Category Archives: #wellness

Diet Kentang (aka. Potato Diet), It is OK to Cheat

“Diet yang paling berhasil itu adalah diet yang berhasil dipertahankan. Dan terkadang, it is OK to cheat to sustain the diet.”

FIlosofi di atas saya dapatkan setelah beberapa hari melakukan diet kentang. Jadi, di suato sore yang cerah, mendadak saya kepengen makan Nasi Goreng Aceh di kantin kantor.

Tentu saja Nasi Goreng tidak termasuk menu diet kentang, yang notabene hanya makan kentang. Tapi, bau nasi goreng dan telur dadar diatasnya, bumbu nasi goreng yang tajam, dan irisan bawang merah acar tetap memanggil-manggil.

Dan akhirnya saya mengalah. Setengah jam kemudian sepiring Nasi Goreng Aceh terhidang di depan saya. Setelah beberapa hari makan kentang tanpa minyak dan bumbu, bau dan rasa Nasi Goreng dengan telor dadar ini terasa lebih nikmat.

Beberapa jam kemudian, setelah tiba di rumah, barulah saya merasakan efek Nasi Goreng Aceh tersebut. Perut saya terasa begah, terasa penuh, meskipun sudah hampir 4 jam sejak saya menghabiskan nasi goreng tadi. Mungkin, karena perut yang tidak biasa menerima makanan berminyak dan berbumbu, sehingga bakteri di perut kebingungan, minyak-minyak ini akan diapakan.

Hal ini tentu saja menambah motivasi untuk melanjutkan diet kentang keesokan harinya.  Mungkin, kalau saya tidak mengalah untuk makan nasi goreng, dan merasakan perut yang kacau balau, bisa jadi saya sudah kehilangan motivasi untuk melanjutkan diet kentang. Makan menu yang sama selama 3-4 hari, siang dan malam, tentu saja membosankan. Dan sama seperti diet dan hal-hal lainnya, motivasi itu perlu.

Agama bisa menjadi sebuah motivasi yang sangat kuat. Banyak orang yang sukses menjadi seorang vegetarian karena alasan agama, meskipun sebelumnya pernah makan makanan non vegan. Tapi buat saya yang melakukan diet kentang bukan karena alasan agama, dperlukan motivasi yang lain.

Motivasi untuk hidup lebih sehat buat saya dan kebanyakan orang terkadang tidak cukup kuat.  Terkadang banyak godaan, baik makanan serperti nasi goreng, maupun situasi seperti kumpul-kumpul dengan keluarga atau teman.  Untuk itu, it is OK to cheat. Selama kita tetap kembali pada diet yang kita jalankan, cheating will make the diet last longer.

91 Hari Meditasi

Hari ini tepat 91 hari saya melakukan meditasi harian secara berturut-turut. Kurang lebih 3 bulan, tanpa jeda, saya melakukan meditasi setiap hari, meskipun sedang dalam perjalanan, dalam kondisi pekerjaan yang sibuk, dan ketika ada anggota keluarga yang dirawat di rumah sakit.

Photo by Peter Hershey from Unsplash

Lalu, apa manfaat yang saya dapatkan dari latihan meditasi rutin?

Beberapa hari yang lalu, Grace bercerita tentang seorang teman, yang pernah ikut latihan meditasi. Grace bercerita tentang praktisi meditasi tingkat lanjut dengan menggunakan analogi sebuah kaca. “Seperti kaca, transparan terhadap cahaya. Kalau ada sesuatu kejadian, misalnya mbilnya disalip di jalan, dia hanya menarik nafas tanpa ngomel.”

Tentu saja, dalam hanya 91 hari, saya belum mencapai tahap “seperti kaca” tersebut. Tapi jelas terasa bahwa emosi menjadi cukup stabil. Terkadang saya masih menggunakan suara tinggi dalam beberapa meeting di kantor. Tapi sebagian besar adalah nada tinggi yang terkontrol, dengan suatu tujuan. Atau di jalan, beberapa kali berhasil menarik nafas panjang saya ketika disalip dari belakang. Atau ketika anak terlambat bangun untuk sekolah, saya hanya mengambil nafas dan memnutuskan kalau dia tidak usah sekolah. Tentu, dia masih mendapat sedikit tindakan disiplin.

Untuk merayakannya, saya memulai kolom #meditasi di blog ini. Niat selanjutnya adalah untuk melanjutkan latihan meditasi harian ini hingga 1 tahun, 365 hari. Semoga suatu saat saya bisa mencapai kondisi “seperti kaca”, transparan, dan tenang.

Green Smoothies Nanas-Vinegar

Salah satu kegunaan hasil panen hidroponik adalah untuk bahan green smoothies. Green smoothies menjadi pilihan saya untuk bekal ke kantor, sebagai snack antara sarapan dan makan siang.

Green smooties of hydroponic Pak Choy

Berikut ini salah satu resep green smoothies yang paling sering saya buat:

  1. Pak Choy/Romaine Lettuce, tergantung panen yang ada
  2. Satu sendok makan Apple Cider Vinegar/Cuka Apel
  3. Nanas yang sudah dipotong-potong, secukupnya
  4. Air matang sekitar 50-100ml

Sayur setelah dicuci lalu dipotong-potong sebelum dimasukkan ke blender. Lalu tambah Nanas, Cuka Apel dan terakhir air matang. Blender semua bahan selama 1-2 menit, lalu tuang di dalam botol vacuum. Tambahakan es batu, dan green smoothies siap di bawa dan dikonsumsi hingga 5-6 jam kemudian.

Solitude

In response to WordPress Photo Challenge: Solitude

In this crowded world or people and gadget, I find my solitude in running and cycling.

Solitude in BSD

I can run with fellow friends, in a race with spectators, or cycling with friends. But for much of the time during the run, I’m always busy with my own thought. It is the time when I can think, or let the mind wander to find some ideas, or solution.

Nginep Di Sentul? Ya Lari Pagi Dong

Dengan udara pegunungan yang dingin dan bersih, Sentul memang punya daya tarik sendiri sebagai tujuan untuk sepedaan di hari minggu, atau lari pagi. Tapi, kalau disuruh nyetir dari Jakarta, rasanya kok daya tariknya jadi berkurang ya. Apalagi kalau setelah lari atau sepedaan masih harus nyetir pulang. Beban.

Beda ceritanya kalau lagi menginap di Sentul. Meskipun bangun kesiangan seperti beberapa minggu yang lalu, rasanya sayang kalau kesempatan lari pagi di pegunungan dilewatkan begitu saja.

Not at Car Free Day

Matahari sudah tinggi, namun udara masih cukup dingin pada jam 6:30, ketika saya keluar dari hotel memasuki Jalan Jend. Sudirman. Meskipun memiliki nama sama, Jalan Jend. Sudirman di Sentul tidak seramai Car Free Day di Jakarta. Terlihat beberapa orang sedang olah raga jalan kaki, lari, dan sebagian lainnya hanya bercengkrama di atas motor mereka. Di sebuah jembatan darurat, Pak Ogah dengan sigap membantu motor-motor yang lalu lalang.

Morning at the Factory

Dari Jalan Jend. Sudirman rute lari memasuki jalan raya Sentul. Lalu lintas kendaraan bermotor masih sepi. Sesekali beberapa sepeda dalam formasi peloton melewati saya sambil menyapa. Ada juga yang hanya sekedar lewat. Hanya sekali saya menyalip sebuah sepeda. Si pengendara sedang duduk di atas rumput sambil makan. “Selamat pagi”, sapa saya. Beberapa ratus meter kemudian, sepeda tersebut kembali melewati saya sambil menyapa, “Mari Pak”. Saya hanya mengangkat tangan.

Downhill

Tidak lama kemudian, Jalan Raya Sentul mulai menunjukkan tantangan di balik rute lari yang bagus: Tanjakan dan turunan. Tanjakan dan turunan menjdai momok bagi yang sedang mengejar jarak dan kecepatan, tetapi justru dicari oleh yang sedang berlatih untuk marathon atau trail. Untungnya udara yang segar dan pohon yang teduh membuat tanjakan dan turunan ini menjadi tidak terasa berat. Ditambah lagi view gunung di kejauhan, ikut membantu mengalihkan perhatian ke nafas yang semakin pendek.

Mountain View

Setelah melewati gerbang utama perumahan Sentul City, elevasi tanjakan semakin curam. Saya berhenti sejenak di dekat sebuah papan petunjuk untuk mengambil nafas dan memastikan waktu. Karena sudah cukup siang dan mulai panas, saya memutuskan untuk kembali ke hotel. Jarak menunjukkan 4.1 km, sehingga total jarak tempuh akan sekitar 8 km. Not too bad.

Through the Empty Road

Sampai di persimpangan Jalan Sudirman menuju hotel, terlihat kalau pintu masuk tol tidak terlalu jauh. Saya pun memutuskan untuk melanjutkan sedikit ke arah tol.

Can Runners Enter?

Tidak ada larangan memang untuk masuk ke jalan tol untuk pelari, asal jangan bawa gerobak. Tapi tidak ada tarif tol yang tercantum di pintu tol. Jadi ya sudah, saya kembali ke Jalan Sudirman dan hotel tempat saya menginap. Detour ke jalan tol ini menambah jarak temput total menjadi hampir 9 km. Untuk rute-nya bisa di lihat di tautan ini.