Tag Archives: go-jek

GO-JEK, Penghasilan dan Revolusi Transportasi

Bicara tentang transportasi, rasanya kurang lengkap kalau tidak membahas tentang GO-JEK. GO-JEK telah melakukan revolusi transportasi di Jakarta dengan jasa panggilan ojek-nya. Bukan hanya ojek-ojek pangkalan yang merasa tersaingi, tapi juga perusahaan taksi seperti Blue Bird merasa terancam dengan keberadaan GO-JEK.

Selama ini saya hanya menggunakan jasa layanan GO-JEK untuk beli makan siang, mengambil barang dari sebuah tempat, atau membelikan barang tertentu. Baru 2 hari yang lalu saya menggunakan jasa GO-JEK untuk transportasi dari rumah di Pamulang menuju stasiun kereta. Biasanya saya menggunakan angkot, dan membayar total 9.000 rupiah. Dengan menggunakan tarif promo GO-JEK, saya hanya membayar 10 ribu rupiah, dan bisa tiba di stasiun lebih cepat. Sepanjang perjalanan saya berbincang-bincang dengan pak supir GO-JEK.

“Lagi ngejar kereta pak?” Tanya abang GO-JEK. “Ah nggak, santai saja. Kereta sekarang jadwalnya cukup banyak. Ngomong-ngomong udah lama pak ikut GO-JEK?” Jawab saya.

“Belum lama. Baru saja gabung GO-JEK. Makanya saya belum sempat ambil helm dan jaket.” Saat itu si abang GO-JEK memang menggunakan jaket dan helm biasa. “Lumayan deh pak buat tambah-tambah penghasilan”, tambahnya.

Banyak cerita tentang penghasilan supir GO-JEK yang spektakuler. “Emang bener bang bisa dapet penghasilan lumayan?”, tanya saya. “Yah, kalo cuma 200 ribu per hari sih gampang”, jawab abang GO-JEK. Dengan asumsi narik setiap hari kecuali hari Minggu, dan penhasilan 200 ribu per hari, total penghasilan sebulan bisa mencapai 5 juta rupiah. Lumayan.

Lalu, gimana caranya dapet 200 ribu per hari? “Gampang pak. Sekali narik ke Sudirman kita dapat 100 ribu. Abis itu tinggal ngeteng. Bawa penumpang dari Sudirman ke Blok M, Blok M – Pondok Indah, Pondok Indah – Ciputat. Setengah hari dapet deh 200 ribu”, jawab si abang GO-JEK.

Wow…..

“GO-JEK masih dimusuhin gak sih bang sama ojek pangkalan?” Tanya saya lagi. “Kalau di Pamulang sih gak terlalu. Justru ojek pangkalan banyak yang akhirnya ikut gabung GO-JEK. Rugi deh mereka kalau gak gabung. Kelamaan nunggu giliran di pangkalan ojek”, jawabnya.

“Justru yang sekarang merasa tersaingi taksi pak”, lanjut si abang GO-JEK. “Udah tarif GO-JEK cuma 10 ribu, trus lebih cepat dari taksi.” Beberapa hari yang lalu memang saya mendengar sebuah artikel tentang privasi yang membandingkan perusahaan taksi dan GO-JEK. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga sih.

“Tapi ya, GO-JEK ikut membantu mengurangi kemacetan Jakarta”, pembicaraan pun berlanjut. “Banyak yang akhirnya tidak bawa mobil sendiri, dan pilih naik GO-JEK.”

Akhirnya kami tiba di stasiun, lebih cepat dari naik angkot. Sambil menyerahkan uang 10 ribu sebagai tarif promo GO-JEK, saya berharap semoga revolusi transportasi yang dilakukan GO-JEK tetap berlanjut ketika tarif promo berakhir. Paling tidak, bisa memberikan kesejahteraan lebih untuk para pengemudi GO-JEK