Tag Archives: outing

Semalam di Perkebunan Organik BSP Farm Sukabumi

“Kemping? Nggak ah”

Keengganan saya terhadap kemping mungkin berakar dari kegiatan ospek masa kuliah di bumi perkemahan di luar kampus. Efeknya sampai sekarang, saya jadi enggan untuk kemping.

“Tapi ini kemping priyayi. Segala macam disiapkan, lengkap dengan makanan, kamar mandi, toilet”, jawab teman saya.

Tetap saja, ketika akhirnya berkesempatan untuk menginap di BSP Farm Sukabumi, saya memilih tidur di kamar

Camping Ground
Tempat kemping di BSP Farm. Tenda di kiri adalah tempat tidur, sedangkan yang sebelah kanan adalah tempat makan

Setelah perjalanan sekitar 1 jam dari Kota Bogor, kami berempat sampai di pintu gerbang besi BSP Farm. Di balik pintu gerbang ada sebuah bangunan wisma berwarna putih. Kami disambut oleh petugas BSP Farm, dan diantar berkeliling bangunan Wisma tempat kami menginap. Setelah meletakkan barang-barang di kamar, datang sebuah suguhan air sereh dan pisang goreng di ruang makan.

“Silahkan beristirahat dan menikmati peganan ini. Kalau nanti mau keliling, panggil saya ya di bawah”. kata petugas BSP Farm. Tapi sesungguhnya, siapa yang rela untuk meninggalkan ruang makan dan teras seperti ini?

Best Place for Tea Time

Pintu masuk utama Wisma BSP Farm terletak di lantai 2. Dari pintu masuk, pengunjung bisa langsung melihat pemandangan lereng gunung salak melalui ruang makan dan teras. Ada sebuah aula yang bisa menampung 20-40 orang, lengkap dengan proyektor dan layar. Sebuah meja makan besar dari kayu berwarna hitam terletak di ruang makan di seblah aula. Di ruang makan ini juga tersedia alat penyeduh kopi dan teh.

Ruangang yang paling diperebutkan barangkali ruang duduk di sebelah ruang makan. Terdapat 3 buah sofa bed yang menghadap langsung ke teras dan Gunung Salak.

Setelah matahari sedikit turun, kami jalan menyusuri perkebunan organik. Di kiri kanan berjejer rapi gundukan tanah berbentuk persegi panjang. Beberapa ditanami bermacam-macam sayuran, muali dari Jagung Selada, Sawi, Pak choy, dll. “Yang lain baru mau ditanam”, menurut pemandu kami.

Not a Walk in the Part
Kebun sayur organik

DI ujung lokasi penanaman sayur, ada kawat jala yang dipasang berbentuk melingkar menuju sebuah gubuk kecil. “Free range chicken”, tebak kami, dan ternyata betul. “Ini kandang untuk piara ayam. Telurnya untuk di makan, dan kotorannya untuk pupuk”, jelas pemandu kami.

Free Range Chicken

Kembali dari kebun sayur organik, perjalanan dilanjutkan melintasi perkebunan salak. Pohon salak berjejer rapat menutup cahaya matahari. Kira-kira 50 cm dari tanah, buah salak terlihat menggumpal, siap untuk dipetik. Lalu, apakah ada bedanya antara salak yang dimakan langsung dari pohon dengan salak di supermarket atau pasar? Jelas ada. Salak pohon ini rasanya lebih manis dan lebih renyah.

Snakefruit
Buah salak langsung dari pohonnya di BSP Farm. Rasanya lebih renyah dan manis

Dari kebun salak perjalanan dilanjutkan melalui perkebunan kopi. Saat ini bukan sedang musim panen kopi, sehingga buah kopi yang ada masih terlihat hijau. Di ujung jalan pemandu kami terlihat sedang membuka bak besar berisi air yang sangat bening.

“Ini air untuk irigasi?” Tanya saya

“Bukan. Ini air yang dipakai di wisma untuk kamar mandi”, jawab pemandu kami

“Asalnya dari mana? Pompa tanah?” tanya saya lagi. Air dalam bak ini terlihat sangat bening, seperti air di bak penampung yang lebih besar di dekat kebun sayur organik.

“Bukan. Ini air dari gunung. Ada beberapa bak air seperti ini di atas. Air ini diendapkan di atas, lalu bagian atasnya dialirkan ke bawah, diendapkan kembali, dan seterusnya hingga menjadi bening seperti ini”, pemandu kami menjelaskan.

Beberapa langkah kemudian kami tiba di sebuah pondokan yang disewakan. Di sebelah pondokan ini terdapat bak air lainnya. Ukuran dan beningnya air membuat saya ingin berenang rasanya. Pastinya akan sangat segar.

Not a Swimming Pool
Ini bukan kolam renang. Ini adalah bak penampung air

Hari masih terang ketika kami kembali ke wisma. Kami pun lanjut menikmati pisang goreng dan air sereh. Saya sendiri, karena tergoda dengan air gunung yang bening, memutuskan mandi lebih awal. Segar rasanya mandi dengan air pegunungan yang dingin.

Tak lama kemudian petugas wisma menghidangkan makan malam kami. Entah karena lapar, makanan yang enak, atau suasana gunung yang dingin, kami makan dengan lahap. Semur yang dihidangkan dimasak sendiri oleh pemilik wisma. Organik atau bukan, rasanya enak.

Hearty Dinner
Makan malam sederhana, tapi enak. Mungkin karena suhu di BSP Farm malam itu cukup dingin

Selepas makan malam, Ethan yang sepetinya kelelahan setelah jalan di kebun, minta tidur lebih awal, sehingga kami memutuskan juga untuk tidur lebih awal. Lagipula, besok pagi kami masih berencana untuk jalan pagi. Jadi, tidur lebih awal seprtinya ide yang cukup baik.

Hanya saja, kamar kami terasa panas, kontras apabila dibandingkan dengan suhu di luar ruangan yang cukup dingin. Memang, kamar kami memiliki sebuah jendela yang bisa dibuka, tapi kami khawatir kalau ada serangga yang masuk. Kelelahan dan kekenyangan, saya pun akhirnya tertidur pulas.

Foto-foto lainnya di BSP Farm Sukabumi bisa dilihat di album foto di tautan ini. Reservasi dan informasi lainnya bisa di lihat di situs BSP Farm