrise at Pantai Keramas
Matahari Terbit di sisi Timur Pantai Keramas

Matahari sudah cukup tinggi ketika saya berputar balik kembali ke Komune Resorts. Seperti biasa, matahari pagi memberikan ekstra energi untuk melanjutkan lari. Ditambah, pasir hitam yang basah oleh air laut memberikan refleksi yang layak menjadi foto kartu pos.

Pool-side ComfortTidak banyak perubahan aktifitas di Komune Resorts ketika saya tiba kembali. Seperti biasa, pagi hari selalu mulai lebih lambat di Bali. Setelah mandi dengan air hangat, tidak ada rasanya yang lebih nikmat untuk melengkapi energi pagi selain secangkir kopi hangat di tepi kolam.