Tag Archives: tangerang

Museum Benteng Heritage, Tangerang

The Original Recording of Indonesia Raya“Ini adalah sejarah Indonesia yang terlupakan”, ucap Pak Han Han, pemandu museum seraya memperlihatkan sebuah keping piringan hitam. Diatas kepingan tersebut tertulis “Indonesia Raja”, yang merupakan ejaan lama dari Indonesia Raya. Piringan tersebut adalah piringan asli lagu Indonesia Raya, yang direkam di studio milik Yo Kim Tjan pada tahun 1927, dan diproduksi menjadi piringan hitam di Inggris. Museum Benteng Heritage adalah sebuah hasil restorasi sebuah bangunan peranakan yang terletak di tengah Pasar Lama Tangerang. Bangunan ini diperkirakan berusia 300 tahun. Pemilik museum, Pak Udaya Halim, membeli bangunan ini pada tahun 2009, dengan tujuan untuk melestarikan bangunan berarsitektur Tionghoa di titik nol kota Tangerang. “Supaya tidak menjadi ruko”, cerita Pak Han Han. Bersama adiknya, Pak Udaya berusaha mengembalikan bangunan ini ke bentuk aslinya. Bukan usaha yang mudah, karena catatan sejarah sangat minim. Sumber sejarah mayoritas berasal dari catatan kuil Boen Tek Bio, yang kurang lebih berusia sama dengan bangunan ini.

Teracotta Tile
Lantai asli bangunan museum terbuat dari teracotta

“Tidak jelas fungsi awal bangunan ini untuk apa”, Ibu Airin yang juga salah satu pemandu kami hari itu menjelaskan. Sambil menunjuk ke atas, beliau melanjutkan: “Tapi, melihat dari relief perjalanan Kwan Kong di atas, diperkirakan bangunan ini adalah tempat perkumpulan komunitas.” Terus terang, sebagai penggemar cerita 3 kerajaan, relief tentang Kwan Kong ini menarik perhatian saya. “Relief ini bercerita tentang Kwan Kong yang mencari saudaranya yang ditahan oleh Cao Cao.”, lanjut Ibu Airin. Yang juga cukup menarik adalah tehnik pewarnaan relief ini. Relief tentang Kwan Kong ini diwarnai dengan potongan keramik yang ditempel. “95% dari keramik yang ditempel ini adalah asli. Sisanya yang copot telah kami ganti”, cerita Ibu Airin.

Kwan Kong Relief
Relief Kwan Kong dari cerita 3 kerajaan. Sebuah harta karun yang ditemukan ketika proses restorasi

Di ruangan bagian depan Museum Benteng Heritage, di dalam lemari yang berbentuk botol kecap, terdapat beberapa botol kecap buatan Tangerang. “Pernah dengan kecap Benteng? Dulu di Tangerang ini banyak sekali pabrik kecap. Sekarang hanya tersisa sedikit”, cerita Ibu Dessy, pemandu kami di ruang depan. Sebelum ke museum, kami jalan-jalan melewati pabrik kecap Teng Giok Seng. Pabrik kecap Teng Giok Seng adalah pabrik kecap tertua di Tangerang, beroperasi sejak tahun 1882. Artinya, usianya sudah lebih dari 130 tahun! “Troli dorongnya saja masih dari kayu”, lanjut Ibu Dessy sambil memperlihatkan video rekaman produksi kecap di Pabrik Siong Hin, salah satu pabrik kecap benteng di Tangerang yang masih beroperasi. Kalau mampir ke Pasar Lama Tangerang, jangan lupa bawa pulang oleh-oleh kecap. Dijamin unik. Museum Benteng Heritage juga menjual versi khusus dari kecap Siong Hin, lebih dikenal dengan merk SH.

Ruangan terakhir di pandu oleh Pak Han Han sendiri. “Ruangan ini adalah milik pribadi Pak Udaya, tidak dibuka untuk umum. Khusus hari ini, ada instruksi dari Pak Udaya untuk memperlihatkan ruangan ini”, ucap Pak Han Han. Ruangan ini didominasi kamera kuno, yang merupakan hobi Pak Udaya. Beberapa koleksi pemutar musik kuno (Gramaphone) juga mulai mengisi ruangan yang terlihat mulai terlalu penuh. Koleksi terakhir dari ruangan ini adalah piringan hitam produksi asli lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sebuah sejarah yang nyaris terlupakan.

Ketika diajak mengunjungi Museum Benteng Heritage, harapan saya adalah bisa menemukan cerita sejarah Cina Peranakan di Tangerang, atau di Indonesia. Memang hanya sedikit cerita tentang Cina Peranakan di museum ini, seperti cerita tentang Kecap Benteng, perjalanan armada Cheng Ho yang dicurigai merupakan cikal bakal Cina Peranakan di Tangerang, dan cerita budaya seputar Cina Peranakan. Tetapi, yang saya dapatkan lebih dari yang saya harapkan. Cerita tentang bagaimana seorang Udaya Halim merestorasi sebuah bangunan klasik, passionnya untuk berburu barang-barang bernilai sejarah, dan melihat koleksi serta bangunan Museum Benteng Heritage, buat saya itu lebih dari yang saya harapkan.

Harapan saya untuk Museum Benteng Heritage, semoga kita bisa mencari tahu asal usul bangunan tersebut. Akan sangat menarik untuk mengetahui asal usul bangunan Museum Benteng Heritage, mengingat sangat jarang saya menemukan relief tentang Kwan Kong.

Informasi seperti jam operasional dan alamat bisa dilihat di situs web Museum Benteng Heritage. Disarankan untuk melakukan konfirmasi terlebih dahulu sebelum kunjungan, karena museum sering digunakan untuk acara tertentu.